Tersebutlah seorang pemuda yang berbeda dari orang biasa
Ia tidur pagi, bangun malam dan meminum darah
Banyak orang yang menyeganinya
Suatu kesempatan, ia bertemu dengan seorang gadis
Yang berparas dan bertutur kata manis
Mereka segera akrab dan sering bertemu pada malam kamis
Hari-hari yang sangat menyenangkan bagi sang pemuda
Hari kelabu yang telah kembali berwarna
Sesuatu berbeda pada saat itu
Sang gadis tidak terlihat dimana pun malam itu
Gantinya, sepasukan bersenjata menunggu sang pemuda
Perintah sang gadis, salah satu berkata
Sang pemuda hendak berkata, namun terhenti oleh amukan massa
Ia segera berlari menghindari mereka
Berlari hingga sampai di ujung rimba
Pengejar segera mengisi senjatanya
Panah perak ditembakkan, namun sakit tidak terasa
Sang gadis datang dan melindungi kekasihnya, menerima panah dengan tubuhnya
Darah tak dapat dihentikan, sang gadis berbisik meminta maaf
Berkata "aku mencintaimu" yang pertama dan terakhir kalinya
Tangannya menjadi dingin, pergi untuk selamanya
Diliputi emosi, sang pemuda menyerbu massa hingga semua lari tiada sisa
Sang pemuda melihat sang gadis terakhir kalinya
Berjanji tidak akan lagi berhubungan dengan manusia
I made this blog for my stories that half-abandoned in my computer. There are some fan fictions, and others are my original stories. Enjoy :)
May 5, 2013
May 2, 2013
Balada Seorang Gadis
(Terinspirasi dari Secret Black Vow - nya Kagamine Rin, sih.. So, this story<balada?> isn't mine)
Balada Seorang Gadis
Tersebutlah seorang bersayap putih
Dan seorang gadis dengan gaun rapi
Mereka bertemu dalam suatu kesempatan
Di sebuah jalan penuh kenangan
Mereka sangatlah dekat
Hingga sang gadis bertunangan
Terjadilah pertikaian yang menyisakan duka
Sang gadis ditinggal sahabat tercintanya
Hari demi hari berganti dengan cepat
Sang gadis menutup hatinya rapat
Sampai ia bertemu pemuda hebat
Di tempat kenangan, taman sebelah barat
Pemuda itu mengembalikan tawa yang lama tak terlihat
Namun sayang, sang gadis pergi menemui sahabat
Terbunuh oleh seorang kerabat dekat
Meninggalkan pemuda yang dicintainya sangat
Balada Seorang Gadis
Tersebutlah seorang bersayap putih
Dan seorang gadis dengan gaun rapi
Mereka bertemu dalam suatu kesempatan
Di sebuah jalan penuh kenangan
Mereka sangatlah dekat
Hingga sang gadis bertunangan
Terjadilah pertikaian yang menyisakan duka
Sang gadis ditinggal sahabat tercintanya
Hari demi hari berganti dengan cepat
Sang gadis menutup hatinya rapat
Sampai ia bertemu pemuda hebat
Di tempat kenangan, taman sebelah barat
Pemuda itu mengembalikan tawa yang lama tak terlihat
Namun sayang, sang gadis pergi menemui sahabat
Terbunuh oleh seorang kerabat dekat
Meninggalkan pemuda yang dicintainya sangat
March 24, 2013
Cat Story
Aku sudah tidak tahu berapa lama aku berada di
jalanan. Terasa seperti sudah bertahun-tahun, namun aku yakin belum selama itu,
sebab aku masih saja belum mati. Aku adalah seekor kucing hitam yang tinggal di
sebuah kardus dekat tiang listrik di sebuah jalan yang namanya saja tidak
kuingat. Aku tidak punya nama—atau lebih tepatnya aku melupakan namaku sendiri.
“Waah, kucing yang lucu,” ucap seorang gadis
berambut panjang saat ia melihatku. Aku mengeong menjawabnya. Ia baru saja akan
mendekatiku saat teman disebelahnya, yang berambut pendek itu, menghentikannya.
“Jangan, kita tidak tahu apakah kucing itu bersih atau
kotor,” alasannya. Aku lihat kakak berambut panjang itu mengeluh, namun
akhirnya perdebatan mereka dimenangkan oleh si rambut pendek.
“Maaf ya, kucing kecil,” bisik kakak berambut
panjang tadi. Mereka pun meninggalkan aku sendirian.
Akhir-akhir ini banyak yang seperti itu. Dua orang
pergi bersama, yang satu melihatku dan ingin menyentuhku, namun yang lainnya
menghentikannya. Hasilnya, mereka pergi seperti kakak tadi, dan aku tidak dapat
makanan, maupun elusan. Sekarang saja, aku sudah tidak makan selama dua hari.
Manusia zaman sekarang memang merepotkan.
*Cat
Story*
Sore ini hujan lebat. Tidak, bukan hujan, lebih
tepat lagi jika disebut badai. Dan, aku berjalan sendiri di tengah badai
tersebut. Lima menit yang lalu, saat hujan belum turun, aku sedang
berjalan-jalan di pertokoan dekat ‘rumah’ku, mencari makanan sisa, dan
untungnya aku mendapatkan makanan yang cukup untukku hari ini. Namun, saat
berjalan pulang, hujan turun dan dalam lima detik berubah menjadi badai. Dan
sekarang aku sedang menembus badai itu, berusaha untuk mencapai kardusku
tersayang, hanya untuk mendapati bahwa kardus itu telah tiada. Tepatnya, begitu
aku sampai di depan kardusku, menit itu juga kardus tersebut terbang ditiup
angin, entah kemana. Aku hanya bisa melongo melihatnya. Kalau begini, dimana
aku akan tinggal selanjutnya?
“Kau kehujanan?” aku mendengar sebuah suara, yang
sepertinya ditujukan kepadaku. Aku pun berbalik dengan perasaan senang, mungkin
orang itu akan memungutku? Namun ternyata itu hanyalah seorang cowok yang menggoda
cewek cantik, tepat di depanku. Huuh, sial sekali sih aku hari ini!
Aku akhirnya memutuskan untuk duduk di tempat
kardusku seharusnya berada. Tubuhku sudah basah sejak tadi, dan tentu saja aku
kedinginan. Tapi kurasa ini semua tidak dapat membunuhku. Aku berbeda dengan
kucing-kucing normal yang ada di seluruh dunia, aku setengah manusia. Bukan
siluman atau semacamnya. Seharusnya aku berwujud manusia, tetapi entah
bagaimana aku dikutuk—begitu aku menyebutnya—sehingga harus berwujud kucing
begini sampai aku menemukan orang yang tepat untuk menjadi partnerku.
Tunggu, kenapa aku jadi membahas hal itu? Itu tidak
penting sekarang. Lebih penting lagi, mau tinggal dimana aku setelah ini?! Apa
aku harus cari kardus baru? Tapi, aku sama sekali tidak ingat dimana aku
menemukan kardus yang terbang tadi. Sekarang juga susah untuk mencari dan
membawa kardus bekas, apalagi aku hanyalah seekor kucing. Jadi bagaimana?!
Apakah harus menyerah pada nasib? Aku tidak suka itu, tapi kalau dalam kasus
kali ini, mau bagaimana lagi..?
Tiba-tiba, aku merasa ada seseorang yang mengangkat
tubuhku. “Kau basah sekali. Main hujan-hujanan ya, tadi?” ucap orang itu sambil
mendekapku ke badannya. Rasa hangat langsung menjalari tubuhku. “Kubawa ke
rumah saja ah, mumpung tidak ada orangtuaku,” lanjutnya, sambil membawaku
pergi.
Ng? Tunggu, kalau begini— berarti aku diculik? Aku
langsung memberontak sekuat tenaga, meminta untuk diturunkan. “Hei, jangan
bergerak terus, nanti kau jatuh,” ucap orang itu lembut. Saat itu, aku baru
melihat wajahnya. Ternyata ia adalah cowok yang lumayan keren. Yaah, kalau
begini sih, aku mau saja dibawa ke rumahnya.
*Cat
Story*
Sesampainya di rumah orang itu, ia langsung
memandikanku dan mengeringkanku. Ia mengajakku bicara mengenai banyak hal. Dari
percakapan itu, aku tahu kalau namanya adalah Ryuuichi. Ia tinggal dengan
ayahnya, yang baru saja menikah lagi dan sekarang sedang berbulan madu dengan
istri barunya. Ia sama sekali tidak menceritakan soal ibunya, jadi aku tidak
tahu apapun mengenai itu. Selain itu, ia juga memberiku nama, Roku. Katanya, ia
memberiku nama Roku karena ia suka angka enam, dan karena jika hurufnya ditukar
bisa menghasilkan kuro, warnaku. (P.S : roku dan kuro adalah bahasa Jepang,
yang artinya ‘enam’ dan ‘hitam’)
Kami cepat berteman, aku tahu itu, karena dalam
waktu satu hari, aku sudah menunggu-nunggu kepulangannya. Dalam seminggu, kami
sudah menjadi teman dekat. Mungkin orang inilah partner yang kucari?
Masalah datang saat ayah dan istri baru ayahnya
pulang. Ternyata, istri baru tersebut alergi terhadap kucing, sehingga aku
hampir diusir dari rumah itu. Namun Ryuuichi membelaku sekuat tenaga, sehingga
akhirnya aku masih boleh tinggal disana.
Kukira masalahnya sudah beres sampai disitu,
sehingga aku dapat tidur dengan tenang malam harinya. Maka dari itu aku kaget
saat terbangun di tengah malam, dan mendapati diriku berada di ruangan yang
sangat gelap. Aku terguncang-guncang di dalam ruangan itu, sehingga membuatku
pusing. Beberapa menit kemudian, guncangan itu berhenti dan aku ditarik keluar
dari tempat gelap yang sebenarnya adalah sebuah tas. Aku melihat ayah Ryuuichi,
yang sekarang sedang menarik leherku—ya, tentu saja sakit!—, merupakan dalang
di balik semua itu.
“Maaf ya, kucing manis. Kau tidak bisa tinggal di
rumahku lagi karena istriku tidak tahan dengan bulumu,” ucapnya membuka
percakapan. Aku mengeong marah beberapa kali. Kalau Ryuuichi tahu, ia pasti
akan pergi mencariku! “Hm? Kau tenang saja soal Ryuuichi. Akan kuberikan ia
peliharaan yang super imut, sehingga ia pasti akan melupakanmu.” Dan dengan
begitu, orang jahat tersebut melemparku dan meninggalkanku di tempat antah
berantah ini.
Untungnya, aku mendarat di rumput, sehingga tubuhku
tidak terlalu sakit. Sialnya, aku tidak tahu dimana aku berada sekarang. Hanya
sungai dan rumput-rumput tinggi yang ada di sekelilingku. Aku sama sekali tidak
tahu daerah ini. Akhirnya, aku hanya berjalan. Berjalan, berjalan, dan
berjalan. Entah berapa hari telah lewat hingga aku menemukan sebuah rumah yang
sangat kukenal. Ya, itu rumah Ryuuichi. Aku sangat senang melihatnya hingga
tanpa sadar aku berlari menuju rumah itu, menaiki temboknya, hendak mengeong
untuk memberitahu Ryuuichi tentang keberadaanku, sebelum melihat seekor tupai
di dalam rumah itu. Tupai tersebut melihat ke arahku sekilas, lalu pergi ke
arah Ryuuichi. Ryuuichi terlihat senang dan mengelus tupai itu, seperti dulu ia
mengelusku. Akhirnya, aku mengurungkan niatku dan pergi dari rumah itu, kembali
berjalan tanpa arah.
*Cat
Story*
Aku merasa sudah lebih dari seminggu aku berjalan,
sama sekali tidak makan, sehingga sekarang perutku benar-benar keroncongan.
Namun aku sama sekali tidak berniat untuk makan. Jadi, aku terus berjalan
hingga aku akhirnya benar-benar kelelahan dan berhenti di dekat sebuah tiang
listrik. Sepertinya, aku kembali ke awal, ya?
Aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di
sebelah tiang listrik tersebut, tepat ketika hujan turun. Basah lagi, deh,
pikirku. Perutku juga lapar. Tapi, daripada tidak ada tujuan begini, lebih baik
mati, ‘kan? Jadi, aku tidak menghiraukan semua itu dan tidur-tiduran saja di
tempatku berada, hingga akhirnya aku benar-benar ketiduran. Apakah saat aku
bangun nanti aku akan tiba di surga? Apakah aku akan jadi malaikat kucing? Yah,
yang manapun boleh, asalkan jangan tetap disini. Aku lelah dengan dunia ini.
Begitu aku membuka mata, entah kenapa aku mendapati
diriku berada di tempat yang berbeda dengan saat aku tidur tadi. Kini aku
berada di sebuah tempat yang terlihat seperti rumah. Tubuhku tidak lagi basah,
malah ditutupi oleh selimut. Apakah aku dipungut lagi, tanpa sepengetahuanku?
“Sudah bangun?” terdengar kalimat acuh tak acuh yang
ditujukan padaku. Aku melihat ke arah asal suara itu sambil mengeong pelan.
Orang yang mengajakku bicara tersebut mempunyai rambut berwarna merah, dan ya,
dia cowok. Lagi. Aku langsung bangun dari posisi tidurku, berganti menjadi
posisi siaga. Aku malas berurusan dengan manusia sekarang. Namun orang itu
tidak mendekat ke arahku. Ia justru pergi ke pojok ruangan dan kembali
membawa.. ikan?
“Kau lapar, ‘kan?” ucapnya sambil meletakkan piring
berisi ikan itu di hadapanku. Aku masih dalam posisi siaga saat aku merasa
perutku berbunyi, minta diberi makan. Akhirnya aku melahap ikan itu. Enaak..
*Cat
Story*
Sekarang, aku terjebak bersama orang aneh. Tepatnya
sih, aku tidak tahu apa-apa tentang orang ini. Ia tidak memberitahuku namanya
dan hampir tidak berbicara padaku sama sekali. Sama sekali berbeda dengan
Ryuuichi, tapi aku cukup suka dengan orang yang ini. Tunggu, kutarik kembali
kata-kataku. Aku hanya suka pada si rambut merah— begitu aku memanggilnya— ini
saat ia mengelusku saja. Entah kenapa rasanya aku senang sekali setiap ia
mengelusku. Yah, walaupun dulu Ryuuichi juga mengelusku, tetapi rasanya
berbeda, entah kenapa.
Kembali ke si rambut merah, kesehariannya juga aneh.
Ia terlihat seperti remaja, namun tidak pergi sekolah. Setiap pagi ia pergi
entah kemana, memakai baju bebas, dan pulang sekitar jam empat sore. Aku juga tidak
menemukan baju seragam saat aku menyelinap ke dalam lemari bajunya. Err— bukan
untuk apa-apa sih. Tepatnya, saat itu aku tidak ada kerjaan, kemudian iseng
masuk lemari bajunya dan terkunci disana. Untungnya si rambut merah menemukanku
tidak lama kemudian. Selain baju, yang aneh adalah kadang-kadang ia pulang
dengan terluka. Memang, sih, lukanya tidak parah, tetapi tetap saja, luka.
Kadang aku suka menjilati lukanya yang bisa kujangkau, sekedar membalas budi
setelah dirawat olehnya, sambil berpikir, sebenarnya apa sih yang dilakukan
oleh si rambut merah?!
*Cat
Story*
Malam itu tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Jam
menunjukkan pukul sebelas malam. Aku sedikit haus, jadi aku pergi ke luar kamar
si rambut merah— ya, aku tidur di kamarnya, di atas bantalnya— menuju ke
tempat minum yang sudah ia siapkan.
Setelah minum, aku iseng-iseng melihat ke arah ruang tamu, dan melihat si
rambut merah sedang duduk di sana. Matanya menerawang keluar ruangan, menatap
langit. Aku pun menghampirinya dan mengeong setelah sampai di dekatnya. Ia
melihatku, lalu mengelusku sementara aku menutup mataku, menikmati tangannya
menyusuri buluku.
“Dulu aku punya seorang partner saat masih tinggal
di Eropa,” tiba-tiba terdengar suara si rambut merah. “Namanya Karen. Ia adalah
cewek yang baik dan cantik. Aku senang berpasangan dengannya, namun sepertinya
ia tidak merasa begitu. Suatu hari, ia pergi meninggalkanku,” lanjutnya. “Aku
terus mencarinya hingga kemari. Ada orang yang menyatakan bahwa ia melihat
Karen di Jepang. Dalam waktu dua hari, aku menemukannya. Namun, ia tidak
seperti Karen yang kukenal dulu. Ia sudah berpartner dengan orang lain, dan ia
terlihat senang.” Aku teringat saat melihat Ryuuji dengan tupai peliharaannya
itu.
“Tadi sore, aku pergi ke rumah sakit dengan niat
menengok Karen. Katanya ia terluka cukup parah saat bertugas. Namun saat aku
sampai disana, aku melihat Karen sedang tertawa bersama partner barunya.
Sesuatu yang aku dan dia jarang lakukan dulu.” Sebuah jeda yang panjang.
Akhirnya, karena ia tidak juga memulai percakapan, aku berjalan ke kakinya dan
mengusapkan wajahku pada celana yang ia pakai. Kalau dalam bahasa kucing, meminta
untuk diperhatikan, mungkin? Namun aku memakainya agar dia tidak merasa sedih.
Entahlah, mungkin tinggal bersama orang ini telah menyihirku sedemikian rupa
hingga aku merasa ia adalah orang yang selama ini kucari.
Menanggapi sikapku yang terbilang manja itu, ia
tersenyum kecil dan mengangkatku. “Sudah waktunya tidur,” ucapnya, lalu
membawaku ke kamarnya.
*Cat
Story*
Keesokan paginya, aku bangun di atas kasurnya, dan
melihat wajahnya yang terlihat aneh, seperti kaget. Namun aku masih terlalu
mengantuk untuk menyadari hal itu, sehingga aku mengucapkan dua kata saja,
“Selamat pagi.”
Ng? Tunggu, itu suaraku? Aku melihat tanganku,
keduanya tangan manusia sekarang. Begitu juga, aku yakin, dengan tubuhku.
Berarti aku sudah lepas dari kutukan itu? Berarti, si rambut merah memang
partner yang kutunggu?
*Cat
Story*
Sekarang aku berada di ruang tamu, duduk dengan
manis mengenakan pakaian yang kupinjam dari si rambut merah. Aku sengaja tidak
menceritakan kelanjutan kisah di kamar tidur tadi, karena, yah, sedikit
memalukan untukku.
“Jadi, kau salah satu klan kucing yang terkenal
itu?” ucap si rambut merah membuka percakapan. Aku hanya mengangguk
menanggapinya. Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan kalimatnya. “Kalau begitu,
aku harus menangkapmu.” Aku spontan kaget. “Kau tahu kan, kucing dan anjing
bermusuhan, sama seperti kedua klan kita. Aku, klan anjing, berpihak pada polisi dan klan kucing berpihak
pada mafia. Jadi, aku harus menangkapmu,” jelasnya.
“U-Umm.. Sebenarnya, aku tidak terlalu mengerti
penjelasanmu, karena aku sama sekali tidak ingat dengan keluargaku sendiri,
ataupun yang kau sebut klan kucing itu. Selain itu, aku juga— eh—,” aku
terbata-bata di akhir kalimatku.
“Juga apa?” tanya si rambut merah to the point.
“Aku— sebenarnya.. I-Ingin menjadi partnermu,”
ucapku dengan susah payah. Yah, kalau mendengar penjelasannya, mungkin ia tidak
akan mau menjadi partnerku, tapi mungkin saja, ‘kan?
“Itu mustahil,” jawabnya setelah beberapa detik.
“Kau dengar, ‘kan, kata-kataku tadi?”
“Iya, tapi.. A-Apa tidak bisa jika tidak memikirkan
itu semua?” aku mencoba membela diri, meski mataku sudah panas rasanya.
“Maaf,” ucapnya, menghancurkan semua harapanku.
“Begitu—ya?” aku masih menahan tangisanku. “K-Kalau
begitu, maaf sudah merepotkan selama ini. T-Terima kasih,” lanjutku, kemudian
segera meninggalkan tempat itu. Aku kembali berlari tanpa arah, di jalan, namun
sudah bukan berwujud kucing, melainkan berwujud manusia. Meski begitu, rasanya
berkali-kali lipat lebih baik menjadi kucing sekarang. Tapi aku tidak menuruti
keinginanku, dan terus berlari tanpa arah, dengan air mata yang masih mengalir
turun dari mataku.
*Cat
Story*
Aku sudah sangat capek ketika aku sampai di sebuah
taman bermain untuk anak-anak. Hari juga sudah hampir gelap saat itu. Kehabisan
napas, akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat di taman itu. Aku menduduki
salah satu kursi di sana, menaikkan kedua kakiku ke atas kursi panjang itu, dan
menarik lututku hingga aku bisa memeluknya. Hari ini cukup buruk untukku,
kehilangan tempat tinggal dan orang yang sudah kusayangi. Rasanya hampir sama
seperti saat aku kembali ke jalanan setelah dibuang oleh ayah Ryuuichi, namun
kali ini jauh lebih sakit. Aah, lagi-lagi aku merasa ingin tidur saja, dan saat
terbangun nanti aku sudah pindah ke alam lain. Maka, aku pun menutup mataku,
membiarkan semuanya berlalu.
“Kau bisa mati kalau tidur di sini, loh,” aku
mendengar suara yang familier untukku. Saat aku membuka mata, aku melihat si
rambut merah berdiri di depanku.
“U-Untuk apa kau kemari?” ucapku spontan, sambil
memalingkan wajahku.
“Aku hanya mau menyuruhmu pulang,” jawabnya, sama
singkatnya dengan pertanyaanku.
“Mau pulang kemana? Aku tidak punya rumah sekarang,”
aku terdiam untuk beberapa saat.
“Tentu saja punya,” ucapnya sambil mengulurkan
tangannya padaku. “Rumah tanpamu sepi, tau,” lanjutnya. Aku terkejut
mendengarnya, kemudian aku bergantian menatap tangan yang terulur itu dan
wajahnya. “Apa?”
“Berarti kau mau jadi partnerku?” kata-kata itu
terucap begitu saja dari mulutku.
“Kalau aku tidak mau, aku tidak akan mencarimu
begini, bodoh,” adalah jawabannya. Aku tersenyum mendengarnya, entah karena
apa.
“Baiklah, kalau begitu,” ucapku, kemudian menaruh
tanganku diatas tangan orang itu.
*Cat
Story*
Sesampainya di rumah si rambut merah, ia menyuruhku
duduk sementara ia pergi ke dapur. Begitu kembali dari dapur, ia membawa nampan
berisi dua buah cangkir. Ia menaruh nampan itu di meja di depanku, sehingga aku
dapat mengetahui bahwa cangkir itu berisi cokelat panas. Memang, sih, udara di
luar cukup dingin, apalagi mengingat sekarang sudah memasuki musim gugur. Ia
menyerahkan salah satu cangkir padaku, sementara yang satunya ia pegang. Aku
terdiam sambil melihat ea rah cangkir yang sekarang telah kupegang, larut dalam
keheningan yang terjadi diantara kami.
“Namamu?” tiba-tiba terdengar suara orang aneh itu.
“Eh?” aku berkata dengan spontan.
“Aku belum bertanya siapa namamu, ‘kan? Aku Red,”
aku melihat rambutnya, kemudian tersenyum. Memang nama yang cocok untuknya. “Kenapa
senyum-senyum begitu?” tanyanya.
“Tidak apa-apa, kok,” jawabku, masih sedikit
tersenyum.
“Lalu?” ia kembali bertanya.
“Apa?” ucapku, bingung dengan pertanyaannya.
“Namamu? Kau tidak punya nama?” sepertinya air
mukaku berubah saat Red mengatakan hal ini, karena kini ia melihat ke
arahku dengan tatapan bingung.
“Aku—tidak ingat nama asliku,” ucapku jujur. “Aku
hanya ingat nama yang diberikan ‘pemilik’ku sebelum kau,” lanjutku. “Bagaimana
kalau kau memberiku nama baru?”
“Hah?! Kenapa harus aku?” Red memprotes.
“Mm.. Mungkin karena aku suka kau?” sedetik kemudian,
aku baru sadar arti dari ucapanku. Aku cepat-cepat membetulkannya. “M-Maksudku,
dalam arti partner.”
“Yah, terserahlah,” ucapnya dingin. Aku sedikit
menyesal telah membetulkan kalimatku. Kalau tidak ada efeknya seperti ini sih,
lebih baik tidak usah kuralat. “Memory,” Red berkata tiba-tiba.
“Hah?”
“Kenapa malah ‘hah’? Kau yang menyuruhku memberimu
nama ‘kan?” ucap Red.
“I-Iya, sih. Tapi kenapa harus ‘Memory’?” aku
bertanya setengah memprotes. Habisnya, aku ‘kan bisa dibilang tidak punya
ingatan. Nama ‘Memory’ rasanya tidak cocok untukku.
“Itu agar kau bisa mengingat banyak hal mulai
sekarang,” Red menjelaskan sambil meneguk cokelat panas-nya.
“Mengingat banyak hal? Memory?” aku mengulangi
beberapa kata-kata Red.
“Tidak suka?” tanya Red. Aku berpikir sebentar,
kemudian menggelengkan kepalaku.
“Suka, kok,” jawabku, kemudian tersenyum.
*Cat
Story*
Sudah dua tahun berlalu sejak saat itu. Kini aku berpartner
dengan Red, menegakkan keadilan di Jepang. Sebenarnya bukan ‘menegakkan
keadilan’ juga, sih. Tetapi aku tidak mempunyai kata yang tepat untuk
mendeskripsikan pekerjaan kami sekarang. Yang jelas, pekerjaan kami adalah
menangkap penjahat. Yah, lebih baik lupakan soal apa pekerjaan kami sekarang.
Kini, aku sudah punya banyak hal yang tidak kupunyai
saat aku menjadi kucing jalanan dulu. Tempat tinggal, pekerjaan, teman, dan
nama. Semua itu adalah pemberian Red, walaupun orangnya sendiri bilang bahwa
setengahnya adalah hasil kerjaku juga. Tetapi tetap saja. Kurasa aku tidak akan
bisa mendapatkan hal-hal tersebut jika Red tidak membawaku pulang hari itu.
Memang sih, ada beberapa hal yang tidak kupunyai
sekarang. Salah satunya adalah ingatan masa lalu, sebelum aku menjadi kucing.
Tapi, hal itu tidak lagi penting untukku, karena, sesuai kata Red, aku akan
mengingat banyak hal mulai sekarang, dan itulah yang kulakukan. Aku sudah
merasa senang dengan kehidupanku yang ini, yang kujalani bersama dengan Red.
Kurasa, aku sudah tidak butuh apapun lagi.
Eeh..
Sedikit Author Notes disini.
Buat
yang baca, kalau ada (gak yakin blognya terkenal), tolong kasih ide buat judul
cerita ini. Cat Story itu cuma judul sementara, karena sekarang udah malam dan
authornya harus tidur. Jadi, tolong dengan sangat bantu saya mencari judul yang
tepat buat cerita si kucing ini. Makasih. :)
February 23, 2013
Nine Days to be With You
“Anak-anak,
hari ini bapak akan memperkenalkan murid baru,” ucap wali kelas 3-4 di depan
seluruh murid kelas tersebut. “Masuklah, Daijihito,” lanjutnya. Seorang gadis
kemudian membuka pintu kelas 3-4, berjalan memasuki kelas tersebut, dan
berhenti di sebelah sang wali kelas.
“Namaku
Akane Daijihito, salam kenal, semua,” ucap gadis itu sopan. Semua siswa yang
ada di kelas itu langsung bersorak-sorai, karena bertambahnya seorang siswi
yang dapat dikatakan cantik. Rambut hitam, mata cokelat hazel, dan perilaku
baik. Yang kurang hanya satu, rambut pendeknya. Andai rambutnya panjang, ia
pasti sudah direkrut menjadi artis.
“Nah,
tempat dudukmu—,” pak Yamashita, sang wali kelas, menghentikan perkataannya,
karena pintu kelas yang tiba-tiba mendobrak terbuka akibat didobrak oleh salah
seorang siswa. Siswa tersebut terlihat kelelahan, karena terus berlari dari
rumahnya hingga sekolah. Hal ini dengan mudah dapat terlihat dari rambut biru
dan bajunya yang basah karena keringat.
“M-Maaf
terlam—,” ucapan siswa itu juga terpotong, kali ini karena melihat siswi baru
yang perkenalannya ia potong tadi. “Akane?” siswa itu berbicara kembali,
perhatiannya sepenuhnya ada pada siswi baru tersebut. “Kau Akane, ‘kan?”
“A—,”
siswi baru tersebut tidak menjawab apapun, bingung harus mengatakan apa. Seakan
mengetahui hal ini, sang siswa yang terlambat itu berkata, “Ini aku, lho,
Tomoya Satou!”
-Nine Days to be With You-
-Akane’s POV-
“Ini aku,
lho, Tomoya Satou!” ucap siswa itu padaku. Aku terdiam sebentar,
mengingat-ingat siapa itu Tomoya Satou, dan yang muncul di kepalaku adalah
teman baikku saat SD. Masa’ sih, dia Tomoya yang itu? Padahal dulunya ia
biasa-biasa saja, tapi sekarang jadi keren begini!
“Satou,
kau itu, sudah terlambat, malah menakuti murid baru,” pak Yamashita mulai
berbicara lagi. “Sudah, duduk sana!” suruh pak Yamashita. Tomoya pun
melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi kosong sambil berkata ‘baik’ dengan pelan.
“Daidouji, tempat dudukmu di sebelah Satou,” lanjut pak Yamashita, sambil
menunjuk sebuah kursi di bagian tengah-belakang kelas.
“Baik,”
ucapku sopan, lalu melangkahkan kakiku ke meja tersebut. Begitu aku duduk,
Tomoya mulai berbicara lagi padaku.
“Sudah
lama ya, bagaimana kabarmu?” ucap Tomoya padaku dengan ceria. Aku sempat
menatapnya terpana. Tomoya sekarang sudah benar-benar berubah, ia jadi lebih
keren sekarang. Hampir masuk tipeku, sih, sayang ia sudah tidak pakai kacamata
lagi..
“Akane?”
suara Tomoya membuyarkan lamunanku. Ia menatapku bingung. “Ada apa? Kenapa kau
memandangku seperti itu?”
“B-Bukan
apa-apa,” ucapku cepat sambil memalingkan wajahku yang sepertinya sudah memerah
sekarang.
“Jangan-jangan…
Kau terpesona padaku ya?” Tomoya nyengir
saat mengatakannya, sedangkan aku, masih dengan muka memerah, tidak menjawab
apapun. “Iya kaan?” lanjutnya.
“Satou,
daripada menggoda murid baru, bagaimana jika kau mengejar nilaimu dulu?”
tiba-tiba terdengar suara pak Yamashita.
Seluruh kelas mengalihkan perhatiannya pada kami berdua. “Maaf pak,”
ucap Tomoya spontan, sambil tetap cengar-cengir.
Tentu saja, ia diceramahi oleh wali kelas kami tersebut, selama paling tidak 5
menit. Dan, selama 5 menit itu, aku mencoba menenangkan diri. Jangan-jangan,
aku... Jatuh cinta pada pandangan pertama?
-Nine Days to be With You-
Setelah
itu, setiap hari selama seminggu penuh aku selalu berbicara dengan Tomoya.
Ditambah lagi, ternyata rumah kami berada di blok yang sama sehingga selama
seminggu itu kami pulang-pergi sekolah bersama-sama. Dan, makin hari aku
melihatnya, makin aku, ehm, merasa berdebar karenanya. Benar, deh, kalau saja
ia memakai kacamata lagi, pasti sudah masuk dalam tipe cowok idamanku, tuh.
“Lagi
mikir apa, sih?” seseorang tiba-tiba berkata di sampingku. Aku langsung terlonjak
kaget, sementara orang itu tertawa.
“Tomoya!
Jangan muncul tiba-tiba dong,” ucapku setengah marah sambil mengejarnya yang
sedang berlari sambil tertawa.
“Maaf,
deeh,” ia berujar sambil terus berlari. “Habis, kau lucu, sih!”
“Lucu
apanya, aku kaget tahu!” langkahku mulai melambat karena sudah hampir kehabisan
nafas.
“Eeh,
sudah capek, ya?” Tomoya menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghampiriku.
Aku hanya menatapnya tajam, masih terlalu lelah untuk berbicara. “Berarti aku yang
menang,” lanjutnya, sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku menatap tangan itu
sebentar, lalu meraihnya.
“Terserah,
deh!” ucapku. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah.
-Nine Days to be With You-
Begitu
kami memasuki area sekolah, terlihat bayangan seseorang sedang berdiri
menyandar pada dinding di sebelah gerbang sekolah. Dua langkah kemudian, aku
baru menyadari bahwa orang yang sedang bersandar itu adalah seorang gadis.
Gadis itu cukup cantik, dengan rambut sepunggung berwarna cokelat kemerahan dan
matanya yang terlihat berwarna merah terang. Dilihat dari pakaiannya, ia pasti
murid sekolahku, namun sepertinya aku belum pernah melihatnya. Tidak mungkin
aku melupakan anak secantik itu, ‘kan?
“Nee,
Tomoya, kau pernah lihat anak itu tidak?” tanyaku pada cowok disampingku yang
sebelumnya sedang melihat ke arah lain. Saat aku bertanya begitu, langkah
Tomoya langsung terhenti. Ia lalu menatap gadis itu lekat-lekat, dan, seakan
mengetahuinya, gadis itu mengalihkan pandangannya kepada kami.
“Re—na?”
gumam Tomoya pelan.
“Lama
tidak bertemu ya, kak Tomoya,” gadis itu berkata sambil tersenyum manis. Tomoya
langsung berlari menghampiri gadis itu, sementara aku berdiri mematung menatap
mereka. SIAPA SIH GADIS ITU?!?!
-Nine Days to be With You-
-Di atap, jam makan siang, still
Akane’s POV-
“Kenalkan,
namaku Rena Mikami. Panggil saja Rena,” ucap gadis itu sopan. Aku sempat kaget
juga, saat bel istirahat berbunyi ia tiba-tiba muncul di kelasku dan mengajak
aku serta Tomoya makan bersama di atap. Agak aneh sih, biasanya Tomoya tidak
terlalu akrab dengan anak perempuan, tapi kenapa dengan anak ini— Aah, aku jadi
penasaran dengan hubungan mereka berdua..
“Kami
nggak ada hubungan apa-apa, kok!” ucap Rena, seakan ia mengetahui pikiranku.
“Kami hanya kakak-adik saja. Yah, walau tidak sedarah sih, tapi yaa..
begitulah!” lanjutnya. “Jadi, tidak usah khawatir, kak Akane!”
“Darimana
kau tahu namaku?” aku malah melontarkan pertanyaan bodoh itu padanya. Dasar
bodoh, harusnya aku bilang aku tidak khawatir, donk!!
“Kak
Tomoya yang memberitahukannya padaku. Katanya seminggu yang lalu teman masa
kecilnya, kak Akane Daidouji, pindah ke sini,” Rena berkata dengan semangat.
“Nggak kusangka, ternyata bisa juga kak Tomoya punya teman masa kecil secantik
ini,” lanjutnya sambil menatap Tomoya iseng.
“Maaf deh,
kalau temanku selama ini nggak ada yang menarik perhatianmu,” ucap Tomoya.
“Tahu aja,
sih!” Rena menjulurkan lidahnya pada Tomoya. Ia lalu kembali melahap makanan
yang ia bawa.
“Dasar kau
ini, nggak kelihatan baru keluar dari rumah sakit, ya,” Tomoya berkata sambil
memakan roti yang ia bawa dari rumahnya.
“Rumah
sakit?” aku mengulang kata-kata Tomoya. “Rena baru keluar dari rumah sakit?!”
“Yep. Dia
ini—” Tomoya berkata sambil menunjuk Rena, “—baru saja masuk rumah sakit karena
terluka parah.”
“HAH?!?!”
ucapku setengah teriak. Gadis secantik itu? Terluka parah? Mana mungkin ‘kan?!
“Dasar
bodoh! Kenapa kau ceritakan, sih?!” protes Rena sambil melemparkan kotak susu
yang baru saja ia habiskan.
“Aduh!
Sakit tahu! ‘Gak usah pakai lempar kotak susu kenapa, sih?!” Tomoya berkata
sambil mengelus kepalanya yang tadi terkena kotak susu Rena.
“Biarin!
Orang bodoh memang harus dihukum!!” kali ini Rena berdiri, dengan aura-aura
yang tidak enak disekelilingnya. Tomoya sepertinya langsung ketakutan
melihatnya, sehingga ia langsung menyerah. Rena lalu kembali duduk tenang,
setelah mendengar lawannya mengaku kalah. Suasana pun kembali damai..
“A-Ano,
Rena?” aku mulai berbicara dan memecahkan kesunyian. “Boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh
kok! Apa, kak Akane??” Rena bertanya dengan penuh semangat.
“Kenapa
kau bisa terluka parah?” aku melanjutkan pertanyaanku. Seketika itu, Rena
mengalihkan pandangannya pada Tomoya dan menatapnya dengan tajam. Merasa tidak
enak, aku lalu berkata, “E-Eh, tidak dijawab juga tidak apa-apa kok! Aku hanya
penasaran, kok orang secantik Rena bisa terluka parah?”
“Ah,
begitu, ya?” Rena kembali melihatku dan Tomoya menghela nafas lega. “Ini—,”
Rena memegang lengan kanannya,”—hanya kecelakaan saat ‘kerja’, kok!” ia mengakhiri
kalimatnya dengan senyum riang.
“Eh?
B-Begitu, ya?” aku kaget juga mendengarnya. Ternyata Rena yang seperti ini
ceroboh juga, ya..
“Iya, dia
bodoh, makanya terluka parah,” Tomoya menimpali. Rena, yang ternyata
mendengarnya, segera memukul Tomoya dari belakang. Setelah itu, mereka saling
kejar-kejaran selama beberapa menit, sementara aku hanya bengong melihatnya.
Rasanya, hari ini Tomoya jadi berbeda, seperti lebih ceria. Apa ini karena ada
Rena, ya? Rasanya, Tomoya hari ini jadi jauh.. Jadi—terasa sepi..
-Nine Days to be With You-
Seharian
itu, aku tidak mendapat kesempatan untuk mengobrol berdua dengan Tomoya
–kecuali tadi pagi saat kami pergi ke sekolah berdua—. Ia terlalu sibuk dengan
adiknya, sampai- sampai rasanya dunia hanya milik mereka berdua, seperti orang pacaran
saja. Rasanya hari ini jadi menyebalkan..
Tiba-tiba,
handphoneku bergetar, tanda ada pesan masuk. Aku meraih handphoneku dengan
malas, lalu membaca nama pengirimnya.
From: Tomoya Satou
Aku
langsung terlonjak kaget. Ada apa Tomoya mengirimiku mail malam-malam begini?
Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka mail itu.
Kau baik-baik saja hari ini? Kelihatannya tadi kau sedikit
lesu. Sakit? Maaf ya, sepertinya hari ini aku terlalu senang karena Rena baru
saja kembali..
Di bawah
pesan itu terdapat gambar pemandangan langit malam yang bertaburkan bintang.
Gambar yang sungguh menawan. Aku lalu tersenyum, sambil membaca mail itu untuk
yang kedua kalinya, sebelum akhirnya menulis balasan untuknya.
To: Tomoya Satou
Aku tidak apa-apa, kok! Lagipula, itu sudah wajar, ‘kan
kalian kakak adik.. Kau dapat darimana gambar itu? Bagus sekali!
Aku
mengirim mail itu, dan balasannya datang sekitar dua menit kemudian.
From: Tomoya Satou
Benar, tuh? Aku ambil dari blog Scarlet. Disana banyak yang
bagus, lho! Apalagi untuk perempuan..
Aku
tertawa membacanya. ‘Untuk perempuan’? Berarti ia membuka blog anak-anak cewek,
‘kan? Membayangkannya saja sudah bisa bikin sakit perut. Setelah beberapa
menit, aku baru membalas mail-nya dan balasannya datang cukup cepat. Aku sama
sekali tidak menyangka, ternyata cukup cepat juga, ya, dia membalas mail. Kalau
yang seperti ini, baru menyenangkan!!
Setelah
itu, kami saling mengirim mail sampai larut malam. Ibuku saja sampai
marah-marah dan menyuruhku untuk tidur. Tapi, kami terus mengirim mail sampai
kira-kira pukul tiga pagi. Nah, kalau begini, baru menyenangkan, ‘kan!
-Nine Days to be With You-
Keesokan
paginya, aku berangkat sekolah bersama dengan Tomoya. Berdua. Sepanjang
perjalanan, kami melanjutkan pembicaraan semalam dengan seru. Rasanya kejadian
kemarin itu –pertemuanku dengan Rena— hanya mimpi saja. Tapi, mana mungkin
‘kan? Pasti Rena menunggu kami di depan gerbang sekolah seperti kemarin.
Begitu
kami sampai di dekat gerbang sekolah, aku lalu mengalihkan pandanganku untuk
mencari sosok siswi berambut merah kecokelatan itu, namun tidak menemukan
apapun. Aku lalu menanyakan hal ini pada Tomoya.
“Mungkin
dia sudah ke kelas duluan? Aku tidak tahu, semalam dia tidak membalas mailku,
sih,” jawab Tomoya. Aku lalu langsung memasang wajah sebal.
“Jadi kau
mengirimiku mail karena Rena tidak membalas mailmu?” ucapku dengan nada protes.
Ia langsung sweatdropped, lalu
mengalihkan pandangannya.
“B-bukan
begitu juga,” Tomoya berbicara. “Aku cukup senang, ‘kok, mail-mailan dengan
mu,” lanjutnya, lalu tersenyum. Mukaku langsung merah padam saat itu, jadi aku
mengalihkan pandanganku. “Terserah, deh,” bisikku pelan. Kami lalu melangkah
memasuki gedung sekolah.
-Nine Days to be With You-
Pada jam
istirahat pertama, Tomoya mengajakku pergi ke kelas 2-1, kelas Rena. Katanya,
ia agak cemas karena Rena tidak juga membalas mailnya, jadi ia memutuskan untuk
bertanya pada teman Rena. Dan, kami pun berdua pergi ke kelas 2-1. Disana
Tomoya memanggil salah seorang murid di kelas itu.
“Tatsuzawa,
hari ini Rena tidak masuk, ya?” ucap Tomoya pada anak itu. Kenapa dia bisa
kenal dengan anak ini ya?
“Begitulah.
Katanya sih, dia demam,” jawab anak yang dipanggil Tatsuzawa itu.
“Katanya?
Siapa, tuh?” Tomoya bertanya lagi.
“Sumber
yang bisa dipercaya, deh!” Tatsuzawa menjawabnya, sedangkan Tomoya menoleh ke
arah dua kursi kosong yang terletak di pojok belakang kelas tersebut.
“Yang
tidak masuk— dua orang itu, ya?” tanya Tomoya tanpa mengalihkan pandangannya
dari kedua kursi kosong itu.
“Enggak
kok, ‘yang satu lagi’ sedang bolos,” ucap Tatsuzawa sambil tersenyum jahil.
Sebenarnya mereka membicarakan apa, sih?
“Ya sudah,
nanti kalau ada kabar tolong beritahu aku,” Tomoya akhirnya mengakhiri
pembicaraan mereka. Ia lalu berjalan meninggalkan kelas itu, hampir
meninggalkanku. Sebelum tertinggal olehnya, aku cepat-cepat menganggukkan
kepalaku, tanda pamitan, pada Tatsuzawa, lalu segera menyusul Tomoya.
“Anak yang
tadi itu siapa, ‘sih?” aku bertanya segera setelah menyusul Tomoya.
“Ooh, dia
temannya Rena, namanya Tatsuzawa Nanami,” Tomoya berkata dengan ramah. Aku lalu
mengalihkan pandanganku padanya. Rasanya tadi ia serius sekali, saat berbicara
dengan Tatsuzawa, atau hanya perasaanku saja, ya?
“Lalu,
tadi kau bilang ‘dua orang itu’ kan? Apa maksudnya?” aku lanjut bertanya,
memuaskan keingintahuanku. Habis, aku baru tahu ternyata Tomoya punya banyak
teman dari kelas 2 selain Rena. Aku ‘kan ingin tahu lebih jauh mengenai
dirinya.
“Oh, itu.
Maksudku—,” kalimat Tomoya terhenti saat aku tersenggol seorang siswa hingga
aku terjatuh. Aku menggumamkan kata “aduh”, sementara siswa yang tadi, yang
dengan beruntungnya tidak ikut terjatuh, mengulurkan tangannya padaku.
“Kau tak
apa?” ucap siswa itu, singkat dan padat. Saat aku menengok padanya, ternyata
siswa itu bisa dikategorikan sebagai ‘cowok cakep’. Rambut cokelat agak gelap,
mata yang warnanya senada dengan rambutnya, benar-benar termasuk dalam
kategori ‘cowok cakep’ deh! Tapi sayang, tidak termasuk dalam tipe cowok
idamanku.
Beberapa
detik kemudian, aku baru sadar dari lamunanku, lalu segera menggenggam
tangannya. Ia lalu membantuku berdiri, dan aku pun menggumamkan kata terima
kasih yang dijawab dengan ‘hn’ kecil. Siswa itu kemudian melangkah menjauhi aku
dan Tomoya. Namun, baru dua langkah ia berjalan, ada suara dari belakangku yang
menghentikan langkahnya.
“Bukankah
seharusnya kau minta maaf dulu?” ucap Tomoya, yang sejak tadi diam saja, sambil
tersenyum mengejek. Aura di sekitar Tomoya sedikit berubah. Sepertinya ia tidak
menyukai siswa yang tadi itu. Siswa itu melirik malas ke arah Tomoya, berkata,
“bukan urusanmu,” lalu kembali melangkahkan kakinya, masuk ke kelas 2-1. Aku
hanya menatap Tomoya bingung. Kenapa ia sepertinya tidak menyukai siswa itu ya?
“Tomoya?”
aku memanggil cowok berambut biru yang sedang menatap tajam ke arah pintu kelas
2-1 yang kini tertutup. “Tomoya!” aku memanggilnya lebih keras.
“E-Eh?
Apa?” sepertinya Tomoya benar-benar tidak suka dengan siswa tadi hingga terus
menatapnya, walaupun siswa tersebut sudah hilang dari pandangan kami.
“Ano, soal
siswa yang tadi, kau—,” kalimatku terpotong karena bel tanda istirahat selesai
berbunyi. Karena letak kelas kami masih jauh dari tempat kami berdiri sekarang,
maka kami memutuskan untuk berlari sampai ke kelas. Di sela-sela kegiatan
berlari kami, Tomoya mengajakku untuk menjenguk Rena sepulang sekolah, dan
entah kenapa, aku menyetujuinya.
-Nine Days to be With You-
Dan,
disinilah kami berdiri sekarang. Di depan kami terdapat sebuah rumah yang
terlihat biasa saja, namun memiliki halaman yang cukup luas. Di bagian depan
rumah tersebut terdapat papan nama bertuliskan Mikami. Tanpa basa basi, Tomoya
langsung menekan bel rumah itu, namun tidak ada jawaban ataupun bunyi dari
rumah tersebut. Penasaran, ia menekan tombol di depannya sekali lagi, namun
masih tidak ada suara dari dalam rumah. Masih penasaran lagi, ia menekan tombol
itu sebanyak tiga kali berturut-turut, namun hasilnya tetap nihil.
“Mungkin
ia sedang tidur?” aku memberi penjelasan yang menurutku cukup logis, mencoba untuk
mencegah Tomoya menekan bel rumah Mikami lagi.
“Mana
mungkin, setidaknya pasti ada orang di rumahnya, ‘kan?” Tomoya membela dan
menekan bel itu lagi. Masih tidak ada jawaban.
“Mungkin
orang rumahnya sedang pergi? Kerja? Ke pasar?” yah, agak aneh sih, ada orang
yang ke pasar sore-sore begini. Tapi, ya, siapa tau saja? Yang jelas aku ingin
segera pergi dari sini.
“Yah, bisa
juga, sih,” ucap Tomoya ragu-ragu. Uuh, kenapa sih, dia memikirkan Rena terus?
Padahal awal-awal aku baru pindah, dia hanya memperhatikanku, ‘kan? Tapi
sekarang…
“Ya sudah,
kita pulang saja, yuk,” cowok di sebelahku melanjutkan kalimatnya. Aku lalu
menatapnya dengan tatapan bagus-deh-kau-sudah-menyerah, lalu menjawab tanpa
ragu, “ayo!”
-Nine Days to be With You-
Keesokan
harinya, aku berjalan dengan agak lesu menuju gedung sekolah. Kemarin, saat
berjalan pulang, kami tidak terlalu banyak mengobrol. Malamnya, aku tidak
menerima satu pun mail dari Tomoya. Lalu, saat kupikir akhirnya Tomoya
mengirimiku mail, ia malah bilang pagi ini tidak bisa berangkat bersama karena
‘ada urusan penting’ sehingga harus berangkat lebih pagi. Apa, sih, urusannya?
Memangnya tidak bisa ditunda, ya?
Selagi
sibuk dengan pikiran-pikiran seperti itu, tanpa sadar aku sudah sekitar lima
meter dari gerbang sekolahku. Rasanya benar-benar sepi, padahal biasanya selalu
ada suara orang itu, tapi sekarang…
“Iya, jadi
kemarin kau kemana, sih?” tiba-tiba terlintas suara yang sudah sangat kukenal
saat aku sedang berjalan melewati kelas 2-1. Saat aku menoleh ke dalam kelas
tersebut, aku mendapati orang yang selama ini selalu ada di pikiranku, sedang
mengobrol ria bersama gadis berambut cokelat kemerahan itu. Tomoya dan Rena.
Tanpa pikir panjang, aku langsung mendekati mereka yang sedang mengobrol dengan
riangnya.
“Jadi ini
urusan pentingmu?” ucapku segera setelah aku sampai di depannya. Ia, cowok
bodoh di depanku ini, menatapku terkejut.
“Aka—”
“Jadi, INI
urusan pentingmu?!” aku mengucapkan kalimat itu lagi, sekarang lebih keras.
Mataku terasa panas, siap untuk menangis.
“Bukan,
kok. Ini—” ia menghentikan kata-katanya, seperti tidak tahu harus beralasan
apa. Padahal ia tinggal berkata jujur..
“Kalau—,”
aku berhenti sebentar, menahan air mata yang terus mendesak untuk keluar.
“Kalau begini terus, kau pacaran saja sama Rena, dasar bodoh!!” lalu, aku pun
meninggalkannya, berlari menuju atap.
-Nine Days to be With You-
Dua jam
sudah berlalu setelah kejadian tadi pagi, dan selama itulah aku berada di atap
sekolah ini, menangis, murung, dan kawan-kawannya. Untungnya, tidak seorang pun
datang kemari. Tapi rasanya bosan juga, hanya bersedih disini, sendiri. Apa aku
kembali ke kelas saja, ya? Pelajaran ketiga ‘kan olahraga, biasanya juga cewek
dan cowok dipisah. Jadi sangat kecil kemungkinan aku harus berhadapan dengan
orang bodoh itu.
Setelah
berpikir selama sesaat –dan menunggu bel tanda ganti pelajaran berbunyi—, aku
lalu memutuskan untuk pergi dari atap. Dengan gontai, aku melangkahkan kakiku
menuju ruang kelas. Saat aku sampai, ada beberapa teman yang menanyakan
keberadaanku, dan ada juga yang menanyakan soal mataku yang terlihat agak
sembap. Namun, orang yang paling aku inginkan, hanya menatapku dari pojok
kelas, tanpa ada tanda-tanda akan menghampiriku. Merasa kesal –atau sedih?-,
aku pun segera mengambil baju ganti dan berlalu dari kelas itu bersama
teman-temanku, meninggalkan dia yang masih tetap menatapku dengan sendu.
-Nine Days to be With You-
“Akane-chan punya masalah dengan Satou-kun
ya?” celetuk salah satu temanku, Miharu, saat kami sedang menunggu giliran
melompati balok.
“A-A—,”
aku tergagap saat ingin menjawab pertanyaan itu.
“Waah,
ternyata benar, ya?” tanya Aya, temanku yang lain. “Padahal kalian terlihat
akrab-akrab saja kemarin, ada apa, sih?” lanjutnya.
“Tidak ada
apa-apa, kok,” kali ini aku mengucapkan kalimat yang satu ini dengan cukup
meyakinkan.
“Bohoong,
pasti ada apa-apanya, ‘kan? Kalau tidak mana mungkin Akane-chan bolos
pelajaran?” ucap Miharu.
“Iya
betul. Aku ingin tahu, nih, apa yang bisa menyebabkan pasangan legendaris 3-4
bertengkar,” Aya mengucapkannya sambil senyum-senyum. Aku pun blushing. Apanya
yang pasangan legendaris, pacaran saja tidak, kok.
“Akane
Daijihito!” suara guru olahraga kami, bu Kaneyo, membuat pembicaraan kami
terhenti. Aku langsung berdiri dan mengucapkan kata “siap” dengan agak lantang,
sekaligus berterima kasih kepada bu Kaneyo karena telah menginterupsi
pembicaraan kami. Aku berjalan menuju balok, mengambil ancang-ancang, lalu
berlari dan.. Dan tiba-tiba aku melihat siluet Tomoya yang sedang melihat ke
arahku dari lapangan sepakbola di luar, menyebabkan aku kehilangan konsentrasi
dan terjatuh saat sedang melompat. Alhasil, aku pun jatuh dengan tidak benar dan tidak elegan di atas matras.
“Daijihito,
kau tidak apa-apa?” ucap bu Kaneyo dengan khawatir. Ia lalu mengulurkan
tangannya untuk membantuku berdiri.
“Tidak
apa-apa kok, bu,” aku mengulurkan tangan kananku, namun berhenti di tengah
jalan karena tanganku terasa agak sakit. Melihat reaksiku, bu Kaneyo
menggenggam tanganku, lalu memeriksanya sebentar.
“Hanya
terkilir biasa, sepertinya,” bu Kaneyo berkata sambil melepaskan genggamannya
pada tanganku. “Lebih baik kau ke UKS dulu untuk membalut tanganmu,” lanjutnya.
“Siapa yang mau menemani Daijihito?”
“Saya bisa
sendiri kok, bu,” ucapku cepat sebelum ada yang menawarkan diri.
“Benar
tidak apa-apa?” tanya bu Kaneyo, yang kujawab dengan “iya” kecil. Aku lalu
mulai melangkahkan kaki meninggalkan tempat aku berada sekarang. Sebelum
benar-benar pergi dari tempat ini, aku menyempatkan diri untuk melirik ke arah
lapangan sepakbola. Namun lagi-lagi, aku tidak melihat sesuatu yang kuharapkan.
Memang sih, aku melihat Tomoya di dekat pagar pembatas, namun ia tidak melirik
ke arahku malah memunggungiku. Sebelum aku bersedih lagi, aku cepat-cepat
melangkahkan kaki menuju UKS.
-Nine Days to be With You-
“Permisi,” ucapku sopan saat membuka pintu
ruang UKS. Sayangnya, tidak ada satu pun yang membalas perkataanku, yang
berarti ruangan ini sekarang kosong. Aku melihat sekeliling sebentar,
memastikan benar-benar tidak ada orang, lalu mulai mencari perban di laci
penyimpanan. Setelah menemukannya, aku duduk di salah satu kursi, dan mulai
memerban tangan kananku. Ternyata, susah juga memerban dengan tangan kiri.
Sudah dua kali aku mencoba dan keduanya gagal. Saat aku mencoba memerban untuk
yang ketiga kalinya, terdengar suara pintu dibuka. Aku menoleh ke arah pintu
dan mendapati cowok yang kemarin menabrakku di dekat kelas 2-1 berjalan masuk
sambil menggendong seorang gadis berambut cokelat kemerahan dengan bridal
style. Rasanya, aku kenal gadis itu? Dia kan…
“Rena?”
ucapku spontan saat melihat wajah gadis itu. Aku pun bangun dari kursiku untuk
menghampiri mereka, tanpa mempedulikan perban yang hanya membalut tangan
kananku secara asal-asalan. Aku pun langsung tersadar bahwa mata gadis di
depanku itu tertutup. Pingsan?
“Dia
kenapa?” aku lagi-lagi berkata dengan spontan. Padahal harusnya aku ‘kan
membenci gadis berambut cokelat kemerahan ini, namun setiap kali bertemu
dengannya –tanpa Tomoya, tentunya— aku malah semakin menyukainya. Habis, mirip
boneka, sih!
“Hanya
demam,” ucap cowok itu sambil membaringkan Rena di salah satu ranjang di ruang
UKS. Ia menyelimuti gadis itu, kemudian menatapku dengan tajam, seakan sedang
mempelajariku. Aku hanya menunduk, tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya
agak-agak aneh diperhatikan begini. “Terkilir?”
“Eh?”
kataku spontan. Aku lalu melihat cowok itu memperhatikan tangan kananku yang
dari tadi tidak juga selesai kuperban. “I-Iya,” ucapku agak terbata. Ia menggumamkan
sesuatu seperti “hee” kemudian mulai berjalan mendekatiku dan mengulurkan
tangannya padaku.
“Coba
kulihat,” dengan tersipu, aku memberikan tangan kananku padanya. Ia lalu
membuka balutan perban asal-asalan yang tadi kubuat, lalu memerbannya dengan
lebih rapi. Reaksiku, tentu saja malu. Walaupun dia bukan tipe cowok
kesukaanku, tapi cowok keren tetaplah cowok keren. Yah, begitulah..
“Sudah
selesai,” ucapannya membuatku terlonjak sedikit. Aku lalu memperhatikan tangan
kananku yang sekarang sudah terbalut perban dengan rapi, lebih rapi dari perban
yang selama ini kubuat.
“Terima
kasih,” aku berkata masih dengan menunduk, sementara cowok itu membereskan
perban yang sudah tidak dipakai.
“Anggap
saja sebagai permohonan maaf untuk kemarin,” katanya seraya menaruh kotak
perban ke tempatnya, lalu mulai melangkahkan kaki menuju pintu UKS. Sebelum ia
keluar dari ruangan, aku menyempatkan diriku untuk menghentikannya.
“Ano—,”
jeda sebentar, mencari kalimat. “Boleh tahu namamu?” lanjutku. Cowok itu
menatapku sebentar, kemudian berkata sambil melangkah keluar pintu, “Setsuna
Kohagi.” Dan, pintu pun tertutup.
-Nine Days to be With You-
“HAAAH?! Tadi kau dibantu memerban oleh
Setsuna Kohagi?!” ucap Aya dengan cukup lantang. Aku pun menghentikan
perkataannya –atau teriakan?— dengan meletakkan telunjukku di depan mulut, lalu
berbisik “shh”. Aya langsung tutup mulut. “Enaknyaa. Kalau begitu tadi aku saja
yang terkilir,” lanjutnya.
“Itu sih,
aku juga mau,” Miharu menimpali. “Dia kan salah satu cowok keren yang ada di
sekolah ini. Memang sih, dia lebih muda satu tahun, tapi cowok keren tetaplah
cowok keren!” lanjutnya dengan riang.
“Tapi
gosipnya dia sudah punya pacar kan?” ucap Aya, yang dibarengi dengan “eeh”-nya
Miharu.
“Pacar?
Siapa?” entah kenapa, aku agak penasaran.
“Etto,
kalau tidak salah sih, adik kelas juga—,” Aya tiba-tiba berhenti, lalu
menatapku iseng. “Kau tidak berpikir untuk “banting
setir” dan mendekati Kohagi, ‘kan? Kalau iya, nanti kasihan Satou, loh!
Kalian kan pasangan legendaries kelas 3-4,” lanjutnya. Aku blushing.
“S-Sudah
kubilang kami bukan pasangan!” protesku, masih dengan blushing. “Lagipula, yang
disukai Tomoya bukan aku,” tambahku yang entah kenapa malah mengingat kejadian
tadi pagi.
“Oh ya,
bicara soal Satou, tadi kau bertemu dengannya di UKS?” Miharu tiba-tiba
bertanya padaku, yang tentu saja kujawab dengan tidak. Kami tidak bertemu di
UKS. Aku juga sedang tidak ingin bertemu dengannya.
“Aneh,
tadi katanya Satou mau ke ruang UKS. Masa ‘sih kau tidak bertemu dengannya?”
lanjut Miharu. Tiba-tiba bayangan Rena terlintas dalam kepalaku. Iya juga ya,
Rena ‘kan sekarang sedang ada di UKS.
“Mungkin
yang ingin ditemui Tomoya bukan aku, tapi Rena,” ucapku tanpa sadar. Aya dan
Miharu bertukar pandang.
“Yang kau
maksud itu Rena Mikami dari kelas 2-1?” tanya Aya setelah puas bertukar pandang
dengan teman disebelahnya. Aku menjawabnya dengan anggukan, kemudian mereka
bertukar pandang lagi.
“Ada apa,
‘sih?” ucapku akhirnya, cukup penasaran untuk mengetahui apa yang ada di dalam
pikiran mereka.
“Jangan
kaget ya, Akane-chan,” Aya memulai. “Menurut gosip yang kudengar, Rena Mikami
itu pacarnya Setsuna Kohagi yang tadi kau temui!” lanjutnya. Oh, pantas saja
tadi Kohagi menggendong Rena ke UKS. Tapi tunggu, bukankah Rena harusnya dengan
Tomoya? Atau jangan-jangan Tomoya dipermainkan oleh Rena?
Saat
sedang asyik berpikir, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Aku menoleh ke
arah pintu, dan mendapati Tomoya sedang berjalan ke arahku. Pandangannya
mantap(?). “Akane, aku perlu bicara denganmu.”
-Nine Days to be With You-
Tujuh menit
kemudian, aku berdiri di atap bersama dengan Tomoya. Aku menghadap pagar yang
mengelilingi atap, sedangkan Tomoya ada di belakangku. Tidak ada satu pun dari
kami yang berbicara.
“Akane
aku—,” Tomoya memulai pembicaraan. “Aku dan Rena tidak ada hubungan apa-apa,
‘kok. Aku hanya menganggapnya adik. Hanya itu, tidak lebih,” lanjutnya.
“Bohong,”
ucapku sambil berbalik untuk menatapnya. “Kalau tidak ada hubungan, kenapa
kalian sering menghabiskan waktu bersama?”
“Itu—,”
Tomoya menghentikan kalimatnya, mencari kata-kata yang tepat. “Aku yang minta,
kok. Habis pacarnya tidak begitu perhatian padanya, jadi—” lagi-lagi mencari
kata.
“Pacarnya..
Pacar Rena itu Setsuna Kohagi, ‘kan?” aku mengingat peristiwa di UKS, saat Rena
dibawa oleh Kohagi.
“Darimana
kau tahu?” tanya Tomoya, terlihat agak terkejut.
“Sudah
kuduga, gosip itu benar,” bisikku. “Kalau begitu, kau sudah ditipu oleh Rena.
Pacarnya memperhatikannya kok.”
“Haah? Kau
tahu darimana? Mana mungkin Rena bohong, sih,” Tomoya segera menyangkal
kalimatku, membuatku makin kesal padanya.
“Ya sudah
kalau tidak percaya,” ucapku, lalu melangkahkan kaki menuju pintu sambil
menahan emosiku yang agak tidak stabil. Namun, saat aku meraih kenop
pintu, aku merasa sebuah tangan menggenggam lenganku dengan agak erat.
“Tunggu,
aku belum selesai bicara, Akane,” ucap Tomoya tegas. “Sebenarnya, selama ini—”
“Cukup,”
ucapku singkat sambil menyentakkan tanganku hingga membuat Tomoya terkejut.
“Jangan berkata apa-apa lagi,” aku tidak ingin mendengar kata-kata itu
sekarang! Melihat tidak adanya tanda-tanda gerakan lanjut dari Tomoya, aku pun
meneruskan memutar kenop pintu dan pergi dari hadapannya.
-Nine Days to be With You-
Aku
berlari menuruni beberapa tangga, kemudian menyusuri lorong kelas tanpa
menghiraukan tatapan orang-orang di sekelilingku. Aku terus berlari hingga
mencapai sebuah lorong yang jarang dilewati siswa, tepatnya hingga aku menabrak
seseorang di lorong tersebut. “Aduh,” rintihku pelan.
“Kau
lagi,” ucap orang yang tadi bertabrakan denganku. Saat aku melihat orang
tersebut, aku langsung tahu mengapa ia mengucapkan kata seperti itu.
“Setsuna
Kohagi..?” aku berkata dengan agak tidak percaya. Kenapa dari kemarin rasanya
bertemu dengan dia terus, ya? Jangan-jangan…
“Kau habis
menangis?” Kohagi tiba-tiba berkata, membuatku agak terkejut.
“T-Tahu
darimana?” ucapku sekenanya. Cowok di depanku malah terdiam, menggumamkan
sesuatu, lalu kembali terdiam.
“Mau
cerita?” ucapnya setelah beberapa saat. EEEHHHH?!?!
-Nine Days to be With You-
Dua jam
pelajaran telah lewat saat ceritaku pada Kohagi selesai. Ya, aku menceritakan
semuanya padanya. Ralat, HAMPIR semua kuceritakan. Tentu saja aku tidak
menceritakan semua kejadian di atap bersama Tomoya tadi. Lalu, aku juga
mengganti nama-nama mereka. Tomoya kuubah menjadi Takuto, Rena menjadi Lisa,
dan Kohagi menjadi Kazuya.
“Begitu,
ya,” ucap Kohagi sekenanya setelah aku selesai menceritakan kisahku –versi yang
sudah diedit, sih.
“I-Iya,”
aku menjawab dengan masih agak canggung. Kami lalu terdiam sebentar.
“Benar-benar,
deh,” bisik lawan bicaraku.
“Eh?”
“Nggak,”
ia kembali datar. “Kau yakin?” lanjutnya. Aku terdiam, tidak mengerti maksud
dari kalimatnya. Menyadari hal ini, ia mengulangi pertanyaannya. “Kau
yakin dengan pilihanmu?”
Aku
kembali terdiam. Apa aku yakin dengan pilihanku? Apa aku yakin ingin mengakhiri
hubunganku dengan Tomoya? Aku sama
sekali tidak tahu. Kupikir percuma saja memikirkan hal-hal seperti itu. Jadi,
aku menjawab “tidak tahu” dengan jujur. Saat Kohagi terdiam, aku memutuskan
untuk berbicara lebih banyak lagi. “Aku tidak tahu apakah aku yakin dengan
pilihanku. Tapi tidak ada jalan lain, ‘kan? Kalau aku terus berada di dekat
Tomo— eh, Takuto, kami hanya akan saling menyakiti. Jadi—“ aku tidak berani
meneruskan kata-kataku.
“Jadi kau
memilih untuk menjauhinya, ya?” sambung Kohagi setelah aku terdiam beberapa
saat. Aku menjawabnya dengan anggukkan. Memang benar apa yang dikatakannya.
Kupikir jika aku tidak bertemu dengan Tomoya lagi, semua pasti akan berjalan
dengan lebih baik. Mungkin aku juga bisa berteman baik dengan Rena, tanpa ada
rasa kesal. Tapi— apa benar itu yang terbaik?
“Aku kenal
seseorang yang seperti itu,” tiba-tiba Kohagi berbicara. “Orang bodoh yang
berpikir lebih baik menjauhi gadis yang ia sukai demi keselamatan gadis
tersebut. Tapi yang terjadi malah gadis itu jadi sering melibatkan diri pada
hal-hal yang berbahaya.” Kohagi terdiam selama beberapa detik.
“Untungnya ada
seseorang yang menyadarkan orang bodoh itu. Orang tersebut berkata, ‘sampai
kapan kau akan membiarkannya sendiri? Kau tahu, ‘kan, seberapa terlukanya dia?
Berhentilah kabur dan jujurlah pada perasaanmu sendiri. Kau menyukainya,
‘kan?’” Lagi, Kohagi terdiam. Kali ini cukup lama.
“Yah,
begitulah,” cowok di sebelahku mulai bicara lagi setelah hampir satu menit
terdiam. Ia lalu bangkit berdiri, dan mulai berjalan meninggalkanku sendiri.
“M-Mau
kemana?” ucapku agak terbata.
“Pergi,”
ucapnya singkat. Dua langkah kemudian, ia berkata, “Sisanya kau pasti bisa
sendiri,” dan benar-benar pergi meninggalkanku sendiri.
Sambil
menatap Kohagi pergi, aku kembali berpikir. Apakah aku yakin dengan pilihanku?
Apakah ini yang terbaik? Apa— Apa aku telah jujur pada perasaanku sendiri?
Perkataan Kohagi masih terngiang di dalam kepalaku.
‘Berhentilah kabur dan jujurlah pada perasaanmu sendiri.’
Mana bisa
aku jujur padanya. Apalagi jika tahu yang dia sukai kemungkinan besar bukan
aku..
‘Kau menyukainya, ‘kan?’
Tentu saja
aku menyukainya. Dia baik, tipeku –apalagi dia pakai kacamata!–, dan lagi dia
selalu memperhatikanku. Tapi— Apa aku bisa menang dari Rena? Tapi kalau tidak,
Tomoya akan direbut Rena, ‘kan?
Setelah
berpikir lagi selama hampir dua puluh lima menit, aku akhirnya bangkit berdiri.
“Aku—sudah memutuskan.”
-Nine Days to be With You-
Aku
memutuskan untuk melewatkan jam pelajaran terakhir, yang sebenarnya hanya
tinggal sepuluh menit lagi, dan menunggu Tomoya di dekat loker sepatu. Dalam
sepuluh menit itu, aku berpikir lebih lanjut mengenai keputusan yang baru
kubuat beberapa menit sebelumnya—dimana aku akan membicarakannya, apa yang akan
kukatakan, semuanya.
Tanpa
terasa, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi dan siswa-siswi mulai berdatangan
ke dekat tempatku menunggu Tomoya. Aku mulai merasa gugup. Bagaimana kalau
keputusanku salah?? Namun aku sudah tidak bisa lari dan berbohong lagi pada
perasaanku.
“Aka—ne?”
terdengar suara seseorang yang daritadi kutunggu kedatangannya. “Sedang apa kau
disini?” lanjut orang itu. Aku harus percaya diri!
“Aku ingin
bicara denganmu.”
-Nine Days to be With You-
“Ada apa?” ucap Tomoya beberapa saat setelah
kami sampai di belakang gedung sekolah. Aku masih diam, mempersiapkan hati
untuk mengutarakan sebuah kejujuran. Merasa pertanyaannya diabaikan, Tomoya
melanjutkan perkataannya. “Jangan-jangan kau masih marah karena masalah di atap
tadi?” Terjadilah jeda yang cukup lama, karena tidak ada satu pun dari kami
yang berbicara.
“Aku
mungkin tidak seperti Rena,” ucapku, memulai pengakuanku. “Aku tidak periang,
tidak imut, sering cemburu—” aku menghentikan kalimatku sebentar, mengumpulkan
keberanian untuk melanjutkan kalimat tersebut. “Tapi sebenarnya aku—”
“Stop,”
kalimatku terhenti lagi saat Tomoya meletakkan tangannya di depan
wajahku. “Sebelum itu, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu,” lanjutnya, lalu
terdiam. Suasana hening untuk beberapa saat.
“Kau
memang sama sekali tidak mirip dengan Rena. Seperti yang kau bilang, Rena itu
periang, manis, dan nyaman diajak bicara,” aku merasa sebal saat Tomoya
menyanjung Rena seperti sekarang ini, namun aku tetap diam karena merasa
kalimat itu belum selesai. “Tapi, rasanya dia sulit dijangkau. Rasanya—apalagi
beberapa minggu terakhir ini— aku lebih senang saat bersamamu. Lalu, setelah
satu hari yang agak menyiksa ini, akhirnya aku mengerti.” Tomoya menghentikan
kalimatnya sebentar, lalu menatapku tanpa ragu.
“Akane
Daijihito, aku menyukaimu,” ucapnya tanpa basa basi lagi. Aku tertegun, tidak
menyangka hal seperti ini akan terjadi. Tomoya masih mengucapkan beberapa kata
lagi, namun aku sama sekali tidak mendengarkannya, terlalu sibuk berpikir
apakah ini nyata atau tidak. “—Maukah kau jadi pacarku?”
Sekali
lagi, aku tertegun. Namun tidak butuh waktu lama untuk kembali memusatkan
pikiranku pada kalimat yang satu itu.
‘Maukah kau jadi pacarku?’
“Iya,”
bisikku pelan dan tanpa sadar. “Iya, aku mau!” lanjutku dengan mata yang
sedikit berkaca-kaca. Kali ini giliran Tomoya yang terlihat kaget.
“Benarkah?”
ucapnya dengan wajah yang berseri-seri. Aku menjawabnya dengan anggukkan. Tanpa
menunggu lebih lama lagi, ia langsung menerjang ke arahku dan memelukku dengan
lembut. Aku langsung blushing.
Tomoya
lalu melepaskan pelukannya dan memandangku, yang masih blushing. Ia mendekatkan
wajahnya padaku dan……
“Aduh,
jangan dorong-dorong dong, Nami!” terdengar suara seseorang yang menginterupsi
kegiatan kami. Dari balik dinding di belakangku, muncul sosok Rena, Kohagi,
Tatsuzawa –teman Rena yang waktu itu— dan satu cowok lagi yang tidak kukenali.
Merasa diperhatikan, apalagi oleh empat orang sekaligus, aku langsung blushing
dan menjauh dari Tomoya.
“Tuh kan,
jadi menjauh,” Rena kembali berbicara, sambil berjalan mendekati kami. “Maaf ya
sudah mengganggu,” ucapnya salah tingkah.
“I-Iya,”
aku menjawab dengan pelan, hampir berupa bisikkan.
“Tapi,
‘gak bisa diteruskan ya, kak Daijihito?” Tatsuzawa berkata sambil tersenyum
jahil. Aku tambah blushing.
“Sudah,
deh, jangan ganggu pacar orang,” Tomoya ikutan nimbrung. “Lebih baik kalian pulang, sana!” usirnya.
“Iya, iya.
Pasangan baru ‘kan tidak mau diganggu, ya,” ledek Rena, yang mulai pergi
meninggalkan kami berdua. Setelah hampir satu menit, mereka pergi dan kami
kembali berdua.
“Dasar,
mereka itu,” keluh Tomoya. Aku hanya diam, masih terlalu blushing untuk
menanggapinya. “Akane?” suara Tomoya terdengar lagi.
“Ya?”
“Kita
pulang, yuk,” Tomoya mengulurkan tangan kirinya padaku. Aku terdiam sebentar
lalu menaruh tangan kananku diatas tangannya yang terulur, kemudian mengatakan
“ayo” dengan bersemangat. Dan, kami pun berjalan pulang dari sekolah dengan
bergandengan tangan.
Subscribe to:
Comments (Atom)