March 24, 2013

Cat Story


Aku sudah tidak tahu berapa lama aku berada di jalanan. Terasa seperti sudah bertahun-tahun, namun aku yakin belum selama itu, sebab aku masih saja belum mati. Aku adalah seekor kucing hitam yang tinggal di sebuah kardus dekat tiang listrik di sebuah jalan yang namanya saja tidak kuingat. Aku tidak punya nama—atau lebih tepatnya aku melupakan namaku sendiri.

“Waah, kucing yang lucu,” ucap seorang gadis berambut panjang saat ia melihatku. Aku mengeong menjawabnya. Ia baru saja akan mendekatiku saat teman disebelahnya, yang berambut pendek itu, menghentikannya.

“Jangan, kita tidak tahu apakah kucing itu bersih atau kotor,” alasannya. Aku lihat kakak berambut panjang itu mengeluh, namun akhirnya perdebatan mereka dimenangkan oleh si rambut pendek.

“Maaf ya, kucing kecil,” bisik kakak berambut panjang tadi. Mereka pun meninggalkan aku sendirian.

Akhir-akhir ini banyak yang seperti itu. Dua orang pergi bersama, yang satu melihatku dan ingin menyentuhku, namun yang lainnya menghentikannya. Hasilnya, mereka pergi seperti kakak tadi, dan aku tidak dapat makanan, maupun elusan. Sekarang saja, aku sudah tidak makan selama dua hari. Manusia zaman sekarang memang merepotkan.

*Cat Story*

Sore ini hujan lebat. Tidak, bukan hujan, lebih tepat lagi jika disebut badai. Dan, aku berjalan sendiri di tengah badai tersebut. Lima menit yang lalu, saat hujan belum turun, aku sedang berjalan-jalan di pertokoan dekat ‘rumah’ku, mencari makanan sisa, dan untungnya aku mendapatkan makanan yang cukup untukku hari ini. Namun, saat berjalan pulang, hujan turun dan dalam lima detik berubah menjadi badai. Dan sekarang aku sedang menembus badai itu, berusaha untuk mencapai kardusku tersayang, hanya untuk mendapati bahwa kardus itu telah tiada. Tepatnya, begitu aku sampai di depan kardusku, menit itu juga kardus tersebut terbang ditiup angin, entah kemana. Aku hanya bisa melongo melihatnya. Kalau begini, dimana aku akan tinggal selanjutnya?

“Kau kehujanan?” aku mendengar sebuah suara, yang sepertinya ditujukan kepadaku. Aku pun berbalik dengan perasaan senang, mungkin orang itu akan memungutku? Namun ternyata itu hanyalah seorang cowok yang menggoda cewek cantik, tepat di depanku. Huuh, sial sekali sih aku hari ini!

Aku akhirnya memutuskan untuk duduk di tempat kardusku seharusnya berada. Tubuhku sudah basah sejak tadi, dan tentu saja aku kedinginan. Tapi kurasa ini semua tidak dapat membunuhku. Aku berbeda dengan kucing-kucing normal yang ada di seluruh dunia, aku setengah manusia. Bukan siluman atau semacamnya. Seharusnya aku berwujud manusia, tetapi entah bagaimana aku dikutuk—begitu aku menyebutnya—sehingga harus berwujud kucing begini sampai aku menemukan orang yang tepat untuk menjadi partnerku.

Tunggu, kenapa aku jadi membahas hal itu? Itu tidak penting sekarang. Lebih penting lagi, mau tinggal dimana aku setelah ini?! Apa aku harus cari kardus baru? Tapi, aku sama sekali tidak ingat dimana aku menemukan kardus yang terbang tadi. Sekarang juga susah untuk mencari dan membawa kardus bekas, apalagi aku hanyalah seekor kucing. Jadi bagaimana?! Apakah harus menyerah pada nasib? Aku tidak suka itu, tapi kalau dalam kasus kali ini, mau bagaimana lagi..?

Tiba-tiba, aku merasa ada seseorang yang mengangkat tubuhku. “Kau basah sekali. Main hujan-hujanan ya, tadi?” ucap orang itu sambil mendekapku ke badannya. Rasa hangat langsung menjalari tubuhku. “Kubawa ke rumah saja ah, mumpung tidak ada orangtuaku,” lanjutnya, sambil membawaku pergi.

Ng? Tunggu, kalau begini— berarti aku diculik? Aku langsung memberontak sekuat tenaga, meminta untuk diturunkan. “Hei, jangan bergerak terus, nanti kau jatuh,” ucap orang itu lembut. Saat itu, aku baru melihat wajahnya. Ternyata ia adalah cowok yang lumayan keren. Yaah, kalau begini sih, aku mau saja dibawa ke rumahnya.

*Cat Story*

Sesampainya di rumah orang itu, ia langsung memandikanku dan mengeringkanku. Ia mengajakku bicara mengenai banyak hal. Dari percakapan itu, aku tahu kalau namanya adalah Ryuuichi. Ia tinggal dengan ayahnya, yang baru saja menikah lagi dan sekarang sedang berbulan madu dengan istri barunya. Ia sama sekali tidak menceritakan soal ibunya, jadi aku tidak tahu apapun mengenai itu. Selain itu, ia juga memberiku nama, Roku. Katanya, ia memberiku nama Roku karena ia suka angka enam, dan karena jika hurufnya ditukar bisa menghasilkan kuro, warnaku. (P.S : roku dan kuro adalah bahasa Jepang, yang artinya ‘enam’ dan ‘hitam’)

Kami cepat berteman, aku tahu itu, karena dalam waktu satu hari, aku sudah menunggu-nunggu kepulangannya. Dalam seminggu, kami sudah menjadi teman dekat. Mungkin orang inilah partner yang kucari?

Masalah datang saat ayah dan istri baru ayahnya pulang. Ternyata, istri baru tersebut alergi terhadap kucing, sehingga aku hampir diusir dari rumah itu. Namun Ryuuichi membelaku sekuat tenaga, sehingga akhirnya aku masih boleh tinggal disana.

Kukira masalahnya sudah beres sampai disitu, sehingga aku dapat tidur dengan tenang malam harinya. Maka dari itu aku kaget saat terbangun di tengah malam, dan mendapati diriku berada di ruangan yang sangat gelap. Aku terguncang-guncang di dalam ruangan itu, sehingga membuatku pusing. Beberapa menit kemudian, guncangan itu berhenti dan aku ditarik keluar dari tempat gelap yang sebenarnya adalah sebuah tas. Aku melihat ayah Ryuuichi, yang sekarang sedang menarik leherku—ya, tentu saja sakit!—, merupakan dalang di balik semua itu.

“Maaf ya, kucing manis. Kau tidak bisa tinggal di rumahku lagi karena istriku tidak tahan dengan bulumu,” ucapnya membuka percakapan. Aku mengeong marah beberapa kali. Kalau Ryuuichi tahu, ia pasti akan pergi mencariku! “Hm? Kau tenang saja soal Ryuuichi. Akan kuberikan ia peliharaan yang super imut, sehingga ia pasti akan melupakanmu.” Dan dengan begitu, orang jahat tersebut melemparku dan meninggalkanku di tempat antah berantah ini.

Untungnya, aku mendarat di rumput, sehingga tubuhku tidak terlalu sakit. Sialnya, aku tidak tahu dimana aku berada sekarang. Hanya sungai dan rumput-rumput tinggi yang ada di sekelilingku. Aku sama sekali tidak tahu daerah ini. Akhirnya, aku hanya berjalan. Berjalan, berjalan, dan berjalan. Entah berapa hari telah lewat hingga aku menemukan sebuah rumah yang sangat kukenal. Ya, itu rumah Ryuuichi. Aku sangat senang melihatnya hingga tanpa sadar aku berlari menuju rumah itu, menaiki temboknya, hendak mengeong untuk memberitahu Ryuuichi tentang keberadaanku, sebelum melihat seekor tupai di dalam rumah itu. Tupai tersebut melihat ke arahku sekilas, lalu pergi ke arah Ryuuichi. Ryuuichi terlihat senang dan mengelus tupai itu, seperti dulu ia mengelusku. Akhirnya, aku mengurungkan niatku dan pergi dari rumah itu, kembali berjalan tanpa arah.

*Cat Story*

Aku merasa sudah lebih dari seminggu aku berjalan, sama sekali tidak makan, sehingga sekarang perutku benar-benar keroncongan. Namun aku sama sekali tidak berniat untuk makan. Jadi, aku terus berjalan hingga aku akhirnya benar-benar kelelahan dan berhenti di dekat sebuah tiang listrik. Sepertinya, aku kembali ke awal, ya?

Aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebelah tiang listrik tersebut, tepat ketika hujan turun. Basah lagi, deh, pikirku. Perutku juga lapar. Tapi, daripada tidak ada tujuan begini, lebih baik mati, ‘kan? Jadi, aku tidak menghiraukan semua itu dan tidur-tiduran saja di tempatku berada, hingga akhirnya aku benar-benar ketiduran. Apakah saat aku bangun nanti aku akan tiba di surga? Apakah aku akan jadi malaikat kucing? Yah, yang manapun boleh, asalkan jangan tetap disini. Aku lelah dengan dunia ini.

Begitu aku membuka mata, entah kenapa aku mendapati diriku berada di tempat yang berbeda dengan saat aku tidur tadi. Kini aku berada di sebuah tempat yang terlihat seperti rumah. Tubuhku tidak lagi basah, malah ditutupi oleh selimut. Apakah aku dipungut lagi, tanpa sepengetahuanku?

“Sudah bangun?” terdengar kalimat acuh tak acuh yang ditujukan padaku. Aku melihat ke arah asal suara itu sambil mengeong pelan. Orang yang mengajakku bicara tersebut mempunyai rambut berwarna merah, dan ya, dia cowok. Lagi. Aku langsung bangun dari posisi tidurku, berganti menjadi posisi siaga. Aku malas berurusan dengan manusia sekarang. Namun orang itu tidak mendekat ke arahku. Ia justru pergi ke pojok ruangan dan kembali membawa.. ikan?

“Kau lapar, ‘kan?” ucapnya sambil meletakkan piring berisi ikan itu di hadapanku. Aku masih dalam posisi siaga saat aku merasa perutku berbunyi, minta diberi makan. Akhirnya aku melahap ikan itu. Enaak..

*Cat Story*

Sekarang, aku terjebak bersama orang aneh. Tepatnya sih, aku tidak tahu apa-apa tentang orang ini. Ia tidak memberitahuku namanya dan hampir tidak berbicara padaku sama sekali. Sama sekali berbeda dengan Ryuuichi, tapi aku cukup suka dengan orang yang ini. Tunggu, kutarik kembali kata-kataku. Aku hanya suka pada si rambut merah— begitu aku memanggilnya— ini saat ia mengelusku saja. Entah kenapa rasanya aku senang sekali setiap ia mengelusku. Yah, walaupun dulu Ryuuichi juga mengelusku, tetapi rasanya berbeda, entah kenapa.

Kembali ke si rambut merah, kesehariannya juga aneh. Ia terlihat seperti remaja, namun tidak pergi sekolah. Setiap pagi ia pergi entah kemana, memakai baju bebas, dan pulang sekitar jam empat sore. Aku juga tidak menemukan baju seragam saat aku menyelinap ke dalam lemari bajunya. Err— bukan untuk apa-apa sih. Tepatnya, saat itu aku tidak ada kerjaan, kemudian iseng masuk lemari bajunya dan terkunci disana. Untungnya si rambut merah menemukanku tidak lama kemudian. Selain baju, yang aneh adalah kadang-kadang ia pulang dengan terluka. Memang, sih, lukanya tidak parah, tetapi tetap saja, luka. Kadang aku suka menjilati lukanya yang bisa kujangkau, sekedar membalas budi setelah dirawat olehnya, sambil berpikir, sebenarnya apa sih yang dilakukan oleh si rambut merah?!

*Cat Story*

Malam itu tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Aku sedikit haus, jadi aku pergi ke luar kamar si rambut merah— ya, aku tidur di kamarnya, di atas bantalnya— menuju ke tempat  minum yang sudah ia siapkan. Setelah minum, aku iseng-iseng melihat ke arah ruang tamu, dan melihat si rambut merah sedang duduk di sana. Matanya menerawang keluar ruangan, menatap langit. Aku pun menghampirinya dan mengeong setelah sampai di dekatnya. Ia melihatku, lalu mengelusku sementara aku menutup mataku, menikmati tangannya menyusuri buluku.

“Dulu aku punya seorang partner saat masih tinggal di Eropa,” tiba-tiba terdengar suara si rambut merah. “Namanya Karen. Ia adalah cewek yang baik dan cantik. Aku senang berpasangan dengannya, namun sepertinya ia tidak merasa begitu. Suatu hari, ia pergi meninggalkanku,” lanjutnya. “Aku terus mencarinya hingga kemari. Ada orang yang menyatakan bahwa ia melihat Karen di Jepang. Dalam waktu dua hari, aku menemukannya. Namun, ia tidak seperti Karen yang kukenal dulu. Ia sudah berpartner dengan orang lain, dan ia terlihat senang.” Aku teringat saat melihat Ryuuji dengan tupai peliharaannya itu.

“Tadi sore, aku pergi ke rumah sakit dengan niat menengok Karen. Katanya ia terluka cukup parah saat bertugas. Namun saat aku sampai disana, aku melihat Karen sedang tertawa bersama partner barunya. Sesuatu yang aku dan dia jarang lakukan dulu.” Sebuah jeda yang panjang. Akhirnya, karena ia tidak juga memulai percakapan, aku berjalan ke kakinya dan mengusapkan wajahku pada celana yang ia pakai. Kalau dalam bahasa kucing, meminta untuk diperhatikan, mungkin? Namun aku memakainya agar dia tidak merasa sedih. Entahlah, mungkin tinggal bersama orang ini telah menyihirku sedemikian rupa hingga aku merasa ia adalah orang yang selama ini kucari.

Menanggapi sikapku yang terbilang manja itu, ia tersenyum kecil dan mengangkatku. “Sudah waktunya tidur,” ucapnya, lalu membawaku ke kamarnya.

*Cat Story*

Keesokan paginya, aku bangun di atas kasurnya, dan melihat wajahnya yang terlihat aneh, seperti kaget. Namun aku masih terlalu mengantuk untuk menyadari hal itu, sehingga aku mengucapkan dua kata saja, “Selamat pagi.”

Ng? Tunggu, itu suaraku? Aku melihat tanganku, keduanya tangan manusia sekarang. Begitu juga, aku yakin, dengan tubuhku. Berarti aku sudah lepas dari kutukan itu? Berarti, si rambut merah memang partner yang kutunggu?

*Cat Story*

Sekarang aku berada di ruang tamu, duduk dengan manis mengenakan pakaian yang kupinjam dari si rambut merah. Aku sengaja tidak menceritakan kelanjutan kisah di kamar tidur tadi, karena, yah, sedikit memalukan untukku.

“Jadi, kau salah satu klan kucing yang terkenal itu?” ucap si rambut merah membuka percakapan. Aku hanya mengangguk menanggapinya. Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan kalimatnya. “Kalau begitu, aku harus menangkapmu.” Aku spontan kaget. “Kau tahu kan, kucing dan anjing bermusuhan, sama seperti kedua klan kita. Aku, klan anjing,  berpihak pada polisi dan klan kucing berpihak pada mafia. Jadi, aku harus menangkapmu,” jelasnya.

“U-Umm.. Sebenarnya, aku tidak terlalu mengerti penjelasanmu, karena aku sama sekali tidak ingat dengan keluargaku sendiri, ataupun yang kau sebut klan kucing itu. Selain itu, aku juga— eh—,” aku terbata-bata di akhir kalimatku.

“Juga apa?” tanya si rambut merah to the point.

“Aku— sebenarnya.. I-Ingin menjadi partnermu,” ucapku dengan susah payah. Yah, kalau mendengar penjelasannya, mungkin ia tidak akan mau menjadi partnerku, tapi mungkin saja, ‘kan?

“Itu mustahil,” jawabnya setelah beberapa detik. “Kau dengar, ‘kan, kata-kataku tadi?”

“Iya, tapi.. A-Apa tidak bisa jika tidak memikirkan itu semua?” aku mencoba membela diri, meski mataku sudah panas rasanya.

“Maaf,” ucapnya, menghancurkan semua harapanku.

“Begitu—ya?” aku masih menahan tangisanku. “K-Kalau begitu, maaf sudah merepotkan selama ini. T-Terima kasih,” lanjutku, kemudian segera meninggalkan tempat itu. Aku kembali berlari tanpa arah, di jalan, namun sudah bukan berwujud kucing, melainkan berwujud manusia. Meski begitu, rasanya berkali-kali lipat lebih baik menjadi kucing sekarang. Tapi aku tidak menuruti keinginanku, dan terus berlari tanpa arah, dengan air mata yang masih mengalir turun dari mataku.

*Cat Story*

Aku sudah sangat capek ketika aku sampai di sebuah taman bermain untuk anak-anak. Hari juga sudah hampir gelap saat itu. Kehabisan napas, akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat di taman itu. Aku menduduki salah satu kursi di sana, menaikkan kedua kakiku ke atas kursi panjang itu, dan menarik lututku hingga aku bisa memeluknya. Hari ini cukup buruk untukku, kehilangan tempat tinggal dan orang yang sudah kusayangi. Rasanya hampir sama seperti saat aku kembali ke jalanan setelah dibuang oleh ayah Ryuuichi, namun kali ini jauh lebih sakit. Aah, lagi-lagi aku merasa ingin tidur saja, dan saat terbangun nanti aku sudah pindah ke alam lain. Maka, aku pun menutup mataku, membiarkan semuanya berlalu.

“Kau bisa mati kalau tidur di sini, loh,” aku mendengar suara yang familier untukku. Saat aku membuka mata, aku melihat si rambut merah berdiri di depanku.

“U-Untuk apa kau kemari?” ucapku spontan, sambil memalingkan wajahku.

“Aku hanya mau menyuruhmu pulang,” jawabnya, sama singkatnya dengan pertanyaanku.

“Mau pulang kemana? Aku tidak punya rumah sekarang,” aku terdiam untuk beberapa saat.

“Tentu saja punya,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku. “Rumah tanpamu sepi, tau,” lanjutnya. Aku terkejut mendengarnya, kemudian aku bergantian menatap tangan yang terulur itu dan wajahnya. “Apa?”

“Berarti kau mau jadi partnerku?” kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku.

“Kalau aku tidak mau, aku tidak akan mencarimu begini, bodoh,” adalah jawabannya. Aku tersenyum mendengarnya, entah karena apa.
“Baiklah, kalau begitu,” ucapku, kemudian menaruh tanganku diatas tangan orang itu.


*Cat Story*

Sesampainya di rumah si rambut merah, ia menyuruhku duduk sementara ia pergi ke dapur. Begitu kembali dari dapur, ia membawa nampan berisi dua buah cangkir. Ia menaruh nampan itu di meja di depanku, sehingga aku dapat mengetahui bahwa cangkir itu berisi cokelat panas. Memang, sih, udara di luar cukup dingin, apalagi mengingat sekarang sudah memasuki musim gugur. Ia menyerahkan salah satu cangkir padaku, sementara yang satunya ia pegang. Aku terdiam sambil melihat ea rah cangkir yang sekarang telah kupegang, larut dalam keheningan yang terjadi diantara kami.

“Namamu?” tiba-tiba terdengar suara orang aneh itu.

“Eh?” aku berkata dengan spontan.

“Aku belum bertanya siapa namamu, ‘kan? Aku Red,” aku melihat rambutnya, kemudian tersenyum. Memang nama yang cocok untuknya. “Kenapa senyum-senyum begitu?” tanyanya.

“Tidak apa-apa, kok,” jawabku, masih sedikit tersenyum.

“Lalu?” ia kembali bertanya.

“Apa?” ucapku, bingung dengan pertanyaannya.

“Namamu? Kau tidak punya nama?” sepertinya air mukaku berubah saat Red mengatakan hal ini, karena kini ia melihat ke arahku  dengan tatapan bingung.

“Aku—tidak ingat nama asliku,” ucapku jujur. “Aku hanya ingat nama yang diberikan ‘pemilik’ku sebelum kau,” lanjutku. “Bagaimana kalau kau memberiku nama baru?”

“Hah?! Kenapa harus aku?” Red memprotes.

“Mm.. Mungkin karena aku suka kau?” sedetik kemudian, aku baru sadar arti dari ucapanku. Aku cepat-cepat membetulkannya. “M-Maksudku, dalam arti partner.”

“Yah, terserahlah,” ucapnya dingin. Aku sedikit menyesal telah membetulkan kalimatku. Kalau tidak ada efeknya seperti ini sih, lebih baik tidak usah kuralat. “Memory,” Red berkata tiba-tiba.

“Hah?”

“Kenapa malah ‘hah’? Kau yang menyuruhku memberimu nama ‘kan?” ucap Red.

“I-Iya, sih. Tapi kenapa harus ‘Memory’?” aku bertanya setengah memprotes. Habisnya, aku ‘kan bisa dibilang tidak punya ingatan. Nama ‘Memory’ rasanya tidak cocok untukku.

“Itu agar kau bisa mengingat banyak hal mulai sekarang,” Red menjelaskan sambil meneguk cokelat panas-nya.

“Mengingat banyak hal? Memory?” aku mengulangi beberapa kata-kata Red.

“Tidak suka?” tanya Red. Aku berpikir sebentar, kemudian menggelengkan kepalaku.

“Suka, kok,” jawabku, kemudian tersenyum.

*Cat Story*

Sudah dua tahun berlalu sejak saat itu. Kini aku berpartner dengan Red, menegakkan keadilan di Jepang. Sebenarnya bukan ‘menegakkan keadilan’ juga, sih. Tetapi aku tidak mempunyai kata yang tepat untuk mendeskripsikan pekerjaan kami sekarang. Yang jelas, pekerjaan kami adalah menangkap penjahat. Yah, lebih baik lupakan soal apa pekerjaan kami sekarang.

Kini, aku sudah punya banyak hal yang tidak kupunyai saat aku menjadi kucing jalanan dulu. Tempat tinggal, pekerjaan, teman, dan nama. Semua itu adalah pemberian Red, walaupun orangnya sendiri bilang bahwa setengahnya adalah hasil kerjaku juga. Tetapi tetap saja. Kurasa aku tidak akan bisa mendapatkan hal-hal tersebut jika Red tidak membawaku pulang hari itu.

Memang sih, ada beberapa hal yang tidak kupunyai sekarang. Salah satunya adalah ingatan masa lalu, sebelum aku menjadi kucing. Tapi, hal itu tidak lagi penting untukku, karena, sesuai kata Red, aku akan mengingat banyak hal mulai sekarang, dan itulah yang kulakukan. Aku sudah merasa senang dengan kehidupanku yang ini, yang kujalani bersama dengan Red. Kurasa, aku sudah tidak butuh apapun lagi.



Eeh.. Sedikit Author Notes disini.
Buat yang baca, kalau ada (gak yakin blognya terkenal), tolong kasih ide buat judul cerita ini. Cat Story itu cuma judul sementara, karena sekarang udah malam dan authornya harus tidur. Jadi, tolong dengan sangat bantu saya mencari judul yang tepat buat cerita si kucing ini. Makasih. :)

No comments:

Post a Comment