KRIIIINGGG
Bel tanda usai pelajaran ketiga
berbunyi, menandakan datangnya jam istirahat.
“Baiklah semuanya, jangan lupa
tugas mengarang kalian ya,” ucap guru Bahasa mengingatkan.
“Baik, bu,” jawab semua murid
lantang.
“Ingat, temanya tentang masa kecil
kalian,” jelas bu guru sekali lagi.
“Baiik,” ucap semua murid sekali
lagi. Lalu, bu gurupun keluar kelas. Suasana riuh mulai mendatangi kelas 2-1.
Tanpa memperdulikan suara-suara
itu, aku merapikan buku-bukuku lalu pergi ke kantin. Setelah membeli makanan,
aku segera mencari tempat duduk. Sayangnya, hampir seluruh kursi yang ada di
sana sudah penuh.
“Setsu!!” teriak seseorang padaku.
Dari suara dan cara memanggilnya, aku sudah tau, itu pasti DIA.
“Di sini kosong, kok,” lanjutnya
sambil tersenyum. Di sebelahnya, duduk dua orang lain yang diketahui bernama
Ryuuji Kousaka dan Tatsuzawa Nanami, yang sedang asyik mengobrol dengannya. Setelah
menghela nafas, aku pun mulai berjalan ke tempatnya.
“Eh, eh, masa kecilmu seperti apa
sih, Rena?” tanya Tatsuzawa padanya, yang sedang melahap roti kare miliknya.
“Hmm… Entahlah, aku tidak begitu
ingat tuh,” dia berkata sambil tertawa kecil.
“Yaah, kok begitu, sih?” ucap
Tatsuzawa kecewa. Dia yang mendengarnya hanya tertawa.
“Kalau Setsu?” Dia bertanya padaku,
yang daritadi tidak menyimak pembicaraan mereka. “Bagaimana masa kecilmu?”
lanjutnya.
“Dari kecil kau pasti sudah pendiam
seperti ini ya,” terka Tatsuzawa.
“Tidak juga,” ucapku singkat.
“Eeh? Masa’ sih?” Tatsuzawa
menunjukkan wajah kecewanya sekali lagi. Yang lain pun tertawa kecil. “Lalu,
kenapa kau-“
KRIIIIIINGGGG
Bel tanda istirahat selesai
berbunyi. Kami pun segera pergi dari kantin dan menuju ke ruang kelas.
“Jadi?” tanyanya tiba-tiba saat
kami sedang berjalan menuju kelas. Ryuuji dan Tatsuzawa pergi ke laboratorium,
karena kelas mereka berbeda dengan kami, dan karena pelajaran mereka setelah
istirahat adalah pengetahuan alam.
“Jadi apa?” aku balik bertanya.
“Masa kecilmu, loh,” ucapnya sambil
pura-pura sebal.
“Oh,” jawabku. Ia lalu melihatku
sebentar.
“Baiklah kalau kau sebegitu tidak
inginnya cerita,” ucapnya menyerah.
*Missing_Star*
Aku
sama sekali tidak dapat konsentrasi belajar setelah perbincangan di kantin
tadi.
“Kalau Setsu? Bagaimana masa kecilmu?”
Masa
kecil? Seingatku, masa kecilku tidak begitu menyenangkan. Orangtuaku selalu
sibuk, temanpun tidak ada.
‘Setsu!’
Tiba-tiba
sebuah suara terngiang di kepalaku. Suara anak kecil yang sepertinya kukenali.
Kalau tidak salah, suara itu…
_Ten Years Ago_
“Kau
sendirian saja?” tanya seseorang padaku. Aku segera menghentikan ayunanku, lalu
mengangguk tanpa melihat ke arahnya.
“Hee..
Kemana teman-temanmu?” tanyanya lagi.
“Aku..
tidak punya teman,” jawabku pelan.
“Eh?
Benarkah?” pertanyaannya kali ini tidak kujawab.
“Hmm..
Baiklah kalau begitu! Mulai hari ini, aku akan jadi temanmu!” ucapnya sambil
tersenyum manis. Mendengar hal ini, aku tersentak dan akhirnya melihat ke
arahnya, ke arah seorang gadis seusiaku yang sedang berdiri tepat di depanku.
Perlahan, ia mengulurkan tangannya padaku.
“Namaku Rena, salam kenal!”
*Missing_Star*
“Ooh,
jadi namamu Setsuna,” ucap gadis itu padaku, yang kujawab dengan anggukan.
“Kalau
begitu, kupanggil Setsu saja, ya?” pintanya.
“Eh?”
“Tidak
boleh, ya?”
“Tidak
apa, kok. Hanya saja-“ aku menghentikan kalimatku.
“Hanya
saja apa?” tanyanya heran.
“Hanya
saja, belum pernah ada yang memanggilku seperti itu sebelumnya,” ungkapku
jujur.
“Tidak
apa-apa kok.” Ia berkata sambil tersenyum. “Sekarang kita main, yuk!”
Lalu,
kami pun bermain bersama di taman tempat kami berada sekarang. Sejak hari itu,
kami selalu bermain bersama di tempat yang sama pula. Semakin hari, kami
semakin dekat. Hingga suatu hari…
“Maaf
terlambat!” ucapku pada gadis di depanku.
“Rena..?”
aku bertanya pada gadis yang sedang menunduk itu.
“Setsu,”
ia memanggilku.
“…Kenapa,
Rena?”
“Besok,
aku harus pulang ke rumahku.” Aku tersentak mendengarnya.
“Kenapa..? Bukankah rumahmu di-“
“Rumahku
ada di kota yang sangat jauh darisini.” Ia langsung memotong ucapanku.
“Tapi,
kita ‘kan sudah janji akan bersama selamanya,” aku mencoba mencari alasan.
“…af,”
ucapnya samar-samar.
“Maafkan
aku, Setsu!” ulangnya, lalu pergi meninggalkanku yang berdiri diam disana.
“Rena..”
*Missing_Star*
Keesokan
harinya, aku menunggunya seperti biasa di taman. Hanya saja, ia tak kunjung
datang, walaupun aku sudah menunggunya selama 2 jam.
“Besok,
aku harus pulang ke rumahku.” Kalimat itu terus-terusan mengganggu pikiranku.
Aku sangat tidak ingin kehilangan temanku satu-satunya.
“Rena..”
ucapku pelan. Saat itu, tiba-tiba aku melihat sesuatu menyembul dari
semak-semak di dekat ayunan, tempat pertama aku bertemu dengannya.
Aku
segera berlari ke sana, lalu mengambil benda yang ternyata sebuah kotak dan
membukanya. Di dalamnya terdapat secarik kertas- dan di bawah kertas itu,
terdapat sebuah gantungan kunci berbentuk bintang. Setelah melihat gantungan
itu, akupun membaca tulisan di kertas itu.
‘Walaupun
kita berpisah jauh, aku akan tetap mengingatmu. Karena itu, bersabarlah hingga
kita bertemu kembali’
_End of flashback_
Iya
juga ya, saat itu ada seorang gadis yang seperti itu. Sekarang kira-kira ia ada
dimana, ya?
“Kau
memikirkan apa sih, Setsu?” panggil gadis di sebelahku. Tanpa sadar, sekarang
pelajaran sekolah sudah berakhir, dan aku sedang berjalan pulang bersama
dengan.. emm.. pacarku. Tunggu, kalau tidak salah, nama gadis itu kan…
“Apa
dulu kita pernah bertemu?” tanyaku spontan, tanpa berpikir lagi.
“Eh?
Maksudmu?” ia malah bertanya balik padaku.
“…
Sudahlah lupakan saja,” ucapku sambil terus berjalan. Tanpa kusadari, ia, yang
sedikit tertinggal dibelakangku, tersenyum kecil.
“Setsu, boleh tidak, kita mampir ke suatu tempat?”
*Missing_Star*
“Sudah
lama aku tidak kemari!!” ucapnya agak lantang saat kami tiba di sebuah taman.
Kalau aku tidak salah, taman ini ‘kan…
“Setsu,
sini!!” ia memanggilku ke bawah pohon di tengah taman. Di sekeliling pohon
terdapat semak-semak. Di sanalah aku menemukan kotak berisi gantungan kunci sepuluh
tahun yang lalu.
“Sepuluh
tahun yang lalu, aku pernah berteman dengan seorang anak laki-laki disini.
Tapi, aku harus berpisah dengannya.” Kata-kata ini membuatku terkejut.
“Jangan-jangan-”
Aku menggantungkan kalimatku, membuatnya tersenyum.
“Lama
tak jumpa, Setsu!”
Author notes :
Eeh.. ini cerita 'agak' lama, jadi masih belum terlalu bagus juga penulisannya (sepertinya sih)..Mohon maaf jika ceritanya biasa aja dan kurang berkenan.. namanya juga lagi pengen nge-post.. hehe.. buat yang baca, makasih atas pembacaannya :D
No comments:
Post a Comment