May 5, 2013

Balada Sang Makhluk Malam

Tersebutlah seorang pemuda yang berbeda dari orang biasa
Ia tidur pagi, bangun malam dan meminum darah
Banyak orang yang menyeganinya
Suatu kesempatan, ia bertemu dengan seorang gadis
Yang berparas dan bertutur kata manis
Mereka segera akrab dan sering bertemu pada malam kamis
Hari-hari yang sangat menyenangkan bagi sang pemuda
Hari kelabu yang telah kembali berwarna

Sesuatu berbeda pada saat itu
Sang gadis tidak terlihat dimana pun malam itu
Gantinya, sepasukan bersenjata menunggu sang pemuda
Perintah sang gadis, salah satu berkata
Sang pemuda hendak berkata, namun terhenti oleh amukan massa
Ia segera berlari menghindari mereka
Berlari hingga sampai di ujung rimba
Pengejar segera mengisi senjatanya

Panah perak ditembakkan, namun sakit tidak terasa
Sang gadis datang dan melindungi kekasihnya, menerima panah dengan tubuhnya
Darah tak dapat dihentikan, sang gadis berbisik meminta maaf
Berkata "aku mencintaimu" yang pertama dan terakhir kalinya
Tangannya menjadi dingin, pergi untuk selamanya
Diliputi emosi, sang pemuda menyerbu massa hingga semua lari tiada sisa
Sang pemuda melihat sang gadis terakhir kalinya
Berjanji tidak akan lagi berhubungan dengan manusia

May 2, 2013

Balada Seorang Gadis

(Terinspirasi dari Secret Black Vow - nya Kagamine Rin, sih.. So, this story<balada?> isn't mine)

Balada Seorang Gadis

Tersebutlah seorang bersayap putih
Dan seorang gadis dengan gaun rapi
Mereka bertemu dalam suatu kesempatan
Di sebuah jalan penuh kenangan
Mereka sangatlah dekat
Hingga sang gadis bertunangan
Terjadilah pertikaian yang menyisakan duka
Sang gadis ditinggal sahabat tercintanya

Hari demi hari berganti dengan cepat
Sang gadis menutup hatinya rapat
Sampai ia bertemu pemuda hebat
Di tempat kenangan, taman sebelah barat
Pemuda itu mengembalikan tawa yang lama tak terlihat
Namun sayang, sang gadis pergi menemui sahabat
Terbunuh oleh seorang kerabat dekat
Meninggalkan pemuda yang dicintainya sangat

March 24, 2013

Cat Story


Aku sudah tidak tahu berapa lama aku berada di jalanan. Terasa seperti sudah bertahun-tahun, namun aku yakin belum selama itu, sebab aku masih saja belum mati. Aku adalah seekor kucing hitam yang tinggal di sebuah kardus dekat tiang listrik di sebuah jalan yang namanya saja tidak kuingat. Aku tidak punya nama—atau lebih tepatnya aku melupakan namaku sendiri.

“Waah, kucing yang lucu,” ucap seorang gadis berambut panjang saat ia melihatku. Aku mengeong menjawabnya. Ia baru saja akan mendekatiku saat teman disebelahnya, yang berambut pendek itu, menghentikannya.

“Jangan, kita tidak tahu apakah kucing itu bersih atau kotor,” alasannya. Aku lihat kakak berambut panjang itu mengeluh, namun akhirnya perdebatan mereka dimenangkan oleh si rambut pendek.

“Maaf ya, kucing kecil,” bisik kakak berambut panjang tadi. Mereka pun meninggalkan aku sendirian.

Akhir-akhir ini banyak yang seperti itu. Dua orang pergi bersama, yang satu melihatku dan ingin menyentuhku, namun yang lainnya menghentikannya. Hasilnya, mereka pergi seperti kakak tadi, dan aku tidak dapat makanan, maupun elusan. Sekarang saja, aku sudah tidak makan selama dua hari. Manusia zaman sekarang memang merepotkan.

*Cat Story*

Sore ini hujan lebat. Tidak, bukan hujan, lebih tepat lagi jika disebut badai. Dan, aku berjalan sendiri di tengah badai tersebut. Lima menit yang lalu, saat hujan belum turun, aku sedang berjalan-jalan di pertokoan dekat ‘rumah’ku, mencari makanan sisa, dan untungnya aku mendapatkan makanan yang cukup untukku hari ini. Namun, saat berjalan pulang, hujan turun dan dalam lima detik berubah menjadi badai. Dan sekarang aku sedang menembus badai itu, berusaha untuk mencapai kardusku tersayang, hanya untuk mendapati bahwa kardus itu telah tiada. Tepatnya, begitu aku sampai di depan kardusku, menit itu juga kardus tersebut terbang ditiup angin, entah kemana. Aku hanya bisa melongo melihatnya. Kalau begini, dimana aku akan tinggal selanjutnya?

“Kau kehujanan?” aku mendengar sebuah suara, yang sepertinya ditujukan kepadaku. Aku pun berbalik dengan perasaan senang, mungkin orang itu akan memungutku? Namun ternyata itu hanyalah seorang cowok yang menggoda cewek cantik, tepat di depanku. Huuh, sial sekali sih aku hari ini!

Aku akhirnya memutuskan untuk duduk di tempat kardusku seharusnya berada. Tubuhku sudah basah sejak tadi, dan tentu saja aku kedinginan. Tapi kurasa ini semua tidak dapat membunuhku. Aku berbeda dengan kucing-kucing normal yang ada di seluruh dunia, aku setengah manusia. Bukan siluman atau semacamnya. Seharusnya aku berwujud manusia, tetapi entah bagaimana aku dikutuk—begitu aku menyebutnya—sehingga harus berwujud kucing begini sampai aku menemukan orang yang tepat untuk menjadi partnerku.

Tunggu, kenapa aku jadi membahas hal itu? Itu tidak penting sekarang. Lebih penting lagi, mau tinggal dimana aku setelah ini?! Apa aku harus cari kardus baru? Tapi, aku sama sekali tidak ingat dimana aku menemukan kardus yang terbang tadi. Sekarang juga susah untuk mencari dan membawa kardus bekas, apalagi aku hanyalah seekor kucing. Jadi bagaimana?! Apakah harus menyerah pada nasib? Aku tidak suka itu, tapi kalau dalam kasus kali ini, mau bagaimana lagi..?

Tiba-tiba, aku merasa ada seseorang yang mengangkat tubuhku. “Kau basah sekali. Main hujan-hujanan ya, tadi?” ucap orang itu sambil mendekapku ke badannya. Rasa hangat langsung menjalari tubuhku. “Kubawa ke rumah saja ah, mumpung tidak ada orangtuaku,” lanjutnya, sambil membawaku pergi.

Ng? Tunggu, kalau begini— berarti aku diculik? Aku langsung memberontak sekuat tenaga, meminta untuk diturunkan. “Hei, jangan bergerak terus, nanti kau jatuh,” ucap orang itu lembut. Saat itu, aku baru melihat wajahnya. Ternyata ia adalah cowok yang lumayan keren. Yaah, kalau begini sih, aku mau saja dibawa ke rumahnya.

*Cat Story*

Sesampainya di rumah orang itu, ia langsung memandikanku dan mengeringkanku. Ia mengajakku bicara mengenai banyak hal. Dari percakapan itu, aku tahu kalau namanya adalah Ryuuichi. Ia tinggal dengan ayahnya, yang baru saja menikah lagi dan sekarang sedang berbulan madu dengan istri barunya. Ia sama sekali tidak menceritakan soal ibunya, jadi aku tidak tahu apapun mengenai itu. Selain itu, ia juga memberiku nama, Roku. Katanya, ia memberiku nama Roku karena ia suka angka enam, dan karena jika hurufnya ditukar bisa menghasilkan kuro, warnaku. (P.S : roku dan kuro adalah bahasa Jepang, yang artinya ‘enam’ dan ‘hitam’)

Kami cepat berteman, aku tahu itu, karena dalam waktu satu hari, aku sudah menunggu-nunggu kepulangannya. Dalam seminggu, kami sudah menjadi teman dekat. Mungkin orang inilah partner yang kucari?

Masalah datang saat ayah dan istri baru ayahnya pulang. Ternyata, istri baru tersebut alergi terhadap kucing, sehingga aku hampir diusir dari rumah itu. Namun Ryuuichi membelaku sekuat tenaga, sehingga akhirnya aku masih boleh tinggal disana.

Kukira masalahnya sudah beres sampai disitu, sehingga aku dapat tidur dengan tenang malam harinya. Maka dari itu aku kaget saat terbangun di tengah malam, dan mendapati diriku berada di ruangan yang sangat gelap. Aku terguncang-guncang di dalam ruangan itu, sehingga membuatku pusing. Beberapa menit kemudian, guncangan itu berhenti dan aku ditarik keluar dari tempat gelap yang sebenarnya adalah sebuah tas. Aku melihat ayah Ryuuichi, yang sekarang sedang menarik leherku—ya, tentu saja sakit!—, merupakan dalang di balik semua itu.

“Maaf ya, kucing manis. Kau tidak bisa tinggal di rumahku lagi karena istriku tidak tahan dengan bulumu,” ucapnya membuka percakapan. Aku mengeong marah beberapa kali. Kalau Ryuuichi tahu, ia pasti akan pergi mencariku! “Hm? Kau tenang saja soal Ryuuichi. Akan kuberikan ia peliharaan yang super imut, sehingga ia pasti akan melupakanmu.” Dan dengan begitu, orang jahat tersebut melemparku dan meninggalkanku di tempat antah berantah ini.

Untungnya, aku mendarat di rumput, sehingga tubuhku tidak terlalu sakit. Sialnya, aku tidak tahu dimana aku berada sekarang. Hanya sungai dan rumput-rumput tinggi yang ada di sekelilingku. Aku sama sekali tidak tahu daerah ini. Akhirnya, aku hanya berjalan. Berjalan, berjalan, dan berjalan. Entah berapa hari telah lewat hingga aku menemukan sebuah rumah yang sangat kukenal. Ya, itu rumah Ryuuichi. Aku sangat senang melihatnya hingga tanpa sadar aku berlari menuju rumah itu, menaiki temboknya, hendak mengeong untuk memberitahu Ryuuichi tentang keberadaanku, sebelum melihat seekor tupai di dalam rumah itu. Tupai tersebut melihat ke arahku sekilas, lalu pergi ke arah Ryuuichi. Ryuuichi terlihat senang dan mengelus tupai itu, seperti dulu ia mengelusku. Akhirnya, aku mengurungkan niatku dan pergi dari rumah itu, kembali berjalan tanpa arah.

*Cat Story*

Aku merasa sudah lebih dari seminggu aku berjalan, sama sekali tidak makan, sehingga sekarang perutku benar-benar keroncongan. Namun aku sama sekali tidak berniat untuk makan. Jadi, aku terus berjalan hingga aku akhirnya benar-benar kelelahan dan berhenti di dekat sebuah tiang listrik. Sepertinya, aku kembali ke awal, ya?

Aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebelah tiang listrik tersebut, tepat ketika hujan turun. Basah lagi, deh, pikirku. Perutku juga lapar. Tapi, daripada tidak ada tujuan begini, lebih baik mati, ‘kan? Jadi, aku tidak menghiraukan semua itu dan tidur-tiduran saja di tempatku berada, hingga akhirnya aku benar-benar ketiduran. Apakah saat aku bangun nanti aku akan tiba di surga? Apakah aku akan jadi malaikat kucing? Yah, yang manapun boleh, asalkan jangan tetap disini. Aku lelah dengan dunia ini.

Begitu aku membuka mata, entah kenapa aku mendapati diriku berada di tempat yang berbeda dengan saat aku tidur tadi. Kini aku berada di sebuah tempat yang terlihat seperti rumah. Tubuhku tidak lagi basah, malah ditutupi oleh selimut. Apakah aku dipungut lagi, tanpa sepengetahuanku?

“Sudah bangun?” terdengar kalimat acuh tak acuh yang ditujukan padaku. Aku melihat ke arah asal suara itu sambil mengeong pelan. Orang yang mengajakku bicara tersebut mempunyai rambut berwarna merah, dan ya, dia cowok. Lagi. Aku langsung bangun dari posisi tidurku, berganti menjadi posisi siaga. Aku malas berurusan dengan manusia sekarang. Namun orang itu tidak mendekat ke arahku. Ia justru pergi ke pojok ruangan dan kembali membawa.. ikan?

“Kau lapar, ‘kan?” ucapnya sambil meletakkan piring berisi ikan itu di hadapanku. Aku masih dalam posisi siaga saat aku merasa perutku berbunyi, minta diberi makan. Akhirnya aku melahap ikan itu. Enaak..

*Cat Story*

Sekarang, aku terjebak bersama orang aneh. Tepatnya sih, aku tidak tahu apa-apa tentang orang ini. Ia tidak memberitahuku namanya dan hampir tidak berbicara padaku sama sekali. Sama sekali berbeda dengan Ryuuichi, tapi aku cukup suka dengan orang yang ini. Tunggu, kutarik kembali kata-kataku. Aku hanya suka pada si rambut merah— begitu aku memanggilnya— ini saat ia mengelusku saja. Entah kenapa rasanya aku senang sekali setiap ia mengelusku. Yah, walaupun dulu Ryuuichi juga mengelusku, tetapi rasanya berbeda, entah kenapa.

Kembali ke si rambut merah, kesehariannya juga aneh. Ia terlihat seperti remaja, namun tidak pergi sekolah. Setiap pagi ia pergi entah kemana, memakai baju bebas, dan pulang sekitar jam empat sore. Aku juga tidak menemukan baju seragam saat aku menyelinap ke dalam lemari bajunya. Err— bukan untuk apa-apa sih. Tepatnya, saat itu aku tidak ada kerjaan, kemudian iseng masuk lemari bajunya dan terkunci disana. Untungnya si rambut merah menemukanku tidak lama kemudian. Selain baju, yang aneh adalah kadang-kadang ia pulang dengan terluka. Memang, sih, lukanya tidak parah, tetapi tetap saja, luka. Kadang aku suka menjilati lukanya yang bisa kujangkau, sekedar membalas budi setelah dirawat olehnya, sambil berpikir, sebenarnya apa sih yang dilakukan oleh si rambut merah?!

*Cat Story*

Malam itu tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Aku sedikit haus, jadi aku pergi ke luar kamar si rambut merah— ya, aku tidur di kamarnya, di atas bantalnya— menuju ke tempat  minum yang sudah ia siapkan. Setelah minum, aku iseng-iseng melihat ke arah ruang tamu, dan melihat si rambut merah sedang duduk di sana. Matanya menerawang keluar ruangan, menatap langit. Aku pun menghampirinya dan mengeong setelah sampai di dekatnya. Ia melihatku, lalu mengelusku sementara aku menutup mataku, menikmati tangannya menyusuri buluku.

“Dulu aku punya seorang partner saat masih tinggal di Eropa,” tiba-tiba terdengar suara si rambut merah. “Namanya Karen. Ia adalah cewek yang baik dan cantik. Aku senang berpasangan dengannya, namun sepertinya ia tidak merasa begitu. Suatu hari, ia pergi meninggalkanku,” lanjutnya. “Aku terus mencarinya hingga kemari. Ada orang yang menyatakan bahwa ia melihat Karen di Jepang. Dalam waktu dua hari, aku menemukannya. Namun, ia tidak seperti Karen yang kukenal dulu. Ia sudah berpartner dengan orang lain, dan ia terlihat senang.” Aku teringat saat melihat Ryuuji dengan tupai peliharaannya itu.

“Tadi sore, aku pergi ke rumah sakit dengan niat menengok Karen. Katanya ia terluka cukup parah saat bertugas. Namun saat aku sampai disana, aku melihat Karen sedang tertawa bersama partner barunya. Sesuatu yang aku dan dia jarang lakukan dulu.” Sebuah jeda yang panjang. Akhirnya, karena ia tidak juga memulai percakapan, aku berjalan ke kakinya dan mengusapkan wajahku pada celana yang ia pakai. Kalau dalam bahasa kucing, meminta untuk diperhatikan, mungkin? Namun aku memakainya agar dia tidak merasa sedih. Entahlah, mungkin tinggal bersama orang ini telah menyihirku sedemikian rupa hingga aku merasa ia adalah orang yang selama ini kucari.

Menanggapi sikapku yang terbilang manja itu, ia tersenyum kecil dan mengangkatku. “Sudah waktunya tidur,” ucapnya, lalu membawaku ke kamarnya.

*Cat Story*

Keesokan paginya, aku bangun di atas kasurnya, dan melihat wajahnya yang terlihat aneh, seperti kaget. Namun aku masih terlalu mengantuk untuk menyadari hal itu, sehingga aku mengucapkan dua kata saja, “Selamat pagi.”

Ng? Tunggu, itu suaraku? Aku melihat tanganku, keduanya tangan manusia sekarang. Begitu juga, aku yakin, dengan tubuhku. Berarti aku sudah lepas dari kutukan itu? Berarti, si rambut merah memang partner yang kutunggu?

*Cat Story*

Sekarang aku berada di ruang tamu, duduk dengan manis mengenakan pakaian yang kupinjam dari si rambut merah. Aku sengaja tidak menceritakan kelanjutan kisah di kamar tidur tadi, karena, yah, sedikit memalukan untukku.

“Jadi, kau salah satu klan kucing yang terkenal itu?” ucap si rambut merah membuka percakapan. Aku hanya mengangguk menanggapinya. Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan kalimatnya. “Kalau begitu, aku harus menangkapmu.” Aku spontan kaget. “Kau tahu kan, kucing dan anjing bermusuhan, sama seperti kedua klan kita. Aku, klan anjing,  berpihak pada polisi dan klan kucing berpihak pada mafia. Jadi, aku harus menangkapmu,” jelasnya.

“U-Umm.. Sebenarnya, aku tidak terlalu mengerti penjelasanmu, karena aku sama sekali tidak ingat dengan keluargaku sendiri, ataupun yang kau sebut klan kucing itu. Selain itu, aku juga— eh—,” aku terbata-bata di akhir kalimatku.

“Juga apa?” tanya si rambut merah to the point.

“Aku— sebenarnya.. I-Ingin menjadi partnermu,” ucapku dengan susah payah. Yah, kalau mendengar penjelasannya, mungkin ia tidak akan mau menjadi partnerku, tapi mungkin saja, ‘kan?

“Itu mustahil,” jawabnya setelah beberapa detik. “Kau dengar, ‘kan, kata-kataku tadi?”

“Iya, tapi.. A-Apa tidak bisa jika tidak memikirkan itu semua?” aku mencoba membela diri, meski mataku sudah panas rasanya.

“Maaf,” ucapnya, menghancurkan semua harapanku.

“Begitu—ya?” aku masih menahan tangisanku. “K-Kalau begitu, maaf sudah merepotkan selama ini. T-Terima kasih,” lanjutku, kemudian segera meninggalkan tempat itu. Aku kembali berlari tanpa arah, di jalan, namun sudah bukan berwujud kucing, melainkan berwujud manusia. Meski begitu, rasanya berkali-kali lipat lebih baik menjadi kucing sekarang. Tapi aku tidak menuruti keinginanku, dan terus berlari tanpa arah, dengan air mata yang masih mengalir turun dari mataku.

*Cat Story*

Aku sudah sangat capek ketika aku sampai di sebuah taman bermain untuk anak-anak. Hari juga sudah hampir gelap saat itu. Kehabisan napas, akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat di taman itu. Aku menduduki salah satu kursi di sana, menaikkan kedua kakiku ke atas kursi panjang itu, dan menarik lututku hingga aku bisa memeluknya. Hari ini cukup buruk untukku, kehilangan tempat tinggal dan orang yang sudah kusayangi. Rasanya hampir sama seperti saat aku kembali ke jalanan setelah dibuang oleh ayah Ryuuichi, namun kali ini jauh lebih sakit. Aah, lagi-lagi aku merasa ingin tidur saja, dan saat terbangun nanti aku sudah pindah ke alam lain. Maka, aku pun menutup mataku, membiarkan semuanya berlalu.

“Kau bisa mati kalau tidur di sini, loh,” aku mendengar suara yang familier untukku. Saat aku membuka mata, aku melihat si rambut merah berdiri di depanku.

“U-Untuk apa kau kemari?” ucapku spontan, sambil memalingkan wajahku.

“Aku hanya mau menyuruhmu pulang,” jawabnya, sama singkatnya dengan pertanyaanku.

“Mau pulang kemana? Aku tidak punya rumah sekarang,” aku terdiam untuk beberapa saat.

“Tentu saja punya,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku. “Rumah tanpamu sepi, tau,” lanjutnya. Aku terkejut mendengarnya, kemudian aku bergantian menatap tangan yang terulur itu dan wajahnya. “Apa?”

“Berarti kau mau jadi partnerku?” kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku.

“Kalau aku tidak mau, aku tidak akan mencarimu begini, bodoh,” adalah jawabannya. Aku tersenyum mendengarnya, entah karena apa.
“Baiklah, kalau begitu,” ucapku, kemudian menaruh tanganku diatas tangan orang itu.


*Cat Story*

Sesampainya di rumah si rambut merah, ia menyuruhku duduk sementara ia pergi ke dapur. Begitu kembali dari dapur, ia membawa nampan berisi dua buah cangkir. Ia menaruh nampan itu di meja di depanku, sehingga aku dapat mengetahui bahwa cangkir itu berisi cokelat panas. Memang, sih, udara di luar cukup dingin, apalagi mengingat sekarang sudah memasuki musim gugur. Ia menyerahkan salah satu cangkir padaku, sementara yang satunya ia pegang. Aku terdiam sambil melihat ea rah cangkir yang sekarang telah kupegang, larut dalam keheningan yang terjadi diantara kami.

“Namamu?” tiba-tiba terdengar suara orang aneh itu.

“Eh?” aku berkata dengan spontan.

“Aku belum bertanya siapa namamu, ‘kan? Aku Red,” aku melihat rambutnya, kemudian tersenyum. Memang nama yang cocok untuknya. “Kenapa senyum-senyum begitu?” tanyanya.

“Tidak apa-apa, kok,” jawabku, masih sedikit tersenyum.

“Lalu?” ia kembali bertanya.

“Apa?” ucapku, bingung dengan pertanyaannya.

“Namamu? Kau tidak punya nama?” sepertinya air mukaku berubah saat Red mengatakan hal ini, karena kini ia melihat ke arahku  dengan tatapan bingung.

“Aku—tidak ingat nama asliku,” ucapku jujur. “Aku hanya ingat nama yang diberikan ‘pemilik’ku sebelum kau,” lanjutku. “Bagaimana kalau kau memberiku nama baru?”

“Hah?! Kenapa harus aku?” Red memprotes.

“Mm.. Mungkin karena aku suka kau?” sedetik kemudian, aku baru sadar arti dari ucapanku. Aku cepat-cepat membetulkannya. “M-Maksudku, dalam arti partner.”

“Yah, terserahlah,” ucapnya dingin. Aku sedikit menyesal telah membetulkan kalimatku. Kalau tidak ada efeknya seperti ini sih, lebih baik tidak usah kuralat. “Memory,” Red berkata tiba-tiba.

“Hah?”

“Kenapa malah ‘hah’? Kau yang menyuruhku memberimu nama ‘kan?” ucap Red.

“I-Iya, sih. Tapi kenapa harus ‘Memory’?” aku bertanya setengah memprotes. Habisnya, aku ‘kan bisa dibilang tidak punya ingatan. Nama ‘Memory’ rasanya tidak cocok untukku.

“Itu agar kau bisa mengingat banyak hal mulai sekarang,” Red menjelaskan sambil meneguk cokelat panas-nya.

“Mengingat banyak hal? Memory?” aku mengulangi beberapa kata-kata Red.

“Tidak suka?” tanya Red. Aku berpikir sebentar, kemudian menggelengkan kepalaku.

“Suka, kok,” jawabku, kemudian tersenyum.

*Cat Story*

Sudah dua tahun berlalu sejak saat itu. Kini aku berpartner dengan Red, menegakkan keadilan di Jepang. Sebenarnya bukan ‘menegakkan keadilan’ juga, sih. Tetapi aku tidak mempunyai kata yang tepat untuk mendeskripsikan pekerjaan kami sekarang. Yang jelas, pekerjaan kami adalah menangkap penjahat. Yah, lebih baik lupakan soal apa pekerjaan kami sekarang.

Kini, aku sudah punya banyak hal yang tidak kupunyai saat aku menjadi kucing jalanan dulu. Tempat tinggal, pekerjaan, teman, dan nama. Semua itu adalah pemberian Red, walaupun orangnya sendiri bilang bahwa setengahnya adalah hasil kerjaku juga. Tetapi tetap saja. Kurasa aku tidak akan bisa mendapatkan hal-hal tersebut jika Red tidak membawaku pulang hari itu.

Memang sih, ada beberapa hal yang tidak kupunyai sekarang. Salah satunya adalah ingatan masa lalu, sebelum aku menjadi kucing. Tapi, hal itu tidak lagi penting untukku, karena, sesuai kata Red, aku akan mengingat banyak hal mulai sekarang, dan itulah yang kulakukan. Aku sudah merasa senang dengan kehidupanku yang ini, yang kujalani bersama dengan Red. Kurasa, aku sudah tidak butuh apapun lagi.



Eeh.. Sedikit Author Notes disini.
Buat yang baca, kalau ada (gak yakin blognya terkenal), tolong kasih ide buat judul cerita ini. Cat Story itu cuma judul sementara, karena sekarang udah malam dan authornya harus tidur. Jadi, tolong dengan sangat bantu saya mencari judul yang tepat buat cerita si kucing ini. Makasih. :)

February 23, 2013

Nine Days to be With You

“Anak-anak, hari ini bapak akan memperkenalkan murid baru,” ucap wali kelas 3-4 di depan seluruh murid kelas tersebut. “Masuklah, Daijihito,” lanjutnya. Seorang gadis kemudian membuka pintu kelas 3-4, berjalan memasuki kelas tersebut, dan berhenti di sebelah sang wali kelas.

“Namaku Akane Daijihito, salam kenal, semua,” ucap gadis itu sopan. Semua siswa yang ada di kelas itu langsung bersorak-sorai, karena bertambahnya seorang siswi yang dapat dikatakan cantik. Rambut hitam, mata cokelat hazel, dan perilaku baik. Yang kurang hanya satu, rambut pendeknya. Andai rambutnya panjang, ia pasti sudah direkrut menjadi artis.

“Nah, tempat dudukmu—,” pak Yamashita, sang wali kelas, menghentikan perkataannya, karena pintu kelas yang tiba-tiba mendobrak terbuka akibat didobrak oleh salah seorang siswa. Siswa tersebut terlihat kelelahan, karena terus berlari dari rumahnya hingga sekolah. Hal ini dengan mudah dapat terlihat dari rambut biru dan bajunya yang basah karena keringat.

“M-Maaf terlam—,” ucapan siswa itu juga terpotong, kali ini karena melihat siswi baru yang perkenalannya ia potong tadi. “Akane?” siswa itu berbicara kembali, perhatiannya sepenuhnya ada pada siswi baru tersebut. “Kau Akane, ‘kan?”

“A—,” siswi baru tersebut tidak menjawab apapun, bingung harus mengatakan apa. Seakan mengetahui hal ini, sang siswa yang terlambat itu berkata, “Ini aku, lho, Tomoya Satou!”

-Nine Days to be With You-

-Akane’s POV-

“Ini aku, lho, Tomoya Satou!” ucap siswa itu padaku. Aku terdiam sebentar, mengingat-ingat siapa itu Tomoya Satou, dan yang muncul di kepalaku adalah teman baikku saat SD. Masa’ sih, dia Tomoya yang itu? Padahal dulunya ia biasa-biasa saja, tapi sekarang jadi keren begini!

“Satou, kau itu, sudah terlambat, malah menakuti murid baru,” pak Yamashita mulai berbicara lagi. “Sudah, duduk sana!” suruh pak Yamashita. Tomoya pun melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi kosong sambil berkata ‘baik’ dengan pelan. “Daidouji, tempat dudukmu di sebelah Satou,” lanjut pak Yamashita, sambil menunjuk sebuah kursi di bagian tengah-belakang kelas.

“Baik,” ucapku sopan, lalu melangkahkan kakiku ke meja tersebut. Begitu aku duduk, Tomoya mulai berbicara lagi padaku.

“Sudah lama ya, bagaimana kabarmu?” ucap Tomoya padaku dengan ceria. Aku sempat menatapnya terpana. Tomoya sekarang sudah benar-benar berubah, ia jadi lebih keren sekarang. Hampir masuk tipeku, sih, sayang ia sudah tidak pakai kacamata lagi..

“Akane?” suara Tomoya membuyarkan lamunanku. Ia menatapku bingung. “Ada apa? Kenapa kau memandangku seperti itu?”

“B-Bukan apa-apa,” ucapku cepat sambil memalingkan wajahku yang sepertinya sudah memerah sekarang.

“Jangan-jangan… Kau terpesona padaku ya?” Tomoya nyengir saat mengatakannya, sedangkan aku, masih dengan muka memerah, tidak menjawab apapun. “Iya kaan?” lanjutnya.

“Satou, daripada menggoda murid baru, bagaimana jika kau mengejar nilaimu dulu?” tiba-tiba terdengar suara pak Yamashita.  Seluruh kelas mengalihkan perhatiannya pada kami berdua. “Maaf pak,” ucap Tomoya spontan, sambil tetap cengar-cengir. Tentu saja, ia diceramahi oleh wali kelas kami tersebut, selama paling tidak 5 menit. Dan, selama 5 menit itu, aku mencoba menenangkan diri. Jangan-jangan, aku... Jatuh cinta pada pandangan pertama?

-Nine Days to be With You-

Setelah itu, setiap hari selama seminggu penuh aku selalu berbicara dengan Tomoya. Ditambah lagi, ternyata rumah kami berada di blok yang sama sehingga selama seminggu itu kami pulang-pergi sekolah bersama-sama. Dan, makin hari aku melihatnya, makin aku, ehm, merasa berdebar karenanya. Benar, deh, kalau saja ia memakai kacamata lagi, pasti sudah masuk dalam tipe cowok idamanku, tuh.

“Lagi mikir apa, sih?” seseorang tiba-tiba berkata di sampingku. Aku langsung terlonjak kaget, sementara orang itu tertawa.

“Tomoya! Jangan muncul tiba-tiba dong,” ucapku setengah marah sambil mengejarnya yang sedang berlari sambil tertawa.

“Maaf, deeh,” ia berujar sambil terus berlari. “Habis, kau lucu, sih!”

“Lucu apanya, aku kaget tahu!” langkahku mulai melambat karena sudah hampir kehabisan nafas.

“Eeh, sudah capek, ya?” Tomoya menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghampiriku. Aku hanya menatapnya tajam, masih terlalu lelah untuk berbicara. “Berarti aku yang menang,” lanjutnya, sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku menatap tangan itu sebentar, lalu meraihnya.

“Terserah, deh!” ucapku. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah.

-Nine Days to be With You-

Begitu kami memasuki area sekolah, terlihat bayangan seseorang sedang berdiri menyandar pada dinding di sebelah gerbang sekolah. Dua langkah kemudian, aku baru menyadari bahwa orang yang sedang bersandar itu adalah seorang gadis. Gadis itu cukup cantik, dengan rambut sepunggung berwarna cokelat kemerahan dan matanya yang terlihat berwarna merah terang. Dilihat dari pakaiannya, ia pasti murid sekolahku, namun sepertinya aku belum pernah melihatnya. Tidak mungkin aku melupakan anak secantik itu, ‘kan?

“Nee, Tomoya, kau pernah lihat anak itu tidak?” tanyaku pada cowok disampingku yang sebelumnya sedang melihat ke arah lain. Saat aku bertanya begitu, langkah Tomoya langsung terhenti. Ia lalu menatap gadis itu lekat-lekat, dan, seakan mengetahuinya, gadis itu mengalihkan pandangannya kepada kami.

“Re—na?” gumam Tomoya pelan.

“Lama tidak bertemu ya, kak Tomoya,” gadis itu berkata sambil tersenyum manis. Tomoya langsung berlari menghampiri gadis itu, sementara aku berdiri mematung menatap mereka. SIAPA SIH GADIS ITU?!?!

-Nine Days to be With You-

-Di atap, jam makan siang, still Akane’s POV-

“Kenalkan, namaku Rena Mikami. Panggil saja Rena,” ucap gadis itu sopan. Aku sempat kaget juga, saat bel istirahat berbunyi ia tiba-tiba muncul di kelasku dan mengajak aku serta Tomoya makan bersama di atap. Agak aneh sih, biasanya Tomoya tidak terlalu akrab dengan anak perempuan, tapi kenapa dengan anak ini— Aah, aku jadi penasaran dengan hubungan mereka berdua..

“Kami nggak ada hubungan apa-apa, kok!” ucap Rena, seakan ia mengetahui pikiranku. “Kami hanya kakak-adik saja. Yah, walau tidak sedarah sih, tapi yaa.. begitulah!” lanjutnya. “Jadi, tidak usah khawatir, kak Akane!”

“Darimana kau tahu namaku?” aku malah melontarkan pertanyaan bodoh itu padanya. Dasar bodoh, harusnya aku bilang aku tidak khawatir, donk!!

“Kak Tomoya yang memberitahukannya padaku. Katanya seminggu yang lalu teman masa kecilnya, kak Akane Daidouji, pindah ke sini,” Rena berkata dengan semangat. “Nggak kusangka, ternyata bisa juga kak Tomoya punya teman masa kecil secantik ini,” lanjutnya sambil menatap Tomoya iseng.

“Maaf deh, kalau temanku selama ini nggak ada yang menarik perhatianmu,” ucap Tomoya.

“Tahu aja, sih!” Rena menjulurkan lidahnya pada Tomoya. Ia lalu kembali melahap makanan yang ia bawa.

“Dasar kau ini, nggak kelihatan baru keluar dari rumah sakit, ya,” Tomoya berkata sambil memakan roti yang ia bawa dari rumahnya.

“Rumah sakit?” aku mengulang kata-kata Tomoya. “Rena baru keluar dari rumah sakit?!”

“Yep. Dia ini—” Tomoya berkata sambil menunjuk Rena, “—baru saja masuk rumah sakit karena terluka parah.”

“HAH?!?!” ucapku setengah teriak. Gadis secantik itu? Terluka parah? Mana mungkin ‘kan?!

“Dasar bodoh! Kenapa kau ceritakan, sih?!” protes Rena sambil melemparkan kotak susu yang baru saja ia habiskan.

“Aduh! Sakit tahu! ‘Gak usah pakai lempar kotak susu kenapa, sih?!” Tomoya berkata sambil mengelus kepalanya yang tadi terkena kotak susu Rena.

“Biarin! Orang bodoh memang harus dihukum!!” kali ini Rena berdiri, dengan aura-aura yang tidak enak disekelilingnya. Tomoya sepertinya langsung ketakutan melihatnya, sehingga ia langsung menyerah. Rena lalu kembali duduk tenang, setelah mendengar lawannya mengaku kalah. Suasana pun kembali damai..

“A-Ano, Rena?” aku mulai berbicara dan memecahkan kesunyian. “Boleh aku tanya sesuatu?”

“Boleh kok! Apa, kak Akane??” Rena bertanya dengan penuh semangat.

“Kenapa kau bisa terluka parah?” aku melanjutkan pertanyaanku. Seketika itu, Rena mengalihkan pandangannya pada Tomoya dan menatapnya dengan tajam. Merasa tidak enak, aku lalu berkata, “E-Eh, tidak dijawab juga tidak apa-apa kok! Aku hanya penasaran, kok orang secantik Rena bisa terluka parah?”

“Ah, begitu, ya?” Rena kembali melihatku dan Tomoya menghela nafas lega. “Ini—,” Rena memegang lengan kanannya,”—hanya kecelakaan saat ‘kerja’, kok!” ia mengakhiri kalimatnya dengan senyum riang.

“Eh? B-Begitu, ya?” aku kaget juga mendengarnya. Ternyata Rena yang seperti ini ceroboh juga, ya..

“Iya, dia bodoh, makanya terluka parah,” Tomoya menimpali. Rena, yang ternyata mendengarnya, segera memukul Tomoya dari belakang. Setelah itu, mereka saling kejar-kejaran selama beberapa menit, sementara aku hanya bengong melihatnya. Rasanya, hari ini Tomoya jadi berbeda, seperti lebih ceria. Apa ini karena ada Rena, ya? Rasanya, Tomoya hari ini jadi jauh.. Jadi—terasa sepi..

-Nine Days to be With You-

Seharian itu, aku tidak mendapat kesempatan untuk mengobrol berdua dengan Tomoya –kecuali tadi pagi saat kami pergi ke sekolah berdua—. Ia terlalu sibuk dengan adiknya, sampai- sampai rasanya dunia hanya milik mereka berdua, seperti orang pacaran saja. Rasanya hari ini jadi menyebalkan..

Tiba-tiba, handphoneku bergetar, tanda ada pesan masuk. Aku meraih handphoneku dengan malas, lalu membaca nama pengirimnya.

From: Tomoya Satou

Aku langsung terlonjak kaget. Ada apa Tomoya mengirimiku mail malam-malam begini? Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka mail itu.

Kau baik-baik saja hari ini? Kelihatannya tadi kau sedikit lesu. Sakit? Maaf ya, sepertinya hari ini aku terlalu senang karena Rena baru saja kembali..

Di bawah pesan itu terdapat gambar pemandangan langit malam yang bertaburkan bintang. Gambar yang sungguh menawan. Aku lalu tersenyum, sambil membaca mail itu untuk yang kedua kalinya, sebelum akhirnya menulis balasan untuknya.

To: Tomoya Satou
Aku tidak apa-apa, kok! Lagipula, itu sudah wajar, ‘kan kalian kakak adik.. Kau dapat darimana gambar itu? Bagus sekali!

Aku mengirim mail itu, dan balasannya datang sekitar dua menit kemudian. 

From: Tomoya Satou
Benar, tuh? Aku ambil dari blog Scarlet. Disana banyak yang bagus, lho! Apalagi untuk perempuan..

Aku tertawa membacanya. ‘Untuk perempuan’? Berarti ia membuka blog anak-anak cewek, ‘kan? Membayangkannya saja sudah bisa bikin sakit perut. Setelah beberapa menit, aku baru membalas mail-nya dan balasannya datang cukup cepat. Aku sama sekali tidak menyangka, ternyata cukup cepat juga, ya, dia membalas mail. Kalau yang seperti ini, baru menyenangkan!!

Setelah itu, kami saling mengirim mail sampai larut malam. Ibuku saja sampai marah-marah dan menyuruhku untuk tidur. Tapi, kami terus mengirim mail sampai kira-kira pukul tiga pagi. Nah, kalau begini, baru menyenangkan, ‘kan!

-Nine Days to be With You-

Keesokan paginya, aku berangkat sekolah bersama dengan Tomoya. Berdua. Sepanjang perjalanan, kami melanjutkan pembicaraan semalam dengan seru. Rasanya kejadian kemarin itu –pertemuanku dengan Rena— hanya mimpi saja. Tapi, mana mungkin ‘kan? Pasti Rena menunggu kami di depan gerbang sekolah seperti kemarin.

Begitu kami sampai di dekat gerbang sekolah, aku lalu mengalihkan pandanganku untuk mencari sosok siswi berambut merah kecokelatan itu, namun tidak menemukan apapun. Aku lalu menanyakan hal ini pada Tomoya.

“Mungkin dia sudah ke kelas duluan? Aku tidak tahu, semalam dia tidak membalas mailku, sih,” jawab Tomoya. Aku lalu langsung memasang wajah sebal.

“Jadi kau mengirimiku mail karena Rena tidak membalas mailmu?” ucapku dengan nada protes. Ia langsung sweatdropped, lalu mengalihkan pandangannya.

“B-bukan begitu juga,” Tomoya berbicara. “Aku cukup senang, ‘kok, mail-mailan dengan mu,” lanjutnya, lalu tersenyum. Mukaku langsung merah padam saat itu, jadi aku mengalihkan pandanganku. “Terserah, deh,” bisikku pelan. Kami lalu melangkah memasuki gedung sekolah.

-Nine Days to be With You-

Pada jam istirahat pertama, Tomoya mengajakku pergi ke kelas 2-1, kelas Rena. Katanya, ia agak cemas karena Rena tidak juga membalas mailnya, jadi ia memutuskan untuk bertanya pada teman Rena. Dan, kami pun berdua pergi ke kelas 2-1. Disana Tomoya memanggil salah seorang murid di kelas itu.

“Tatsuzawa, hari ini Rena tidak masuk, ya?” ucap Tomoya pada anak itu. Kenapa dia bisa kenal dengan anak ini ya?

“Begitulah. Katanya sih, dia demam,” jawab anak yang dipanggil Tatsuzawa itu.

“Katanya? Siapa, tuh?” Tomoya bertanya lagi.

“Sumber yang bisa dipercaya, deh!” Tatsuzawa menjawabnya, sedangkan Tomoya menoleh ke arah dua kursi kosong yang terletak di pojok belakang kelas tersebut.

“Yang tidak masuk— dua orang itu, ya?” tanya Tomoya tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua kursi kosong itu.

“Enggak kok, ‘yang satu lagi’ sedang bolos,” ucap Tatsuzawa sambil tersenyum jahil. Sebenarnya mereka membicarakan apa, sih?

“Ya sudah, nanti kalau ada kabar tolong beritahu aku,” Tomoya akhirnya mengakhiri pembicaraan mereka. Ia lalu berjalan meninggalkan kelas itu, hampir meninggalkanku. Sebelum tertinggal olehnya, aku cepat-cepat menganggukkan kepalaku, tanda pamitan, pada Tatsuzawa, lalu segera menyusul Tomoya.

“Anak yang tadi itu siapa, ‘sih?” aku bertanya segera setelah menyusul Tomoya.

“Ooh, dia temannya Rena, namanya Tatsuzawa Nanami,” Tomoya berkata dengan ramah. Aku lalu mengalihkan pandanganku padanya. Rasanya tadi ia serius sekali, saat berbicara dengan Tatsuzawa, atau hanya perasaanku saja, ya?

“Lalu, tadi kau bilang ‘dua orang itu’ kan? Apa maksudnya?” aku lanjut bertanya, memuaskan keingintahuanku. Habis, aku baru tahu ternyata Tomoya punya banyak teman dari kelas 2 selain Rena. Aku ‘kan ingin tahu lebih jauh mengenai dirinya.

“Oh, itu. Maksudku—,” kalimat Tomoya terhenti saat aku tersenggol seorang siswa hingga aku terjatuh. Aku menggumamkan kata “aduh”, sementara siswa yang tadi, yang dengan beruntungnya tidak ikut terjatuh, mengulurkan tangannya padaku.

“Kau tak apa?” ucap siswa itu, singkat dan padat. Saat aku menengok padanya, ternyata siswa itu bisa dikategorikan sebagai ‘cowok cakep’. Rambut cokelat agak gelap, mata yang warnanya senada dengan rambutnya, benar-benar termasuk dalam kategori ‘cowok cakep’ deh! Tapi sayang, tidak termasuk dalam tipe cowok idamanku.

Beberapa detik kemudian, aku baru sadar dari lamunanku, lalu segera menggenggam tangannya. Ia lalu membantuku berdiri, dan aku pun menggumamkan kata terima kasih yang dijawab dengan ‘hn’ kecil. Siswa itu kemudian melangkah menjauhi aku dan Tomoya. Namun, baru dua langkah ia berjalan, ada suara dari belakangku yang menghentikan langkahnya.

“Bukankah seharusnya kau minta maaf dulu?” ucap Tomoya, yang sejak tadi diam saja, sambil tersenyum mengejek. Aura di sekitar Tomoya sedikit berubah. Sepertinya ia tidak menyukai siswa yang tadi itu. Siswa itu melirik malas ke arah Tomoya, berkata, “bukan urusanmu,” lalu kembali melangkahkan kakinya, masuk ke kelas 2-1. Aku hanya menatap Tomoya bingung. Kenapa ia sepertinya tidak menyukai siswa itu ya?

“Tomoya?” aku memanggil cowok berambut biru yang sedang menatap tajam ke arah pintu kelas 2-1 yang kini tertutup. “Tomoya!” aku memanggilnya lebih keras.

“E-Eh? Apa?” sepertinya Tomoya benar-benar tidak suka dengan siswa tadi hingga terus menatapnya, walaupun siswa tersebut sudah hilang dari pandangan kami.

“Ano, soal siswa yang tadi, kau—,” kalimatku terpotong karena bel tanda istirahat selesai berbunyi. Karena letak kelas kami masih jauh dari tempat kami berdiri sekarang, maka kami memutuskan untuk berlari sampai ke kelas. Di sela-sela kegiatan berlari kami, Tomoya mengajakku untuk menjenguk Rena sepulang sekolah, dan entah kenapa, aku menyetujuinya.

-Nine Days to be With You-

Dan, disinilah kami berdiri sekarang. Di depan kami terdapat sebuah rumah yang terlihat biasa saja, namun memiliki halaman yang cukup luas. Di bagian depan rumah tersebut terdapat papan nama bertuliskan Mikami. Tanpa basa basi, Tomoya langsung menekan bel rumah itu, namun tidak ada jawaban ataupun bunyi dari rumah tersebut. Penasaran, ia menekan tombol di depannya sekali lagi, namun masih tidak ada suara dari dalam rumah. Masih penasaran lagi, ia menekan tombol itu sebanyak tiga kali berturut-turut, namun hasilnya tetap nihil.

“Mungkin ia sedang tidur?” aku memberi penjelasan yang menurutku cukup logis, mencoba untuk mencegah Tomoya menekan bel rumah Mikami lagi.

“Mana mungkin, setidaknya pasti ada orang di rumahnya, ‘kan?” Tomoya membela dan menekan bel itu lagi. Masih tidak ada jawaban.

“Mungkin orang rumahnya sedang pergi? Kerja? Ke pasar?” yah, agak aneh sih, ada orang yang ke pasar sore-sore begini. Tapi, ya, siapa tau saja? Yang jelas aku ingin segera pergi dari sini.

“Yah, bisa juga, sih,” ucap Tomoya ragu-ragu. Uuh, kenapa sih, dia memikirkan Rena terus? Padahal awal-awal aku baru pindah, dia hanya memperhatikanku, ‘kan? Tapi sekarang…

“Ya sudah, kita pulang saja, yuk,” cowok di sebelahku melanjutkan kalimatnya. Aku lalu menatapnya dengan tatapan bagus-deh-kau-sudah-menyerah, lalu menjawab tanpa ragu, “ayo!”

-Nine Days to be With You-

Keesokan harinya, aku berjalan dengan agak lesu menuju gedung sekolah. Kemarin, saat berjalan pulang, kami tidak terlalu banyak mengobrol. Malamnya, aku tidak menerima satu pun mail dari Tomoya. Lalu, saat kupikir akhirnya Tomoya mengirimiku mail, ia malah bilang pagi ini tidak bisa berangkat bersama karena ‘ada urusan penting’ sehingga harus berangkat lebih pagi. Apa, sih, urusannya? Memangnya tidak bisa ditunda, ya?

Selagi sibuk dengan pikiran-pikiran seperti itu, tanpa sadar aku sudah sekitar lima meter dari gerbang sekolahku. Rasanya benar-benar sepi, padahal biasanya selalu ada suara orang itu, tapi sekarang…

“Iya, jadi kemarin kau kemana, sih?” tiba-tiba terlintas suara yang sudah sangat kukenal saat aku sedang berjalan melewati kelas 2-1. Saat aku menoleh ke dalam kelas tersebut, aku mendapati orang yang selama ini selalu ada di pikiranku, sedang mengobrol ria bersama gadis berambut cokelat kemerahan itu. Tomoya dan Rena. Tanpa pikir panjang, aku langsung mendekati mereka yang sedang mengobrol dengan riangnya.

“Jadi ini urusan pentingmu?” ucapku segera setelah aku sampai di depannya. Ia, cowok bodoh di depanku ini, menatapku terkejut.

“Aka—”

“Jadi, INI urusan pentingmu?!” aku mengucapkan kalimat itu lagi, sekarang lebih keras. Mataku terasa panas, siap untuk menangis.

“Bukan, kok. Ini—” ia menghentikan kata-katanya, seperti tidak tahu harus beralasan apa. Padahal ia tinggal berkata jujur..

“Kalau—,” aku berhenti sebentar, menahan air mata yang terus mendesak untuk keluar. “Kalau begini terus, kau pacaran saja sama Rena, dasar bodoh!!” lalu, aku pun meninggalkannya, berlari menuju atap.

-Nine Days to be With You-

Dua jam sudah berlalu setelah kejadian tadi pagi, dan selama itulah aku berada di atap sekolah ini, menangis, murung, dan kawan-kawannya. Untungnya, tidak seorang pun datang kemari. Tapi rasanya bosan juga, hanya bersedih disini, sendiri. Apa aku kembali ke kelas saja, ya? Pelajaran ketiga ‘kan olahraga, biasanya juga cewek dan cowok dipisah. Jadi sangat kecil kemungkinan aku harus berhadapan dengan orang bodoh itu.

Setelah berpikir selama sesaat –dan menunggu bel tanda ganti pelajaran berbunyi—, aku lalu memutuskan untuk pergi dari atap. Dengan gontai, aku melangkahkan kakiku menuju ruang kelas. Saat aku sampai, ada beberapa teman yang menanyakan keberadaanku, dan ada juga yang menanyakan soal mataku yang terlihat agak sembap. Namun, orang yang paling aku inginkan, hanya menatapku dari pojok kelas, tanpa ada tanda-tanda akan menghampiriku. Merasa kesal –atau sedih?-, aku pun segera mengambil baju ganti dan berlalu dari kelas itu bersama teman-temanku, meninggalkan dia yang masih tetap menatapku dengan sendu.

-Nine Days to be With You-

 “Akane-chan punya masalah dengan Satou-kun ya?” celetuk salah satu temanku, Miharu, saat kami sedang menunggu giliran melompati balok.

“A-A—,” aku tergagap saat ingin menjawab pertanyaan itu.

“Waah, ternyata benar, ya?” tanya Aya, temanku yang lain. “Padahal kalian terlihat akrab-akrab saja kemarin, ada apa, sih?” lanjutnya.

“Tidak ada apa-apa, kok,” kali ini aku mengucapkan kalimat yang satu ini dengan cukup meyakinkan.

“Bohoong, pasti ada apa-apanya, ‘kan? Kalau tidak mana mungkin Akane-chan bolos pelajaran?” ucap Miharu.

“Iya betul. Aku ingin tahu, nih, apa yang bisa menyebabkan pasangan legendaris 3-4 bertengkar,” Aya mengucapkannya sambil senyum-senyum. Aku pun blushing. Apanya yang pasangan legendaris, pacaran saja tidak, kok.

“Akane Daijihito!” suara guru olahraga kami, bu Kaneyo, membuat pembicaraan kami terhenti. Aku langsung berdiri dan mengucapkan kata “siap” dengan agak lantang, sekaligus berterima kasih kepada bu Kaneyo karena telah menginterupsi pembicaraan kami. Aku berjalan menuju balok, mengambil ancang-ancang, lalu berlari dan.. Dan tiba-tiba aku melihat siluet Tomoya yang sedang melihat ke arahku dari lapangan sepakbola di luar, menyebabkan aku kehilangan konsentrasi dan terjatuh saat sedang melompat. Alhasil, aku pun jatuh dengan tidak benar dan tidak elegan di atas matras.

“Daijihito, kau tidak apa-apa?” ucap bu Kaneyo dengan khawatir. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

“Tidak apa-apa kok, bu,” aku mengulurkan tangan kananku, namun berhenti di tengah jalan karena tanganku terasa agak sakit. Melihat reaksiku, bu Kaneyo menggenggam tanganku, lalu memeriksanya sebentar.

“Hanya terkilir biasa, sepertinya,” bu Kaneyo berkata sambil melepaskan genggamannya pada tanganku. “Lebih baik kau ke UKS dulu untuk membalut tanganmu,” lanjutnya. “Siapa yang mau menemani Daijihito?”

“Saya bisa sendiri kok, bu,” ucapku cepat sebelum ada yang menawarkan diri.

“Benar tidak apa-apa?” tanya bu Kaneyo, yang kujawab dengan “iya” kecil. Aku lalu mulai melangkahkan kaki meninggalkan tempat aku berada sekarang. Sebelum benar-benar pergi dari tempat ini, aku menyempatkan diri untuk melirik ke arah lapangan sepakbola. Namun lagi-lagi, aku tidak melihat sesuatu yang kuharapkan. Memang sih, aku melihat Tomoya di dekat pagar pembatas, namun ia tidak melirik ke arahku malah memunggungiku. Sebelum aku bersedih lagi, aku cepat-cepat melangkahkan kaki menuju UKS.

-Nine Days to be With You-

 “Permisi,” ucapku sopan saat membuka pintu ruang UKS. Sayangnya, tidak ada satu pun yang membalas perkataanku, yang berarti ruangan ini sekarang kosong. Aku melihat sekeliling sebentar, memastikan benar-benar tidak ada orang, lalu mulai mencari perban di laci penyimpanan. Setelah menemukannya, aku duduk di salah satu kursi, dan mulai memerban tangan kananku. Ternyata, susah juga memerban dengan tangan kiri. Sudah dua kali aku mencoba dan keduanya gagal. Saat aku mencoba memerban untuk yang ketiga kalinya, terdengar suara pintu dibuka. Aku menoleh ke arah pintu dan mendapati cowok yang kemarin menabrakku di dekat kelas 2-1 berjalan masuk sambil menggendong seorang gadis berambut cokelat kemerahan dengan bridal style. Rasanya, aku kenal gadis itu? Dia kan…

“Rena?” ucapku spontan saat melihat wajah gadis itu. Aku pun bangun dari kursiku untuk menghampiri mereka, tanpa mempedulikan perban yang hanya membalut tangan kananku secara asal-asalan. Aku pun langsung tersadar bahwa mata gadis di depanku itu tertutup. Pingsan?

“Dia kenapa?” aku lagi-lagi berkata dengan spontan. Padahal harusnya aku ‘kan membenci gadis berambut cokelat kemerahan ini, namun setiap kali bertemu dengannya –tanpa Tomoya, tentunya— aku malah semakin menyukainya. Habis, mirip boneka, sih!

“Hanya demam,” ucap cowok itu sambil membaringkan Rena di salah satu ranjang di ruang UKS. Ia menyelimuti gadis itu, kemudian menatapku dengan tajam, seakan sedang mempelajariku. Aku hanya menunduk, tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya agak-agak aneh diperhatikan begini. “Terkilir?”

“Eh?” kataku spontan. Aku lalu melihat cowok itu memperhatikan tangan kananku yang dari tadi tidak juga selesai kuperban. “I-Iya,” ucapku agak terbata. Ia menggumamkan sesuatu seperti “hee” kemudian mulai berjalan mendekatiku dan mengulurkan tangannya padaku.

“Coba kulihat,” dengan tersipu, aku memberikan tangan kananku padanya. Ia lalu membuka balutan perban asal-asalan yang tadi kubuat, lalu memerbannya dengan lebih rapi. Reaksiku, tentu saja malu. Walaupun dia bukan tipe cowok kesukaanku, tapi cowok keren tetaplah cowok keren. Yah, begitulah..

“Sudah selesai,” ucapannya membuatku terlonjak sedikit. Aku lalu memperhatikan tangan kananku yang sekarang sudah terbalut perban dengan rapi, lebih rapi dari perban yang selama ini kubuat.

“Terima kasih,” aku berkata masih dengan menunduk, sementara cowok itu membereskan perban yang sudah tidak dipakai.

“Anggap saja sebagai permohonan maaf untuk kemarin,” katanya seraya menaruh kotak perban ke tempatnya, lalu mulai melangkahkan kaki menuju pintu UKS. Sebelum ia keluar dari ruangan, aku menyempatkan diriku untuk menghentikannya.

“Ano—,” jeda sebentar, mencari kalimat. “Boleh tahu namamu?” lanjutku. Cowok itu menatapku sebentar, kemudian berkata sambil melangkah keluar pintu, “Setsuna Kohagi.” Dan, pintu pun tertutup.

-Nine Days to be With You-

 “HAAAH?! Tadi kau dibantu memerban oleh Setsuna Kohagi?!” ucap Aya dengan cukup lantang. Aku pun menghentikan perkataannya –atau teriakan?— dengan meletakkan telunjukku di depan mulut, lalu berbisik “shh”. Aya langsung tutup mulut. “Enaknyaa. Kalau begitu tadi aku saja yang terkilir,” lanjutnya. 

“Itu sih, aku juga mau,” Miharu menimpali. “Dia kan salah satu cowok keren yang ada di sekolah ini. Memang sih, dia lebih muda satu tahun, tapi cowok keren tetaplah cowok keren!” lanjutnya dengan riang.

“Tapi gosipnya dia sudah punya pacar kan?” ucap Aya, yang dibarengi dengan “eeh”-nya Miharu.

“Pacar? Siapa?” entah kenapa, aku agak penasaran.

“Etto, kalau tidak salah sih, adik kelas juga—,” Aya tiba-tiba berhenti, lalu menatapku iseng. “Kau tidak berpikir untuk “banting setir” dan mendekati Kohagi, ‘kan? Kalau iya, nanti kasihan Satou, loh! Kalian kan pasangan legendaries kelas 3-4,” lanjutnya. Aku blushing.

“S-Sudah kubilang kami bukan pasangan!” protesku, masih dengan blushing. “Lagipula, yang disukai Tomoya bukan aku,” tambahku yang entah kenapa malah mengingat kejadian tadi pagi.

“Oh ya, bicara soal Satou, tadi kau bertemu dengannya di UKS?” Miharu tiba-tiba bertanya padaku, yang tentu saja kujawab dengan tidak. Kami tidak bertemu di UKS. Aku juga sedang tidak ingin bertemu dengannya.

“Aneh, tadi katanya Satou mau ke ruang UKS. Masa ‘sih kau tidak bertemu dengannya?” lanjut Miharu. Tiba-tiba bayangan Rena terlintas dalam kepalaku. Iya juga ya, Rena ‘kan sekarang sedang ada di UKS.

“Mungkin yang ingin ditemui Tomoya bukan aku, tapi Rena,” ucapku tanpa sadar. Aya dan Miharu bertukar pandang.

“Yang kau maksud itu Rena Mikami dari kelas 2-1?” tanya Aya setelah puas bertukar pandang dengan teman disebelahnya. Aku menjawabnya dengan anggukan, kemudian mereka bertukar pandang lagi.

“Ada apa, ‘sih?” ucapku akhirnya, cukup penasaran untuk mengetahui apa yang ada di dalam pikiran mereka.

“Jangan kaget ya, Akane-chan,” Aya memulai. “Menurut gosip yang kudengar, Rena Mikami itu pacarnya Setsuna Kohagi yang tadi kau temui!” lanjutnya. Oh, pantas saja tadi Kohagi menggendong Rena ke UKS. Tapi tunggu, bukankah Rena harusnya dengan Tomoya? Atau jangan-jangan Tomoya dipermainkan oleh Rena?

Saat sedang asyik berpikir, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Aku menoleh ke arah pintu, dan mendapati Tomoya sedang berjalan ke arahku. Pandangannya mantap(?). “Akane, aku perlu bicara denganmu.”

-Nine Days to be With You-

Tujuh menit kemudian, aku berdiri di atap bersama dengan Tomoya. Aku menghadap pagar yang mengelilingi atap, sedangkan Tomoya ada di belakangku. Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara.

“Akane aku—,” Tomoya memulai pembicaraan. “Aku dan Rena tidak ada hubungan apa-apa, ‘kok. Aku hanya menganggapnya adik. Hanya itu, tidak lebih,” lanjutnya.

“Bohong,” ucapku sambil berbalik untuk menatapnya. “Kalau tidak ada hubungan, kenapa kalian sering menghabiskan waktu bersama?”

“Itu—,” Tomoya menghentikan kalimatnya, mencari kata-kata yang tepat. “Aku yang minta, kok. Habis pacarnya tidak begitu perhatian padanya, jadi—” lagi-lagi mencari kata.

“Pacarnya.. Pacar Rena itu Setsuna Kohagi, ‘kan?” aku mengingat peristiwa di UKS, saat Rena dibawa oleh Kohagi.

“Darimana kau tahu?” tanya Tomoya, terlihat agak terkejut.

“Sudah kuduga, gosip itu benar,” bisikku. “Kalau begitu, kau sudah ditipu oleh Rena. Pacarnya memperhatikannya kok.”

“Haah? Kau tahu darimana? Mana mungkin Rena bohong, sih,” Tomoya segera menyangkal kalimatku, membuatku makin kesal padanya.

“Ya sudah kalau tidak percaya,” ucapku, lalu melangkahkan kaki menuju pintu sambil menahan emosiku yang agak tidak stabil. Namun, saat aku meraih kenop pintu, aku merasa sebuah tangan menggenggam lenganku dengan agak erat.

“Tunggu, aku belum selesai bicara, Akane,” ucap Tomoya tegas. “Sebenarnya, selama ini—”

“Cukup,” ucapku singkat sambil menyentakkan tanganku hingga membuat Tomoya terkejut. “Jangan berkata apa-apa lagi,” aku tidak ingin mendengar kata-kata itu sekarang! Melihat tidak adanya tanda-tanda gerakan lanjut dari Tomoya, aku pun meneruskan memutar kenop pintu dan pergi dari hadapannya.

-Nine Days to be With You-

Aku berlari menuruni beberapa tangga, kemudian menyusuri lorong kelas tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di sekelilingku. Aku terus berlari hingga mencapai sebuah lorong yang jarang dilewati siswa, tepatnya hingga aku menabrak seseorang di lorong tersebut. “Aduh,” rintihku pelan.

“Kau lagi,” ucap orang yang tadi bertabrakan denganku. Saat aku melihat orang tersebut, aku langsung tahu mengapa ia mengucapkan kata seperti itu.

“Setsuna Kohagi..?” aku berkata dengan agak tidak percaya. Kenapa dari kemarin rasanya bertemu dengan dia terus, ya? Jangan-jangan…

“Kau habis menangis?” Kohagi tiba-tiba berkata, membuatku agak terkejut.

“T-Tahu darimana?” ucapku sekenanya. Cowok di depanku malah terdiam, menggumamkan sesuatu, lalu kembali terdiam.

“Mau cerita?” ucapnya setelah beberapa saat. EEEHHHH?!?!

-Nine Days to be With You-

Dua jam pelajaran telah lewat saat ceritaku pada Kohagi selesai. Ya, aku menceritakan semuanya padanya. Ralat, HAMPIR semua kuceritakan. Tentu saja aku tidak menceritakan semua kejadian di atap bersama Tomoya tadi. Lalu, aku juga mengganti nama-nama mereka. Tomoya kuubah menjadi Takuto, Rena menjadi Lisa, dan Kohagi menjadi Kazuya.

“Begitu, ya,” ucap Kohagi sekenanya setelah aku selesai menceritakan kisahku –versi yang sudah diedit, sih.

“I-Iya,” aku menjawab dengan masih agak canggung. Kami lalu terdiam sebentar.

“Benar-benar, deh,” bisik lawan bicaraku.

“Eh?”

“Nggak,” ia kembali datar. “Kau yakin?” lanjutnya. Aku terdiam, tidak mengerti maksud dari kalimatnya. Menyadari hal ini, ia mengulangi pertanyaannya. “Kau yakin  dengan pilihanmu?”

Aku kembali terdiam. Apa aku yakin dengan pilihanku? Apa aku yakin ingin mengakhiri hubunganku dengan  Tomoya? Aku sama sekali tidak tahu. Kupikir percuma saja memikirkan hal-hal seperti itu. Jadi, aku menjawab “tidak tahu” dengan jujur. Saat Kohagi terdiam, aku memutuskan untuk berbicara lebih banyak lagi. “Aku tidak tahu apakah aku yakin dengan pilihanku. Tapi tidak ada jalan lain, ‘kan? Kalau aku terus berada di dekat Tomo— eh, Takuto, kami hanya akan saling menyakiti. Jadi—“ aku tidak berani meneruskan kata-kataku.

“Jadi kau memilih untuk menjauhinya, ya?” sambung Kohagi setelah aku terdiam beberapa saat. Aku menjawabnya dengan anggukkan. Memang benar apa yang dikatakannya. Kupikir jika aku tidak bertemu dengan Tomoya lagi, semua pasti akan berjalan dengan lebih baik. Mungkin aku juga bisa berteman baik dengan Rena, tanpa ada rasa kesal. Tapi— apa benar itu yang terbaik?

“Aku kenal seseorang yang seperti itu,” tiba-tiba Kohagi berbicara. “Orang bodoh yang berpikir lebih baik menjauhi gadis yang ia sukai demi keselamatan gadis tersebut. Tapi yang terjadi malah gadis itu jadi sering melibatkan diri pada hal-hal yang berbahaya.” Kohagi terdiam selama beberapa detik. 

“Untungnya ada seseorang yang menyadarkan orang bodoh itu. Orang tersebut berkata, ‘sampai kapan kau akan membiarkannya sendiri? Kau tahu, ‘kan, seberapa terlukanya dia? Berhentilah kabur dan jujurlah pada perasaanmu sendiri. Kau menyukainya, ‘kan?’” Lagi, Kohagi terdiam. Kali ini cukup lama.

“Yah, begitulah,” cowok di sebelahku mulai bicara lagi setelah hampir satu menit terdiam. Ia lalu bangkit berdiri, dan mulai berjalan meninggalkanku sendiri.

“M-Mau kemana?” ucapku agak terbata.

“Pergi,” ucapnya singkat. Dua langkah kemudian, ia berkata, “Sisanya kau pasti bisa sendiri,” dan benar-benar pergi meninggalkanku sendiri.

Sambil menatap Kohagi pergi, aku kembali berpikir. Apakah aku yakin dengan pilihanku? Apakah ini yang terbaik? Apa— Apa aku telah jujur pada perasaanku sendiri? Perkataan Kohagi masih terngiang di dalam kepalaku.

‘Berhentilah kabur dan jujurlah pada perasaanmu sendiri.’

Mana bisa aku jujur padanya. Apalagi jika tahu yang dia sukai kemungkinan besar bukan aku..

‘Kau menyukainya, ‘kan?’

Tentu saja aku menyukainya. Dia baik, tipeku –apalagi dia pakai kacamata!–, dan lagi dia selalu memperhatikanku. Tapi— Apa aku bisa menang dari Rena? Tapi kalau tidak, Tomoya akan direbut Rena, ‘kan?

Setelah berpikir lagi selama hampir dua puluh lima menit, aku akhirnya bangkit berdiri. “Aku—sudah memutuskan.”

-Nine Days to be With You-

Aku memutuskan untuk melewatkan jam pelajaran terakhir, yang sebenarnya hanya tinggal sepuluh menit lagi, dan menunggu Tomoya di dekat loker sepatu. Dalam sepuluh menit itu, aku berpikir lebih lanjut mengenai keputusan yang baru kubuat beberapa menit sebelumnya—dimana aku akan membicarakannya, apa yang akan kukatakan, semuanya.

Tanpa terasa, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi dan siswa-siswi mulai berdatangan ke dekat tempatku menunggu Tomoya. Aku mulai merasa gugup. Bagaimana kalau keputusanku salah?? Namun aku sudah tidak bisa lari dan berbohong lagi pada perasaanku.

“Aka—ne?” terdengar suara seseorang yang daritadi kutunggu kedatangannya. “Sedang apa kau disini?” lanjut orang itu. Aku harus percaya diri!

“Aku ingin bicara denganmu.”

-Nine Days to be With You-

 “Ada apa?” ucap Tomoya beberapa saat setelah kami sampai di belakang gedung sekolah. Aku masih diam, mempersiapkan hati untuk mengutarakan sebuah kejujuran. Merasa pertanyaannya diabaikan, Tomoya melanjutkan perkataannya. “Jangan-jangan kau masih marah karena masalah di atap tadi?” Terjadilah jeda yang cukup lama, karena tidak ada satu pun dari kami yang berbicara.

“Aku mungkin tidak seperti Rena,” ucapku, memulai pengakuanku. “Aku tidak periang, tidak imut, sering cemburu—” aku menghentikan kalimatku sebentar, mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan kalimat tersebut. “Tapi sebenarnya aku—”

“Stop,” kalimatku terhenti lagi saat Tomoya meletakkan tangannya di depan wajahku. “Sebelum itu, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu,” lanjutnya, lalu terdiam. Suasana hening untuk beberapa saat.

“Kau memang sama sekali tidak mirip dengan Rena. Seperti yang kau bilang, Rena itu periang, manis, dan nyaman diajak bicara,” aku merasa sebal saat Tomoya menyanjung Rena seperti sekarang ini, namun aku tetap diam karena merasa kalimat itu belum selesai. “Tapi, rasanya dia sulit dijangkau. Rasanya—apalagi beberapa minggu terakhir ini— aku lebih senang saat bersamamu. Lalu, setelah satu hari yang agak menyiksa ini, akhirnya aku mengerti.” Tomoya menghentikan kalimatnya sebentar, lalu menatapku tanpa ragu.

“Akane Daijihito, aku menyukaimu,” ucapnya tanpa basa basi lagi. Aku tertegun, tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Tomoya masih mengucapkan beberapa kata lagi, namun aku sama sekali tidak mendengarkannya, terlalu sibuk berpikir apakah ini nyata atau tidak. “—Maukah kau jadi pacarku?”

Sekali lagi, aku tertegun. Namun tidak butuh waktu lama untuk kembali memusatkan pikiranku pada kalimat yang satu itu.

‘Maukah kau jadi pacarku?’

“Iya,” bisikku pelan dan tanpa sadar. “Iya, aku mau!” lanjutku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Kali ini giliran Tomoya yang terlihat kaget.

“Benarkah?” ucapnya dengan wajah yang berseri-seri. Aku menjawabnya dengan anggukkan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia langsung menerjang ke arahku dan memelukku dengan lembut. Aku langsung blushing.

Tomoya lalu melepaskan pelukannya dan memandangku, yang masih blushing. Ia mendekatkan wajahnya padaku dan……

“Aduh, jangan dorong-dorong dong, Nami!” terdengar suara seseorang yang menginterupsi kegiatan kami. Dari balik dinding di belakangku, muncul sosok Rena, Kohagi, Tatsuzawa –teman Rena yang waktu itu— dan satu cowok lagi yang tidak kukenali. Merasa diperhatikan, apalagi oleh empat orang sekaligus, aku langsung blushing dan menjauh dari Tomoya.

“Tuh kan, jadi menjauh,” Rena kembali berbicara, sambil berjalan mendekati kami. “Maaf ya sudah mengganggu,” ucapnya salah tingkah.

“I-Iya,” aku menjawab dengan pelan, hampir berupa bisikkan.

“Tapi, ‘gak bisa diteruskan ya, kak Daijihito?” Tatsuzawa berkata sambil tersenyum jahil. Aku tambah blushing.

“Sudah, deh, jangan ganggu pacar orang,” Tomoya ikutan nimbrung. “Lebih baik kalian pulang, sana!” usirnya.

“Iya, iya. Pasangan baru ‘kan tidak mau diganggu, ya,” ledek Rena, yang mulai pergi meninggalkan kami berdua. Setelah hampir satu menit, mereka pergi dan kami kembali berdua.

“Dasar, mereka itu,” keluh Tomoya. Aku hanya diam, masih terlalu blushing untuk menanggapinya. “Akane?” suara Tomoya terdengar lagi.

“Ya?”

“Kita pulang, yuk,” Tomoya mengulurkan tangan kirinya padaku. Aku terdiam sebentar lalu menaruh tangan kananku diatas tangannya yang terulur, kemudian mengatakan “ayo” dengan bersemangat. Dan, kami pun berjalan pulang dari sekolah dengan bergandengan tangan.