April 13, 2014

Missing Star




KRIIIINGGG
Bel tanda usai pelajaran ketiga berbunyi, menandakan datangnya jam istirahat.
“Baiklah semuanya, jangan lupa tugas mengarang kalian ya,” ucap guru Bahasa mengingatkan.
“Baik, bu,” jawab semua murid lantang.
“Ingat, temanya tentang masa kecil kalian,” jelas bu guru sekali lagi.
“Baiik,” ucap semua murid sekali lagi. Lalu, bu gurupun keluar kelas. Suasana riuh mulai mendatangi kelas 2-1.
Tanpa memperdulikan suara-suara itu, aku merapikan buku-bukuku lalu pergi ke kantin. Setelah membeli makanan, aku segera mencari tempat duduk. Sayangnya, hampir seluruh kursi yang ada di sana sudah penuh.
“Setsu!!” teriak seseorang padaku. Dari suara dan cara memanggilnya, aku sudah tau, itu pasti DIA.
“Di sini kosong, kok,” lanjutnya sambil tersenyum. Di sebelahnya, duduk dua orang lain yang diketahui bernama Ryuuji Kousaka dan Tatsuzawa Nanami, yang sedang asyik mengobrol dengannya. Setelah menghela nafas, aku pun mulai berjalan ke tempatnya.
“Eh, eh, masa kecilmu seperti apa sih, Rena?” tanya Tatsuzawa padanya, yang sedang melahap roti kare miliknya.
“Hmm… Entahlah, aku tidak begitu ingat tuh,” dia berkata sambil tertawa kecil.
“Yaah, kok begitu, sih?” ucap Tatsuzawa kecewa. Dia yang mendengarnya hanya tertawa.
“Kalau Setsu?” Dia bertanya padaku, yang daritadi tidak menyimak pembicaraan mereka. “Bagaimana masa kecilmu?” lanjutnya.
“Dari kecil kau pasti sudah pendiam seperti ini ya,” terka Tatsuzawa.
“Tidak juga,” ucapku singkat.
“Eeh? Masa’ sih?” Tatsuzawa menunjukkan wajah kecewanya sekali lagi. Yang lain pun tertawa kecil. “Lalu, kenapa kau-“
KRIIIIIINGGGG
Bel tanda istirahat selesai berbunyi. Kami pun segera pergi dari kantin dan menuju ke ruang kelas.
“Jadi?” tanyanya tiba-tiba saat kami sedang berjalan menuju kelas. Ryuuji dan Tatsuzawa pergi ke laboratorium, karena kelas mereka berbeda dengan kami, dan karena pelajaran mereka setelah istirahat adalah pengetahuan alam.
“Jadi apa?” aku balik bertanya.
“Masa kecilmu, loh,” ucapnya sambil pura-pura sebal.
“Oh,” jawabku. Ia lalu melihatku sebentar.
“Baiklah kalau kau sebegitu tidak inginnya cerita,” ucapnya menyerah.

*Missing_Star*

                          Aku sama sekali tidak dapat konsentrasi belajar setelah perbincangan di kantin tadi.
                          “Kalau Setsu? Bagaimana masa kecilmu?”
                          Masa kecil? Seingatku, masa kecilku tidak begitu menyenangkan. Orangtuaku selalu sibuk, temanpun tidak ada.
                          ‘Setsu!’
                          Tiba-tiba sebuah suara terngiang di kepalaku. Suara anak kecil yang sepertinya kukenali. Kalau tidak salah, suara itu…
_Ten Years Ago_
                          “Kau sendirian saja?” tanya seseorang padaku. Aku segera menghentikan ayunanku, lalu mengangguk tanpa melihat ke arahnya.
                          “Hee.. Kemana teman-temanmu?” tanyanya lagi.
                          “Aku.. tidak punya teman,” jawabku pelan.
                          “Eh? Benarkah?” pertanyaannya kali ini tidak kujawab.
                          “Hmm.. Baiklah kalau begitu! Mulai hari ini, aku akan jadi temanmu!” ucapnya sambil tersenyum manis. Mendengar hal ini, aku tersentak dan akhirnya melihat ke arahnya, ke arah seorang gadis seusiaku yang sedang berdiri tepat di depanku. Perlahan, ia mengulurkan tangannya padaku.
“Namaku Rena, salam kenal!”

*Missing_Star*

                          “Ooh, jadi namamu Setsuna,” ucap gadis itu padaku, yang kujawab dengan anggukan.
                          “Kalau begitu, kupanggil Setsu saja, ya?” pintanya.
                          “Eh?”
                          “Tidak boleh, ya?”
                          “Tidak apa, kok. Hanya saja-“ aku menghentikan kalimatku.
                          “Hanya saja apa?” tanyanya heran.
                          “Hanya saja, belum pernah ada yang memanggilku seperti itu sebelumnya,” ungkapku jujur.
                          “Tidak apa-apa kok.” Ia berkata sambil tersenyum. “Sekarang kita main, yuk!”
                          Lalu, kami pun bermain bersama di taman tempat kami berada sekarang. Sejak hari itu, kami selalu bermain bersama di tempat yang sama pula. Semakin hari, kami semakin dekat. Hingga suatu hari…
                          “Maaf terlambat!” ucapku pada gadis di depanku.
                          “Rena..?” aku bertanya pada gadis yang sedang menunduk itu.
                          “Setsu,” ia memanggilku.
                          “…Kenapa, Rena?”
                          “Besok, aku harus pulang ke rumahku.” Aku tersentak mendengarnya.
                           “Kenapa..? Bukankah rumahmu di-“
                          “Rumahku ada di kota yang sangat jauh darisini.” Ia langsung memotong ucapanku.
                          “Tapi, kita ‘kan sudah janji akan bersama selamanya,” aku mencoba mencari alasan.
                          “…af,” ucapnya samar-samar.
                          “Maafkan aku, Setsu!” ulangnya, lalu pergi meninggalkanku yang berdiri diam disana.
                          “Rena..”

*Missing_Star*

                          Keesokan harinya, aku menunggunya seperti biasa di taman. Hanya saja, ia tak kunjung datang, walaupun aku sudah menunggunya selama 2 jam.
                          “Besok, aku harus pulang ke rumahku.” Kalimat itu terus-terusan mengganggu pikiranku. Aku sangat tidak ingin kehilangan temanku satu-satunya.
                          “Rena..” ucapku pelan. Saat itu, tiba-tiba aku melihat sesuatu menyembul dari semak-semak di dekat ayunan, tempat pertama aku bertemu dengannya.
                          Aku segera berlari ke sana, lalu mengambil benda yang ternyata sebuah kotak dan membukanya. Di dalamnya terdapat secarik kertas- dan di bawah kertas itu, terdapat sebuah gantungan kunci berbentuk bintang. Setelah melihat gantungan itu, akupun membaca tulisan di kertas itu.
‘Walaupun kita berpisah jauh, aku akan tetap mengingatmu. Karena itu, bersabarlah hingga kita bertemu kembali’
_End of flashback_
                          Iya juga ya, saat itu ada seorang gadis yang seperti itu. Sekarang kira-kira ia ada dimana, ya?
                          “Kau memikirkan apa sih, Setsu?” panggil gadis di sebelahku. Tanpa sadar, sekarang pelajaran sekolah sudah berakhir, dan aku sedang berjalan pulang bersama dengan.. emm.. pacarku. Tunggu, kalau tidak salah, nama gadis itu kan…
                          “Apa dulu kita pernah bertemu?” tanyaku spontan, tanpa berpikir lagi.
                          “Eh? Maksudmu?” ia malah bertanya balik padaku.
                          “… Sudahlah lupakan saja,” ucapku sambil terus berjalan. Tanpa kusadari, ia, yang sedikit tertinggal dibelakangku, tersenyum kecil.
                          “Setsu,  boleh tidak, kita mampir ke suatu tempat?”

*Missing_Star*

                          “Sudah lama aku tidak kemari!!” ucapnya agak lantang saat kami tiba di sebuah taman. Kalau aku tidak salah, taman ini ‘kan…
                          “Setsu, sini!!” ia memanggilku ke bawah pohon di tengah taman. Di sekeliling pohon terdapat semak-semak. Di sanalah aku menemukan kotak berisi gantungan kunci sepuluh tahun yang lalu.
                          “Sepuluh tahun yang lalu, aku pernah berteman dengan seorang anak laki-laki disini. Tapi, aku harus berpisah dengannya.” Kata-kata ini membuatku terkejut.
                          “Jangan-jangan-” Aku menggantungkan kalimatku, membuatnya tersenyum.
                          “Lama tak jumpa, Setsu!”  

Author notes :
Eeh.. ini cerita 'agak' lama, jadi masih belum terlalu bagus juga penulisannya (sepertinya sih)..Mohon maaf jika ceritanya biasa aja dan kurang berkenan.. namanya juga lagi pengen nge-post.. hehe.. buat yang baca, makasih atas pembacaannya :D