Aku sudah tidak tahu berapa lama aku berada di
jalanan. Terasa seperti sudah bertahun-tahun, namun aku yakin belum selama itu,
sebab aku masih saja belum mati. Aku adalah seekor kucing hitam yang tinggal di
sebuah kardus dekat tiang listrik di sebuah jalan yang namanya saja tidak
kuingat. Aku tidak punya nama—atau lebih tepatnya aku melupakan namaku sendiri.
“Waah, kucing yang lucu,” ucap seorang gadis
berambut panjang saat ia melihatku. Aku mengeong menjawabnya. Ia baru saja akan
mendekatiku saat teman disebelahnya, yang berambut pendek itu, menghentikannya.
“Jangan, kita tidak tahu apakah kucing itu bersih atau
kotor,” alasannya. Aku lihat kakak berambut panjang itu mengeluh, namun
akhirnya perdebatan mereka dimenangkan oleh si rambut pendek.
“Maaf ya, kucing kecil,” bisik kakak berambut
panjang tadi. Mereka pun meninggalkan aku sendirian.
Akhir-akhir ini banyak yang seperti itu. Dua orang
pergi bersama, yang satu melihatku dan ingin menyentuhku, namun yang lainnya
menghentikannya. Hasilnya, mereka pergi seperti kakak tadi, dan aku tidak dapat
makanan, maupun elusan. Sekarang saja, aku sudah tidak makan selama dua hari.
Manusia zaman sekarang memang merepotkan.
*Cat
Story*
Sore ini hujan lebat. Tidak, bukan hujan, lebih
tepat lagi jika disebut badai. Dan, aku berjalan sendiri di tengah badai
tersebut. Lima menit yang lalu, saat hujan belum turun, aku sedang
berjalan-jalan di pertokoan dekat ‘rumah’ku, mencari makanan sisa, dan
untungnya aku mendapatkan makanan yang cukup untukku hari ini. Namun, saat
berjalan pulang, hujan turun dan dalam lima detik berubah menjadi badai. Dan
sekarang aku sedang menembus badai itu, berusaha untuk mencapai kardusku
tersayang, hanya untuk mendapati bahwa kardus itu telah tiada. Tepatnya, begitu
aku sampai di depan kardusku, menit itu juga kardus tersebut terbang ditiup
angin, entah kemana. Aku hanya bisa melongo melihatnya. Kalau begini, dimana
aku akan tinggal selanjutnya?
“Kau kehujanan?” aku mendengar sebuah suara, yang
sepertinya ditujukan kepadaku. Aku pun berbalik dengan perasaan senang, mungkin
orang itu akan memungutku? Namun ternyata itu hanyalah seorang cowok yang menggoda
cewek cantik, tepat di depanku. Huuh, sial sekali sih aku hari ini!
Aku akhirnya memutuskan untuk duduk di tempat
kardusku seharusnya berada. Tubuhku sudah basah sejak tadi, dan tentu saja aku
kedinginan. Tapi kurasa ini semua tidak dapat membunuhku. Aku berbeda dengan
kucing-kucing normal yang ada di seluruh dunia, aku setengah manusia. Bukan
siluman atau semacamnya. Seharusnya aku berwujud manusia, tetapi entah
bagaimana aku dikutuk—begitu aku menyebutnya—sehingga harus berwujud kucing
begini sampai aku menemukan orang yang tepat untuk menjadi partnerku.
Tunggu, kenapa aku jadi membahas hal itu? Itu tidak
penting sekarang. Lebih penting lagi, mau tinggal dimana aku setelah ini?! Apa
aku harus cari kardus baru? Tapi, aku sama sekali tidak ingat dimana aku
menemukan kardus yang terbang tadi. Sekarang juga susah untuk mencari dan
membawa kardus bekas, apalagi aku hanyalah seekor kucing. Jadi bagaimana?!
Apakah harus menyerah pada nasib? Aku tidak suka itu, tapi kalau dalam kasus
kali ini, mau bagaimana lagi..?
Tiba-tiba, aku merasa ada seseorang yang mengangkat
tubuhku. “Kau basah sekali. Main hujan-hujanan ya, tadi?” ucap orang itu sambil
mendekapku ke badannya. Rasa hangat langsung menjalari tubuhku. “Kubawa ke
rumah saja ah, mumpung tidak ada orangtuaku,” lanjutnya, sambil membawaku
pergi.
Ng? Tunggu, kalau begini— berarti aku diculik? Aku
langsung memberontak sekuat tenaga, meminta untuk diturunkan. “Hei, jangan
bergerak terus, nanti kau jatuh,” ucap orang itu lembut. Saat itu, aku baru
melihat wajahnya. Ternyata ia adalah cowok yang lumayan keren. Yaah, kalau
begini sih, aku mau saja dibawa ke rumahnya.
*Cat
Story*
Sesampainya di rumah orang itu, ia langsung
memandikanku dan mengeringkanku. Ia mengajakku bicara mengenai banyak hal. Dari
percakapan itu, aku tahu kalau namanya adalah Ryuuichi. Ia tinggal dengan
ayahnya, yang baru saja menikah lagi dan sekarang sedang berbulan madu dengan
istri barunya. Ia sama sekali tidak menceritakan soal ibunya, jadi aku tidak
tahu apapun mengenai itu. Selain itu, ia juga memberiku nama, Roku. Katanya, ia
memberiku nama Roku karena ia suka angka enam, dan karena jika hurufnya ditukar
bisa menghasilkan kuro, warnaku. (P.S : roku dan kuro adalah bahasa Jepang,
yang artinya ‘enam’ dan ‘hitam’)
Kami cepat berteman, aku tahu itu, karena dalam
waktu satu hari, aku sudah menunggu-nunggu kepulangannya. Dalam seminggu, kami
sudah menjadi teman dekat. Mungkin orang inilah partner yang kucari?
Masalah datang saat ayah dan istri baru ayahnya
pulang. Ternyata, istri baru tersebut alergi terhadap kucing, sehingga aku
hampir diusir dari rumah itu. Namun Ryuuichi membelaku sekuat tenaga, sehingga
akhirnya aku masih boleh tinggal disana.
Kukira masalahnya sudah beres sampai disitu,
sehingga aku dapat tidur dengan tenang malam harinya. Maka dari itu aku kaget
saat terbangun di tengah malam, dan mendapati diriku berada di ruangan yang
sangat gelap. Aku terguncang-guncang di dalam ruangan itu, sehingga membuatku
pusing. Beberapa menit kemudian, guncangan itu berhenti dan aku ditarik keluar
dari tempat gelap yang sebenarnya adalah sebuah tas. Aku melihat ayah Ryuuichi,
yang sekarang sedang menarik leherku—ya, tentu saja sakit!—, merupakan dalang
di balik semua itu.
“Maaf ya, kucing manis. Kau tidak bisa tinggal di
rumahku lagi karena istriku tidak tahan dengan bulumu,” ucapnya membuka
percakapan. Aku mengeong marah beberapa kali. Kalau Ryuuichi tahu, ia pasti
akan pergi mencariku! “Hm? Kau tenang saja soal Ryuuichi. Akan kuberikan ia
peliharaan yang super imut, sehingga ia pasti akan melupakanmu.” Dan dengan
begitu, orang jahat tersebut melemparku dan meninggalkanku di tempat antah
berantah ini.
Untungnya, aku mendarat di rumput, sehingga tubuhku
tidak terlalu sakit. Sialnya, aku tidak tahu dimana aku berada sekarang. Hanya
sungai dan rumput-rumput tinggi yang ada di sekelilingku. Aku sama sekali tidak
tahu daerah ini. Akhirnya, aku hanya berjalan. Berjalan, berjalan, dan
berjalan. Entah berapa hari telah lewat hingga aku menemukan sebuah rumah yang
sangat kukenal. Ya, itu rumah Ryuuichi. Aku sangat senang melihatnya hingga
tanpa sadar aku berlari menuju rumah itu, menaiki temboknya, hendak mengeong
untuk memberitahu Ryuuichi tentang keberadaanku, sebelum melihat seekor tupai
di dalam rumah itu. Tupai tersebut melihat ke arahku sekilas, lalu pergi ke
arah Ryuuichi. Ryuuichi terlihat senang dan mengelus tupai itu, seperti dulu ia
mengelusku. Akhirnya, aku mengurungkan niatku dan pergi dari rumah itu, kembali
berjalan tanpa arah.
*Cat
Story*
Aku merasa sudah lebih dari seminggu aku berjalan,
sama sekali tidak makan, sehingga sekarang perutku benar-benar keroncongan.
Namun aku sama sekali tidak berniat untuk makan. Jadi, aku terus berjalan
hingga aku akhirnya benar-benar kelelahan dan berhenti di dekat sebuah tiang
listrik. Sepertinya, aku kembali ke awal, ya?
Aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di
sebelah tiang listrik tersebut, tepat ketika hujan turun. Basah lagi, deh,
pikirku. Perutku juga lapar. Tapi, daripada tidak ada tujuan begini, lebih baik
mati, ‘kan? Jadi, aku tidak menghiraukan semua itu dan tidur-tiduran saja di
tempatku berada, hingga akhirnya aku benar-benar ketiduran. Apakah saat aku
bangun nanti aku akan tiba di surga? Apakah aku akan jadi malaikat kucing? Yah,
yang manapun boleh, asalkan jangan tetap disini. Aku lelah dengan dunia ini.
Begitu aku membuka mata, entah kenapa aku mendapati
diriku berada di tempat yang berbeda dengan saat aku tidur tadi. Kini aku
berada di sebuah tempat yang terlihat seperti rumah. Tubuhku tidak lagi basah,
malah ditutupi oleh selimut. Apakah aku dipungut lagi, tanpa sepengetahuanku?
“Sudah bangun?” terdengar kalimat acuh tak acuh yang
ditujukan padaku. Aku melihat ke arah asal suara itu sambil mengeong pelan.
Orang yang mengajakku bicara tersebut mempunyai rambut berwarna merah, dan ya,
dia cowok. Lagi. Aku langsung bangun dari posisi tidurku, berganti menjadi
posisi siaga. Aku malas berurusan dengan manusia sekarang. Namun orang itu
tidak mendekat ke arahku. Ia justru pergi ke pojok ruangan dan kembali
membawa.. ikan?
“Kau lapar, ‘kan?” ucapnya sambil meletakkan piring
berisi ikan itu di hadapanku. Aku masih dalam posisi siaga saat aku merasa
perutku berbunyi, minta diberi makan. Akhirnya aku melahap ikan itu. Enaak..
*Cat
Story*
Sekarang, aku terjebak bersama orang aneh. Tepatnya
sih, aku tidak tahu apa-apa tentang orang ini. Ia tidak memberitahuku namanya
dan hampir tidak berbicara padaku sama sekali. Sama sekali berbeda dengan
Ryuuichi, tapi aku cukup suka dengan orang yang ini. Tunggu, kutarik kembali
kata-kataku. Aku hanya suka pada si rambut merah— begitu aku memanggilnya— ini
saat ia mengelusku saja. Entah kenapa rasanya aku senang sekali setiap ia
mengelusku. Yah, walaupun dulu Ryuuichi juga mengelusku, tetapi rasanya
berbeda, entah kenapa.
Kembali ke si rambut merah, kesehariannya juga aneh.
Ia terlihat seperti remaja, namun tidak pergi sekolah. Setiap pagi ia pergi
entah kemana, memakai baju bebas, dan pulang sekitar jam empat sore. Aku juga tidak
menemukan baju seragam saat aku menyelinap ke dalam lemari bajunya. Err— bukan
untuk apa-apa sih. Tepatnya, saat itu aku tidak ada kerjaan, kemudian iseng
masuk lemari bajunya dan terkunci disana. Untungnya si rambut merah menemukanku
tidak lama kemudian. Selain baju, yang aneh adalah kadang-kadang ia pulang
dengan terluka. Memang, sih, lukanya tidak parah, tetapi tetap saja, luka.
Kadang aku suka menjilati lukanya yang bisa kujangkau, sekedar membalas budi
setelah dirawat olehnya, sambil berpikir, sebenarnya apa sih yang dilakukan
oleh si rambut merah?!
*Cat
Story*
Malam itu tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Jam
menunjukkan pukul sebelas malam. Aku sedikit haus, jadi aku pergi ke luar kamar
si rambut merah— ya, aku tidur di kamarnya, di atas bantalnya— menuju ke
tempat minum yang sudah ia siapkan.
Setelah minum, aku iseng-iseng melihat ke arah ruang tamu, dan melihat si
rambut merah sedang duduk di sana. Matanya menerawang keluar ruangan, menatap
langit. Aku pun menghampirinya dan mengeong setelah sampai di dekatnya. Ia
melihatku, lalu mengelusku sementara aku menutup mataku, menikmati tangannya
menyusuri buluku.
“Dulu aku punya seorang partner saat masih tinggal
di Eropa,” tiba-tiba terdengar suara si rambut merah. “Namanya Karen. Ia adalah
cewek yang baik dan cantik. Aku senang berpasangan dengannya, namun sepertinya
ia tidak merasa begitu. Suatu hari, ia pergi meninggalkanku,” lanjutnya. “Aku
terus mencarinya hingga kemari. Ada orang yang menyatakan bahwa ia melihat
Karen di Jepang. Dalam waktu dua hari, aku menemukannya. Namun, ia tidak
seperti Karen yang kukenal dulu. Ia sudah berpartner dengan orang lain, dan ia
terlihat senang.” Aku teringat saat melihat Ryuuji dengan tupai peliharaannya
itu.
“Tadi sore, aku pergi ke rumah sakit dengan niat
menengok Karen. Katanya ia terluka cukup parah saat bertugas. Namun saat aku
sampai disana, aku melihat Karen sedang tertawa bersama partner barunya.
Sesuatu yang aku dan dia jarang lakukan dulu.” Sebuah jeda yang panjang.
Akhirnya, karena ia tidak juga memulai percakapan, aku berjalan ke kakinya dan
mengusapkan wajahku pada celana yang ia pakai. Kalau dalam bahasa kucing, meminta
untuk diperhatikan, mungkin? Namun aku memakainya agar dia tidak merasa sedih.
Entahlah, mungkin tinggal bersama orang ini telah menyihirku sedemikian rupa
hingga aku merasa ia adalah orang yang selama ini kucari.
Menanggapi sikapku yang terbilang manja itu, ia
tersenyum kecil dan mengangkatku. “Sudah waktunya tidur,” ucapnya, lalu
membawaku ke kamarnya.
*Cat
Story*
Keesokan paginya, aku bangun di atas kasurnya, dan
melihat wajahnya yang terlihat aneh, seperti kaget. Namun aku masih terlalu
mengantuk untuk menyadari hal itu, sehingga aku mengucapkan dua kata saja,
“Selamat pagi.”
Ng? Tunggu, itu suaraku? Aku melihat tanganku,
keduanya tangan manusia sekarang. Begitu juga, aku yakin, dengan tubuhku.
Berarti aku sudah lepas dari kutukan itu? Berarti, si rambut merah memang
partner yang kutunggu?
*Cat
Story*
Sekarang aku berada di ruang tamu, duduk dengan
manis mengenakan pakaian yang kupinjam dari si rambut merah. Aku sengaja tidak
menceritakan kelanjutan kisah di kamar tidur tadi, karena, yah, sedikit
memalukan untukku.
“Jadi, kau salah satu klan kucing yang terkenal
itu?” ucap si rambut merah membuka percakapan. Aku hanya mengangguk
menanggapinya. Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan kalimatnya. “Kalau begitu,
aku harus menangkapmu.” Aku spontan kaget. “Kau tahu kan, kucing dan anjing
bermusuhan, sama seperti kedua klan kita. Aku, klan anjing, berpihak pada polisi dan klan kucing berpihak
pada mafia. Jadi, aku harus menangkapmu,” jelasnya.
“U-Umm.. Sebenarnya, aku tidak terlalu mengerti
penjelasanmu, karena aku sama sekali tidak ingat dengan keluargaku sendiri,
ataupun yang kau sebut klan kucing itu. Selain itu, aku juga— eh—,” aku
terbata-bata di akhir kalimatku.
“Juga apa?” tanya si rambut merah to the point.
“Aku— sebenarnya.. I-Ingin menjadi partnermu,”
ucapku dengan susah payah. Yah, kalau mendengar penjelasannya, mungkin ia tidak
akan mau menjadi partnerku, tapi mungkin saja, ‘kan?
“Itu mustahil,” jawabnya setelah beberapa detik.
“Kau dengar, ‘kan, kata-kataku tadi?”
“Iya, tapi.. A-Apa tidak bisa jika tidak memikirkan
itu semua?” aku mencoba membela diri, meski mataku sudah panas rasanya.
“Maaf,” ucapnya, menghancurkan semua harapanku.
“Begitu—ya?” aku masih menahan tangisanku. “K-Kalau
begitu, maaf sudah merepotkan selama ini. T-Terima kasih,” lanjutku, kemudian
segera meninggalkan tempat itu. Aku kembali berlari tanpa arah, di jalan, namun
sudah bukan berwujud kucing, melainkan berwujud manusia. Meski begitu, rasanya
berkali-kali lipat lebih baik menjadi kucing sekarang. Tapi aku tidak menuruti
keinginanku, dan terus berlari tanpa arah, dengan air mata yang masih mengalir
turun dari mataku.
*Cat
Story*
Aku sudah sangat capek ketika aku sampai di sebuah
taman bermain untuk anak-anak. Hari juga sudah hampir gelap saat itu. Kehabisan
napas, akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat di taman itu. Aku menduduki
salah satu kursi di sana, menaikkan kedua kakiku ke atas kursi panjang itu, dan
menarik lututku hingga aku bisa memeluknya. Hari ini cukup buruk untukku,
kehilangan tempat tinggal dan orang yang sudah kusayangi. Rasanya hampir sama
seperti saat aku kembali ke jalanan setelah dibuang oleh ayah Ryuuichi, namun
kali ini jauh lebih sakit. Aah, lagi-lagi aku merasa ingin tidur saja, dan saat
terbangun nanti aku sudah pindah ke alam lain. Maka, aku pun menutup mataku,
membiarkan semuanya berlalu.
“Kau bisa mati kalau tidur di sini, loh,” aku
mendengar suara yang familier untukku. Saat aku membuka mata, aku melihat si
rambut merah berdiri di depanku.
“U-Untuk apa kau kemari?” ucapku spontan, sambil
memalingkan wajahku.
“Aku hanya mau menyuruhmu pulang,” jawabnya, sama
singkatnya dengan pertanyaanku.
“Mau pulang kemana? Aku tidak punya rumah sekarang,”
aku terdiam untuk beberapa saat.
“Tentu saja punya,” ucapnya sambil mengulurkan
tangannya padaku. “Rumah tanpamu sepi, tau,” lanjutnya. Aku terkejut
mendengarnya, kemudian aku bergantian menatap tangan yang terulur itu dan
wajahnya. “Apa?”
“Berarti kau mau jadi partnerku?” kata-kata itu
terucap begitu saja dari mulutku.
“Kalau aku tidak mau, aku tidak akan mencarimu
begini, bodoh,” adalah jawabannya. Aku tersenyum mendengarnya, entah karena
apa.
“Baiklah, kalau begitu,” ucapku, kemudian menaruh
tanganku diatas tangan orang itu.
*Cat
Story*
Sesampainya di rumah si rambut merah, ia menyuruhku
duduk sementara ia pergi ke dapur. Begitu kembali dari dapur, ia membawa nampan
berisi dua buah cangkir. Ia menaruh nampan itu di meja di depanku, sehingga aku
dapat mengetahui bahwa cangkir itu berisi cokelat panas. Memang, sih, udara di
luar cukup dingin, apalagi mengingat sekarang sudah memasuki musim gugur. Ia
menyerahkan salah satu cangkir padaku, sementara yang satunya ia pegang. Aku
terdiam sambil melihat ea rah cangkir yang sekarang telah kupegang, larut dalam
keheningan yang terjadi diantara kami.
“Namamu?” tiba-tiba terdengar suara orang aneh itu.
“Eh?” aku berkata dengan spontan.
“Aku belum bertanya siapa namamu, ‘kan? Aku Red,”
aku melihat rambutnya, kemudian tersenyum. Memang nama yang cocok untuknya. “Kenapa
senyum-senyum begitu?” tanyanya.
“Tidak apa-apa, kok,” jawabku, masih sedikit
tersenyum.
“Lalu?” ia kembali bertanya.
“Apa?” ucapku, bingung dengan pertanyaannya.
“Namamu? Kau tidak punya nama?” sepertinya air
mukaku berubah saat Red mengatakan hal ini, karena kini ia melihat ke
arahku dengan tatapan bingung.
“Aku—tidak ingat nama asliku,” ucapku jujur. “Aku
hanya ingat nama yang diberikan ‘pemilik’ku sebelum kau,” lanjutku. “Bagaimana
kalau kau memberiku nama baru?”
“Hah?! Kenapa harus aku?” Red memprotes.
“Mm.. Mungkin karena aku suka kau?” sedetik kemudian,
aku baru sadar arti dari ucapanku. Aku cepat-cepat membetulkannya. “M-Maksudku,
dalam arti partner.”
“Yah, terserahlah,” ucapnya dingin. Aku sedikit
menyesal telah membetulkan kalimatku. Kalau tidak ada efeknya seperti ini sih,
lebih baik tidak usah kuralat. “Memory,” Red berkata tiba-tiba.
“Hah?”
“Kenapa malah ‘hah’? Kau yang menyuruhku memberimu
nama ‘kan?” ucap Red.
“I-Iya, sih. Tapi kenapa harus ‘Memory’?” aku
bertanya setengah memprotes. Habisnya, aku ‘kan bisa dibilang tidak punya
ingatan. Nama ‘Memory’ rasanya tidak cocok untukku.
“Itu agar kau bisa mengingat banyak hal mulai
sekarang,” Red menjelaskan sambil meneguk cokelat panas-nya.
“Mengingat banyak hal? Memory?” aku mengulangi
beberapa kata-kata Red.
“Tidak suka?” tanya Red. Aku berpikir sebentar,
kemudian menggelengkan kepalaku.
“Suka, kok,” jawabku, kemudian tersenyum.
*Cat
Story*
Sudah dua tahun berlalu sejak saat itu. Kini aku berpartner
dengan Red, menegakkan keadilan di Jepang. Sebenarnya bukan ‘menegakkan
keadilan’ juga, sih. Tetapi aku tidak mempunyai kata yang tepat untuk
mendeskripsikan pekerjaan kami sekarang. Yang jelas, pekerjaan kami adalah
menangkap penjahat. Yah, lebih baik lupakan soal apa pekerjaan kami sekarang.
Kini, aku sudah punya banyak hal yang tidak kupunyai
saat aku menjadi kucing jalanan dulu. Tempat tinggal, pekerjaan, teman, dan
nama. Semua itu adalah pemberian Red, walaupun orangnya sendiri bilang bahwa
setengahnya adalah hasil kerjaku juga. Tetapi tetap saja. Kurasa aku tidak akan
bisa mendapatkan hal-hal tersebut jika Red tidak membawaku pulang hari itu.
Memang sih, ada beberapa hal yang tidak kupunyai
sekarang. Salah satunya adalah ingatan masa lalu, sebelum aku menjadi kucing.
Tapi, hal itu tidak lagi penting untukku, karena, sesuai kata Red, aku akan
mengingat banyak hal mulai sekarang, dan itulah yang kulakukan. Aku sudah
merasa senang dengan kehidupanku yang ini, yang kujalani bersama dengan Red.
Kurasa, aku sudah tidak butuh apapun lagi.
Eeh..
Sedikit Author Notes disini.
Buat
yang baca, kalau ada (gak yakin blognya terkenal), tolong kasih ide buat judul
cerita ini. Cat Story itu cuma judul sementara, karena sekarang udah malam dan
authornya harus tidur. Jadi, tolong dengan sangat bantu saya mencari judul yang
tepat buat cerita si kucing ini. Makasih. :)