Hari
ini aku kembali pergi ke bukit itu, menemui orang itu. Namanya Flame Linerit.
Aku bertemu dengannya di taman itu tiga bulan yang lalu, bertepatan dengan dua
tahun hilangnya Allen Levithan dari kerajaan sihir Moonlit ini. Ia mirip dengan
Allen, apalagi bagian kemunculan pertamanya di hidupku. Namun tentu saja lebih
banyak bedanya. Aku lebih menyukai saat-saat bersama Flame, walaupun bersama
Allen juga menyenangkan.
Sesampainya
aku di bukit itu, aku melihat Flame, sedang duduk bersandar pada salah satu
pohon yang ada disana. Tanpa menunggu apapun lagi, aku segera menghampirinya.
“Menunggu
siapa, nih?” tanyaku iseng padanya. Ia pun berbalik dan menatapku.
“Memang
siapa lagi yang biasa kutunggu?” ia malah balik bertanya kepadaku.
“Yah,
siapa tau menunggu seseorang yang lain. Karina, mungkin?” ucapku spontan.
Karina adalah nama orang—atau mana?
Entahlah, apapun itu, wujudnya tetap manusia, ‘kan?— yang disukai Flame. Ia
bercerita kepadaku saat aku menceritakan tentang Allen waktu itu. Berbeda
denganku, Karina tidak meninggalkan Flame. Mereka memilih jalan masing-masing
karena tahu apa yang terbaik untuk mereka, setidaknya begitulah kata Flame.
“Heh,
mana mungkin,” Flame menjawab dengan singkat.
“Yaah,
siapa tahu saja,” kataku iseng, lalu duduk di sebelahnya. Aku paling suka
saat-saat seperti ini. Di bukit ini, dengan Flame –oke, dulu mungkin
Allen—disampingku. Rasanya seperti mengurangi bebanku, dan, anehnya, aku merasa
terlindungi dengan keberadaan Flame. Itulah yang membedakan Allen dengan Flame.
“Kau
sampai jam berapa hari ini?” Flame tiba-tiba berkata kepadaku.
“Eh?
Jam lima, mungkin? Kenapa?” aku balik bertanya kepadanya, bingung.Flame melirik
ke arah menara jam tinggi yang terletak di pusat kota. Ya, dari puncak bukit
ini memang terlihat seisi kota, dan jaraknya cukup dekat dengan istana Moonlit.
Itulah salah satu alasan aku sering ke bukit ini sejak dulu.
“’Gak,
kok.Besok— kau kemari lagi?” orang disampingku bertanya lagi.
“Tentu
saja lah. Kau kenapa sih? Kepalamu terbentur tadi pagi?” aku benar-benar
kebingungan sekarang. Tidak biasanya Flame seperti ini.
“Yah,
mungkin saja,” jawabnya sambil tersenyum simpul. Aku pun mendekatkan diri
padanya, lalu menatap matanya lekat-lekat.
“Kenapa,
sih?” ulangku.
“Besok
kalau kau kemari lagi, baru kukatakan,” ucapnya, kali ini sambil mengulurkan
tangannya padaku. Spontan, aku menutup mataku. Saat aku membuka mata, aku merasakan tangannya di atas kepalaku,
membelai rambutku dengan sedikit canggung, masih dengan senyum simpulnya. Aku
pun menunduk, menyembunyikan wajahku yang memerah.
Tidak
lama kemudian, terdengar dentangan bel sebanyak lima kali, menandakan bahwa
sekarang sudah jam lima. Aku sedikit kaget mendengar bunyinya, tidak kusangka
jam lima akan datang secepat itu. Masih tetap menunduk, aku pun berdiri.
“A-Aku
harus pulang sekarang,” ucapku, kemudian membalikkan badan. “Besok aku pasti
datang, kok. Jadi—,” aku melirik ke arahnya. “T-Tunggu aku ya,” lalu berlari
pergi dari bukit itu.
Hari
ini senang sekali. Flame mengelusku. Mengelusku! Aku pasti tidak akan bisa
tidur malam ini. Kira-kira ia ingin membicarakan apa, ya, denganku?
Jangan-jangan, ia mau menyatakan cinta padaku?
“Lily
Velvet,” tiba-tiba terdengar suara seseorang saat aku sedang berjalan di kota.
Aku pun menghentikan pikiran-pikiran anehku tadi, kemudian kembali
berkonsentrasi dengan dunia nyata. Kalau tidak salah, suara tadi—
“Sepertinya
kau sudah melupakan suaraku, ya? Padahal baru dua tahun kita tidak bertemu,”
suara itu berkata lagi. Aku pun membalikkan badanku, dan mendapati sang pemilik
suara, orang yang kukenal. Ya, tidak salah lagi. Itu adalah suara
miliknya—Allen.
“Allen?
Kenapa—,” aku tidak meneruskan kata-kataku, terlalu terkejut dengan kenyataan
ini. Kenapa bisa orang yang selama ini kubutuhkan, baru datang saat aku sudah
hampir disembuhkan oleh orang lain?
“Aku
hanya ingin menawarkan sesuatu padamu, dan kupikir kau akan suka dengan hal
ini,” ucapnya. “Kalau tidak salah, dulu kau bilang kau tidak menyukai kerajaan
Moonlit, ‘kan?”
“Ya,
dulu, sekali. Tapi sekarang tidak lagi,” semenjak aku bertemu Flame, tambahku
dalam hati. Setidaknya, Flame selama ini sudah mengajarkanku tentang apa yang
kupunya dan harus kujaga, termasuk kerajaan Moonlit ini, karena aku adalah
putri di kerajaan ini.
“Benarkah?”
Allen berjalan mendekat. “Tapi aku masih bisa merasakan kebencianmu pada
kerajaan ini, pada raja dan ratu di negeri ini,” lanjutnya. Aku diam sebentar.
Allen sepertinya sudah berubah sekarang.
“Sebenarnya
apa maumu?” tanyaku singkat.
“Sudah
kubilang sejak awal, aku ingin menawarkan sesuatu padamu,” ia sengaja memotong
kalimatnya. “Aku ingin kau membantuku menguasai Moonlit, dan kau akan terbebas
dari sumber masalahmu, kerajaan ini.”
“Aku
sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Sudahlah, aku mau pulang,” aku lalu
membalikkan badan dan mulai berjalan pergi.
“Kau
yakin tidak akan menyesal?” Allen kembali berkata-kata.
“Aku
justru akan lebih menyesal jika aku membantumu sekarang,” ucapku, kemudian
cepat-cepat beranjak pergi dari tempat itu.
Saat
aku sampai di kerajaan, ternyata kak Luna, kakakku dan juga putri sulung kerajaan Moonlit,
sedang menungguku tepat di depan gerbang masuk. Aku pun segera menghampirinya.
“Ada
apa, kak?” tanyaku, heran kenapa kak Luna menungguku.
“Sebenarnya,
aku ingin kau menyelidiki sesuatu,” kata kak Luna tanpa basa-basi lagi. “Akhir-akhir
ini ada gerakan sekelompok orang yang cukup meresahkan. Kabarnya, kelompok itu
sudah mendapatkan pemimpin yang pantas bagi mereka, dan sepertinya akan
merencanakan penyerangan ke kerajaan kita.”
“Baiklah,
akan kuselidiki besok,” ucapku sekenanya, auto-pilot, pula. Aku pun masuk ke
dalam kerajaan, menuju ke kamarku dan menghempaskan diri ke ranjang. Hari ini
banyak yang terjadi, dan sepertinya besok akan menjadi hari yang melelahkan.
Keesokan
harinya, aku pergi ke kota untuk menyelidiki masalah “gerakan sekelompok orang”
tersebut. Namun saat aku sampai di kota, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Suasana kota hari ini sangatlah sepi, tidak ada orang satu pun di jalan.
Padahal seharusnya kebalikan dari ini.
Saat
aku berjalan ke arah menara jam, aku melihat ada seseorang di pinggir menara
jam tersebut. Aku pun menghampiri orang itu.
“Kau
tidak apa-apa?” ucapku langsung pada orang itu. Ia lalu melihat ke arahku.
“Apakah
kau yang bernama Lily Velvet?” tanya orang itu padaku. Aku terkejut
mendengarnya. Darimana ia tahu namaku? Lily Velvet ‘kan hanyalah nama
karanganku. Yang tahu nama itu hanya dua orang. Kalau tidak Flame, pasti—
Allen. Lagi.
“Begitulah,”
kataku akhirnya.
“Ini,”
orang tersebut memberikan sebuah kertas kepadaku. “Orang itu tadi menyuruhku
memberikan ini padamu,” lanjutnya.
“Orang
itu? Siapa? Allen?”
“Orang
itu telah menghapus semua orang dengan sihir yang aneh. Aku juga pasti akan
terhapus,” orang di depanku meracau.
“Eh?”
adalah tanggapan satu-satunya yang kuungkapkan pada orang di depanku. Orang
tersebut kemudian mendekat kepadaku.
“Tolong
aku, kumohon, tolong aku. Nasibku akan sama seperti orang-orang lain. Kumo—,”
kata-katanya terhenti. Ia terlihat seperti membeku, kemudian perlahan-lahan,
mulai dari kaki, ia menghilang, seakan-akan dihapus oleh seseorang. Beberapa
detik kemudian, orang tersebut hilang sepenuhnya
.
“Sihir
kuno—?” aku bertanya pada diriku sendiri. Ya, satu-satunya sihir yang bisa
sekejam itu adalah sihir kuno. Dan
setahuku, hanya penyihir kelas atas yang bisa menggunakan sihir seperti itu. Tapi
jumlah penyihir kelas atas sangatlah sedikit, mengingat jumlah mereka di Moonlit
hanyalah tiga orang. Saat sedang asyik berpikir, entah mengapa aku teringat
dengan kertas yang diberikan oleh orang tadi. Aku pun mengambil kertas
tersebut, kemudian membacanya.
‘Dear Lily Velvet, segeralah datang ke
kerajaan jika ingin seluruh warga kotamu tersayang selamat. Allen Levithan.’
Tanpa
membuang waktu lagi, aku segera berlari menuju ke kerajaan. Mana mungkin ia bisa menguasai kerajaan
seorang diri? Allen tidaklah sekuat itu, setidaknya tidak dua tahun yang lalu.
Tapi, tidak mungkin sihir seseorang bisa berkembang sebegitu pesatnya hanya
dalam waktu dua tahun. Kemudian aku teringat dengan tujuanku datang ke kota
tadi. “Gerakan sekelompok orang”. Apa benar sekelompok ‘orang’? Bukan penyihir
atau sejenisnya? Sepertinya aku akan tahu jawabannya saat aku sampai di kerajaan
nanti.
Begitu
sampai di kerajaan, aku segera menuju ke ruang tempat singgasana raja dan ratu
berada. Sepanjang perjalanan, aku menyadari bahwa seluruh kerajaan dalam
keadaan sepi. Barulah saat aku mendekati pintu, aku mendengar teriakan kak
Luna.
“Kak
Luna?!” teriakku saat membuka pintu menuju ruangan raja dan ratu. Aku segera
mengerti kenapa kak Luna berteriak tadi. Disana, di depannya, raja dan ratu
terlihat membatu dan terhapus, sama seperti orang di menara jam tadi.
“Wah,
wah, akhirnya datang juga pahlawan kita,” terdengar suara Allen dari arah
singgasana raja. Aku pun menengok ke arah asal suara, dan menatapnya tajam.
“Lagi-lagi
kau,” ucapku dengan nada setengah marah.
“Ya,
lagi-lagi aku, kau benar. Dalang di balik semua ini memang aku,” ia menunjuk
dirinya sendiri, “dan anak buahku,” lanjutnya sambil menjentikkan jari. Beberapa
orang muncul dari kegelapan. Mungkin sekitar dua puluh orang.
“Kau
mau apa lagi? Bukankah Moonlit sudah jatuh ke tanganmu sekarang?” aku masih
berkata dengan nada jengkel.
“Memangnya
kau pikir orang bodoh mana yang puas hanya dengan satu kerajaan kecil begini?
Tujuanku adalah menguasai dunia, Lily. Dan karena itulah aku membutuhkanmu,”
jelas Allen.
“Dan
tentu saja aku tidak mau,” ucapku menolaknya.
“Kalau
begitu, kau akan menyaksikan kakak kesayanganmu itu menghilang, sama seperti
warga Moonlit yang lain, raja, dan juga ratu,” Allen berusaha mengancam.
“Kau
tidak akan melakukannya. Kalau memang akan, pasti sudah kaulakukan sejak tadi,”
ucapku sedikit santai. Allen bukan orang yang suka menunda sesuatu, aku tahu
itu.
“Ya,
kau benar. Aku masih membutuhkan putri itu untuk tujuan lain,” ia mengakuinya.
“Tapi berbeda lagi dengan orang yang satu itu,” Allen menunjuk ke belakangku.
Spontan, aku melihat ke arah yang ia tunjuk tersebut, tepat saat pintu di sana
terbuka. Ada tiga orang yang masuk kemari. Dua orang yang membawa seseorang
yang kukenal. Flame.
“F-Flame—?”
kataku, tertegun. Kenapa Allen bisa tahu tentang Flame? Kenapa ia menyeret
Flame ke dalam masalah ini?
“Pertemuan
yang mengharukan, ‘eh?” Allen berbisik tepat di telingaku. “Tapi tenang saja,
akan kubuat ini jadi pertemuan terakhirmu dengannya,” lanjut Allen sambil
berjalan menuju ke depan Flame. Ia lalu
mengulurkan tangannya pada salah satu anak buah yang berada di belakangnya.
Anak buahnya pun menyerahkan sebuah cambuk kepadanya. Allen mengangkat benda
itu tinggi-tinggi di depan Flame.
“Hen—!”
aku tidak sempat berteriak sebelum benda itu mengenai tubuh Flame. Aku hanya
bisa memalingkan wajah dan menutup mata. Sama sekali tidak terpikir olehku
untuk menggunakan sihir. “Henti—kan,” ucapku lagi, kali ini dengan suara yang
lebih pelan.
“Kumohon—,”
terdengar bunyi cambukan beberapa kali lagi. “Hentikan—,” entah bagaimana, aku
merasa sihirku mengalir naik ke seluruh tubuhku. Aku bisa merasakan mataku berubah
warna menjadi merah terang—salah satu tanda bahwa aku bisa mengaktifkan
sihirku— dan tanganku penuh dengan sihir.
“HENTIKAN!”
teriakku kencang, lalu gerakan Allen terhenti secara tidak alami. Ia mencoba
menggerakkan tangannya, namun tidak berhasil. “Patah,” ucapku lagi sambil melihat
cambuk tersebut, dan benda itu terbelah menjadi dua. Awalnya, Allen terlihat
bingung, namun beberapa detik kemudian ia melihat ke arahku, tersenyum jahat.
“Semuanya,
buat formasi! Kita harus mendapatkan sihirnya,” Allen memerintah keduapuluh
orang anak buahnya yang ada di ruangan itu, termasuk kedua orang yang menjaga
Flame tadi. Mereka semua lalu mengelilingiku dan mengucapkan sebuah mantra yang
aku tidak tahu. Seketika itu, aku merasa kepalaku pusing, seperti ada orang
yang mengebornya dan memukulnya di saat yang bersamaan. Hentikan, aku tidak
tahan dengan yang seperti ini!
“Agh,”
tiba-tiba terdengar erangan salah seorang anak buah Allen, dan kepalaku tidak
sakit lagi. Orang-orang itu pun berhenti mengucapkan mantra. Saat aku membuka
mataku untuk melihat apa yang terjadi, aku mendapati Flame sedang berusaha
mengacaukan formasi orang-orang tersebut dengan susah payah. Ia menebaskan
salah satu pedang pajangan pada orang-orang itu, namun gerakannya tidak secepat
yang biasanya. Mungkin karena itu juga, ia telat bereaksi saat salah satu anak
buah Allen maju menyerangnya dari belakang.
“Beku,”
ucapku sambil menatap orang itu. Dan, sama seperti cambuk tadi, orang tersebut
pun berhenti bergerak dan benar-benar membeku. “Pecah,” ucapku lagi pada orang
tadi. Ia pun jatuh ke bawah, menyentuh lantai, dan pecah berkeping-keping. Aku
tersenyum puas, kemudian menatap ke arah sisa anak buah Allen, lalu mulai
membeku-pecah-kan mereka, masih dengan senyum puas itu. Salah, ini salah. Aku
tidak seharusnya melakukan yang seperti ini.
‘Memang harusnya apa? Langsung
menyerang inti masalah?’ aku tertegun dengan isi pikirianku.
Tapi itu benar juga. Langsung serang inti masalahnya. Allen. Aku pun menatap
Allen. Kali ini bukan senyum, melainkan amarah yang melandaku. Aku memunculkan sebuah
pedang dengan sihirku, dan membawa pedang itu sambil berjalan ke arah Allen.
Ya, kalau bukan karena orang ini, masalah tidak akan jadi serumit ini. Raja,
ratu, dan orang-orang kota tidak akan menghilang. Flame juga tidak harus
terluka. Aku harus menghukumnya.
“L-Lily—?
Ku-Kumohon, aku tidak bermaksud—,” kalimat Allen terhenti saat ia mencapai
tembok di dekat pintu ruangan. Aku langsung menggunakan kesempatan itu untuk
menusukkan pedang pada kakinya, kemudian tangannya. Ia berteriak kesakitan.
“Tidak
bermaksud apa? Tidak bermaksud menghilangkan penduduk? Tidak bermaksud melukai
Flame? Mustahil,” ucapku, kemudian menghunuskan pedangku lagi, kali ini tepat
di atas lambungnya. Ia berteriak kesakitan, kali ini lebih keras.
“Kalau
saja kau tetap menghilang—,” ucapku sambil mengangkat pedang tinggi-tinggi,
berniat menusukannya pada lehernya, mengakhiri semuanya. Namun, sebelum
pedangku sempat menyentuh lehernya, seseorang memelukku dari belakang dan
menutup mataku dengan tangannya.
“Sudahlah,”
suara Flame terdengar jelas di telingaku. “Jangan mengotori tanganmu untuk
orang sepertinya,” lanjutnya. Aku pun terdiam, dan kesempatan itu dipakai Allen
untuk kabur, bersama dengan beberapa anak buahnya yang tersisa. Beberapa detik
kemudian, aku merasa kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam pelukan Flame.
Aku tidak peduli soal itu sekarang. Yang jelas, tubuhku berat dan mataku
menuntut untuk dipejamkan. Maka, aku melakukannya. Semua menjadi gelap dalam
hitungan detik, dan secepat itu juga aku kehilangan kesadaranku.
Suara
cicitan burung membangunkanku pagi itu. Sesaat setelah terbangun, aku langsung
menyadari kalau aku ada di kamarku. Yang tidak kuketahui adalah kelanjutan dari
hari itu, dan sudah berapa lama aku tertidur. Apa tidak ada orang yang bisa
kutanyai?
Saat
sedang berpikir begitu, sambil berusaha bangun dari posisi tidurku, aku
mendapati Flame sedang tertidur di samping ranjangku dengan pulasnya. Tidak
tega untuk membangunkannya, aku akhirnya hanya mengelus kepalanya, kemudian
membisikkan sesuatu padanya. “Terima kasih, ya,” kemudian, aku beranjak dari
kamar tidurku, menuju ke bukit itu.
Bukit
itu di pagi hari ternyata sangatlah bagus. Pemandangan kota terlihat dengan
sangat jelas. Yah, sepertinya kota sudah kembali seperti semula sekarang,
syukurlah. Lebih baik kota yang ramai seperti itu daripada kota yang tidak
memiliki penduduk, ‘kan? Lagipula—
Seseorang
menutup mulutku dengan tangannya dari belakang, lalu meletakkan satu tangannya
yang lain, yang sedang memegang belati, di leherku. “Jumpa lagi, Lily,” suara
Allen.
“Terima
kasih karena sudah menggagalkan rencanaku seminggu lalu,” ucap Allen. Seminggu?
Selama itu kah aku tertidur? “Karena kau, aku jadi dimarahi olehnya. Cih,
menyebalkan. Maka dari itu, aku lebih baik membawa kepalamu padanya, daripada
ia harus menghukumku sore hari nanti,” lanjut Allen. Siapa ‘dia’ yang Allen
bilang?
“Ada
kata-kata terakhir?” tanya Allen padaku, sambil dengan hati-hati menarik
tangannya yang menutupi mulutku.
“Ya,
hati-hati belakangmu,” ucapku, tepat saat Flame muncul dan mengacungkan
pedangnya pada Allen.
“Lepaskan
dia sekarang,” kata Flame, masih mengacungkan pedangnya.
“Cih,”
Allen, dengan sedikit terpaksa, melepaskanku dan mendorongku ke arah Flame,
sambil mengarahkan belatinya kepada kami berdua.
“Reverse flow,” ucapku, dan belati yang
dipegang Allen hilang, beralih ke tanganku. “Masih mau bermain, Allen?”
lanjutku. Allen, mungkin menyadari bahwa ia akan kalah, segera mengambil
langkah seribu dari hadapan kami.
“Kalian
akan ingat ini,” kata Allen tepat sebelum ia menghilang. Suasana pun kembali
normal. Mungkin.
“Kenapa
kau sudah pergi keluar, sih? Kalau ada kejadian seperti tadi ‘kan susah,” Flame
berkata sambil menyarungkan kembali pedangnya.
“Tenang
saja, aku cukup kuat, kok, untuk masalah seperti ini,” balasku, sambil berjalan menjauhi Flame. Hanya dua langkah, sih, kemudian berhenti dan, masih sambil memunggunginya, aku berkata, “Lagipula,
setelah semua ini, memang kau masih mau dekat denganku?”
“Maksudmu?”
ucap Flame, seakan tidak mengerti.
“Maksudku,
aku sudah menyembunyikan banyak hal padamu. Aku sama sekali tidak bilang
tentang statusku sebagai putri di Moonlit, aku juga tidak pernah bilang kalau
aku bisa menggunakan sihir seperti waktu itu. Selain itu, kalau kau terus
bersamaku, pasti kau akan terancam bahaya, sama seperti tadi,” jelasku panjang
lebar.
“Itu,
sih, aku tidak peduli,” jawabnya singkat. Aku pun berbalik menghadapnya.
“Mana
bisa begi—,”ucapanku terhenti ketika ia menekankan bibirnya ke bibirku. Lembut,
dan sedikit canggung. Ia melepaskan ciumannya beberapa detik kemudian.
“Aku
tidak peduli dengan yang seperti itu. Aku menyukaimu, Lily Velvet. Kau, bukan
orang lain,” Flame berkata, sambil menatapku serius. Aku, bingung dengan
pernyataannya yang tiba-tiba, hanya menunduk dan berpikir sebentar, lalu
menatapnya lagi.
“A-Aku
juga menyukaimu, Flame. Kau, bukan Allen,” ucapku, awalnya dengan malu-malu,
namun kuakhiri dengan senyuman. Ia lalu menciumku lagi, kali ini sedikit lebih
lama.
Dan,
begitulah kisahku berakhir. Mungkin masih banyak yang belum jelas disini,
seperti bagaimana Allen bisa mendapatkan kawan seorang penyihir tingkat tinggi,
atau apa saja yang terjadi selama aku tertidur. Tapi, aku pasti akan
menyelidikinya mulai besok. Sekarang, aku hanya ingin menikmati saat ini,
saat-saatku bersama dengan Flame.
No comments:
Post a Comment