February 22, 2013

Moonlit's Story: The Flower and Her Feeling



Hari ini aku kembali pergi ke bukit itu, menemui orang itu. Namanya Flame Linerit. Aku bertemu dengannya di taman itu tiga bulan yang lalu, bertepatan dengan dua tahun hilangnya Allen Levithan dari kerajaan sihir Moonlit ini. Ia mirip dengan Allen, apalagi bagian kemunculan pertamanya di hidupku. Namun tentu saja lebih banyak bedanya. Aku lebih menyukai saat-saat bersama Flame, walaupun bersama Allen juga menyenangkan.

Sesampainya aku di bukit itu, aku melihat Flame, sedang duduk bersandar pada salah satu pohon yang ada disana. Tanpa menunggu apapun lagi, aku segera menghampirinya.

“Menunggu siapa, nih?” tanyaku iseng padanya. Ia pun berbalik dan menatapku.

“Memang siapa lagi yang biasa kutunggu?” ia malah balik bertanya kepadaku.

“Yah, siapa tau menunggu seseorang yang lain. Karina, mungkin?” ucapku spontan. Karina adalah nama orang—atau mana? Entahlah, apapun itu, wujudnya tetap manusia, ‘kan?— yang disukai Flame. Ia bercerita kepadaku saat aku menceritakan tentang Allen waktu itu. Berbeda denganku, Karina tidak meninggalkan Flame. Mereka memilih jalan masing-masing karena tahu apa yang terbaik untuk mereka, setidaknya begitulah kata Flame.

“Heh, mana mungkin,” Flame menjawab dengan singkat.

“Yaah, siapa tahu saja,” kataku iseng, lalu duduk di sebelahnya. Aku paling suka saat-saat seperti ini. Di bukit ini, dengan Flame –oke, dulu mungkin Allen—disampingku. Rasanya seperti mengurangi bebanku, dan, anehnya, aku merasa terlindungi dengan keberadaan Flame. Itulah yang membedakan Allen dengan Flame.

“Kau sampai jam berapa hari ini?” Flame tiba-tiba berkata kepadaku.

“Eh? Jam lima, mungkin? Kenapa?” aku balik bertanya kepadanya, bingung.Flame melirik ke arah menara jam tinggi yang terletak di pusat kota. Ya, dari puncak bukit ini memang terlihat seisi kota, dan jaraknya cukup dekat dengan istana Moonlit. Itulah salah satu alasan aku sering ke bukit ini sejak dulu.

“’Gak, kok.Besok— kau kemari lagi?” orang disampingku bertanya lagi.

“Tentu saja lah. Kau kenapa sih? Kepalamu terbentur tadi pagi?” aku benar-benar kebingungan sekarang. Tidak biasanya Flame seperti ini.

“Yah, mungkin saja,” jawabnya sambil tersenyum simpul. Aku pun mendekatkan diri padanya, lalu menatap matanya lekat-lekat.

“Kenapa, sih?” ulangku.

“Besok kalau kau kemari lagi, baru kukatakan,” ucapnya, kali ini sambil mengulurkan tangannya padaku. Spontan, aku menutup mataku. Saat aku membuka mata, aku merasakan tangannya di atas kepalaku, membelai rambutku dengan sedikit canggung, masih dengan senyum simpulnya. Aku pun menunduk, menyembunyikan wajahku yang memerah.

Tidak lama kemudian, terdengar dentangan bel sebanyak lima kali, menandakan bahwa sekarang sudah jam lima. Aku sedikit kaget mendengar bunyinya, tidak kusangka jam lima akan datang secepat itu. Masih tetap menunduk, aku pun berdiri.

“A-Aku harus pulang sekarang,” ucapku, kemudian membalikkan badan. “Besok aku pasti datang, kok. Jadi—,” aku melirik ke arahnya. “T-Tunggu aku ya,” lalu berlari pergi dari bukit itu.

Hari ini senang sekali. Flame mengelusku. Mengelusku! Aku pasti tidak akan bisa tidur malam ini. Kira-kira ia ingin membicarakan apa, ya, denganku? Jangan-jangan, ia mau menyatakan cinta padaku?

“Lily Velvet,” tiba-tiba terdengar suara seseorang saat aku sedang berjalan di kota. Aku pun menghentikan pikiran-pikiran anehku tadi, kemudian kembali berkonsentrasi dengan dunia nyata. Kalau tidak salah, suara tadi—

“Sepertinya kau sudah melupakan suaraku, ya? Padahal baru dua tahun kita tidak bertemu,” suara itu berkata lagi. Aku pun membalikkan badanku, dan mendapati sang pemilik suara, orang yang kukenal. Ya, tidak salah lagi. Itu adalah suara miliknya—Allen.

“Allen? Kenapa—,” aku tidak meneruskan kata-kataku, terlalu terkejut dengan kenyataan ini. Kenapa bisa orang yang selama ini kubutuhkan, baru datang saat aku sudah hampir disembuhkan oleh orang lain?

“Aku hanya ingin menawarkan sesuatu padamu, dan kupikir kau akan suka dengan hal ini,” ucapnya. “Kalau tidak salah, dulu kau bilang kau tidak menyukai kerajaan Moonlit, ‘kan?”

“Ya, dulu, sekali. Tapi sekarang tidak lagi,” semenjak aku bertemu Flame, tambahku dalam hati. Setidaknya, Flame selama ini sudah mengajarkanku tentang apa yang kupunya dan harus kujaga, termasuk kerajaan Moonlit ini, karena aku adalah putri di kerajaan ini.

“Benarkah?” Allen berjalan mendekat. “Tapi aku masih bisa merasakan kebencianmu pada kerajaan ini, pada raja dan ratu di negeri ini,” lanjutnya. Aku diam sebentar. Allen sepertinya sudah berubah sekarang.

“Sebenarnya apa maumu?” tanyaku singkat.

“Sudah kubilang sejak awal, aku ingin menawarkan sesuatu padamu,” ia sengaja memotong kalimatnya. “Aku ingin kau membantuku menguasai Moonlit, dan kau akan terbebas dari sumber masalahmu, kerajaan ini.”

“Aku sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Sudahlah, aku mau pulang,” aku lalu membalikkan badan dan mulai berjalan pergi.

“Kau yakin tidak akan menyesal?” Allen kembali berkata-kata.

“Aku justru akan lebih menyesal jika aku membantumu sekarang,” ucapku, kemudian cepat-cepat beranjak pergi dari tempat itu.

Saat aku sampai di kerajaan, ternyata kak Luna, kakakku dan juga putri sulung kerajaan Moonlit, sedang menungguku tepat di depan gerbang masuk. Aku pun segera menghampirinya.

“Ada apa, kak?” tanyaku, heran kenapa kak Luna menungguku.

“Sebenarnya, aku ingin kau menyelidiki sesuatu,” kata kak Luna tanpa basa-basi lagi. “Akhir-akhir ini ada gerakan sekelompok orang yang cukup meresahkan. Kabarnya, kelompok itu sudah mendapatkan pemimpin yang pantas bagi mereka, dan sepertinya akan merencanakan penyerangan ke kerajaan kita.”

“Baiklah, akan kuselidiki besok,” ucapku sekenanya, auto-pilot, pula. Aku pun masuk ke dalam kerajaan, menuju ke kamarku dan menghempaskan diri ke ranjang. Hari ini banyak yang terjadi, dan sepertinya besok akan menjadi hari yang melelahkan.




Keesokan harinya, aku pergi ke kota untuk menyelidiki masalah “gerakan sekelompok orang” tersebut. Namun saat aku sampai di kota, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Suasana kota hari ini sangatlah sepi, tidak ada orang satu pun di jalan. Padahal seharusnya kebalikan dari ini.

Saat aku berjalan ke arah menara jam, aku melihat ada seseorang di pinggir menara jam tersebut. Aku pun menghampiri orang itu.

“Kau tidak apa-apa?” ucapku langsung pada orang itu. Ia lalu melihat ke arahku.

“Apakah kau yang bernama Lily Velvet?” tanya orang itu padaku. Aku terkejut mendengarnya. Darimana ia tahu namaku? Lily Velvet ‘kan hanyalah nama karanganku. Yang tahu nama itu hanya dua orang. Kalau tidak Flame, pasti— Allen. Lagi.

“Begitulah,” kataku akhirnya.

“Ini,” orang tersebut memberikan sebuah kertas kepadaku. “Orang itu tadi menyuruhku memberikan ini padamu,” lanjutnya.

“Orang itu? Siapa? Allen?”

“Orang itu telah menghapus semua orang dengan sihir yang aneh. Aku juga pasti akan terhapus,” orang di depanku meracau.

“Eh?” adalah tanggapan satu-satunya yang kuungkapkan pada orang di depanku. Orang tersebut kemudian mendekat kepadaku.

“Tolong aku, kumohon, tolong aku. Nasibku akan sama seperti orang-orang lain. Kumo—,” kata-katanya terhenti. Ia terlihat seperti membeku, kemudian perlahan-lahan, mulai dari kaki, ia menghilang, seakan-akan dihapus oleh seseorang. Beberapa detik kemudian, orang tersebut hilang sepenuhnya
.
“Sihir kuno—?” aku bertanya pada diriku sendiri. Ya, satu-satunya sihir yang bisa sekejam itu adalah sihir kuno.  Dan setahuku, hanya penyihir kelas atas yang bisa menggunakan sihir seperti itu. Tapi jumlah penyihir kelas atas sangatlah sedikit, mengingat jumlah mereka di Moonlit hanyalah tiga orang. Saat sedang asyik berpikir, entah mengapa aku teringat dengan kertas yang diberikan oleh orang tadi. Aku pun mengambil kertas tersebut, kemudian membacanya.

Dear Lily Velvet, segeralah datang ke kerajaan jika ingin seluruh warga kotamu tersayang selamat. Allen Levithan.’

Tanpa membuang waktu lagi, aku segera berlari menuju ke kerajaan.  Mana mungkin ia bisa menguasai kerajaan seorang diri? Allen tidaklah sekuat itu, setidaknya tidak dua tahun yang lalu. Tapi, tidak mungkin sihir seseorang bisa berkembang sebegitu pesatnya hanya dalam waktu dua tahun. Kemudian aku teringat dengan tujuanku datang ke kota tadi. “Gerakan sekelompok orang”. Apa benar sekelompok ‘orang’? Bukan penyihir atau sejenisnya? Sepertinya aku akan tahu jawabannya saat aku sampai di kerajaan nanti.

Begitu sampai di kerajaan, aku segera menuju ke ruang tempat singgasana raja dan ratu berada. Sepanjang perjalanan, aku menyadari bahwa seluruh kerajaan dalam keadaan sepi. Barulah saat aku mendekati pintu, aku mendengar teriakan kak Luna.

“Kak Luna?!” teriakku saat membuka pintu menuju ruangan raja dan ratu. Aku segera mengerti kenapa kak Luna berteriak tadi. Disana, di depannya, raja dan ratu terlihat membatu dan terhapus, sama seperti orang di menara jam tadi.

“Wah, wah, akhirnya datang juga pahlawan kita,” terdengar suara Allen dari arah singgasana raja. Aku pun menengok ke arah asal suara, dan menatapnya tajam.

“Lagi-lagi kau,” ucapku dengan nada setengah marah.

“Ya, lagi-lagi aku, kau benar. Dalang di balik semua ini memang aku,” ia menunjuk dirinya sendiri, “dan anak buahku,” lanjutnya sambil menjentikkan jari. Beberapa orang muncul dari kegelapan. Mungkin sekitar dua puluh orang.

“Kau mau apa lagi? Bukankah Moonlit sudah jatuh ke tanganmu sekarang?” aku masih berkata dengan nada jengkel.

“Memangnya kau pikir orang bodoh mana yang puas hanya dengan satu kerajaan kecil begini? Tujuanku adalah menguasai dunia, Lily. Dan karena itulah aku membutuhkanmu,” jelas Allen.

“Dan tentu saja aku tidak mau,” ucapku menolaknya.

“Kalau begitu, kau akan menyaksikan kakak kesayanganmu itu menghilang, sama seperti warga Moonlit yang lain, raja, dan juga ratu,” Allen berusaha mengancam.

“Kau tidak akan melakukannya. Kalau memang akan, pasti sudah kaulakukan sejak tadi,” ucapku sedikit santai. Allen bukan orang yang suka menunda sesuatu, aku tahu itu.

“Ya, kau benar. Aku masih membutuhkan putri itu untuk tujuan lain,” ia mengakuinya. “Tapi berbeda lagi dengan orang yang satu itu,” Allen menunjuk ke belakangku. Spontan, aku melihat ke arah yang ia tunjuk tersebut, tepat saat pintu di sana terbuka. Ada tiga orang yang masuk kemari. Dua orang yang membawa seseorang yang kukenal. Flame.

“F-Flame—?” kataku, tertegun. Kenapa Allen bisa tahu tentang Flame? Kenapa ia menyeret Flame ke dalam masalah ini?

“Pertemuan yang mengharukan, ‘eh?” Allen berbisik tepat di telingaku. “Tapi tenang saja, akan kubuat ini jadi pertemuan terakhirmu dengannya,” lanjut Allen sambil berjalan menuju ke depan Flame.  Ia lalu mengulurkan tangannya pada salah satu anak buah yang berada di belakangnya. Anak buahnya pun menyerahkan sebuah cambuk kepadanya. Allen mengangkat benda itu tinggi-tinggi di depan Flame.

“Hen—!” aku tidak sempat berteriak sebelum benda itu mengenai tubuh Flame. Aku hanya bisa memalingkan wajah dan menutup mata. Sama sekali tidak terpikir olehku untuk menggunakan sihir. “Henti—kan,” ucapku lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan.

“Kumohon—,” terdengar bunyi cambukan beberapa kali lagi. “Hentikan—,” entah bagaimana, aku merasa sihirku mengalir naik ke seluruh tubuhku. Aku bisa merasakan mataku berubah warna menjadi merah terang—salah satu tanda bahwa aku bisa mengaktifkan sihirku— dan tanganku penuh dengan sihir.

“HENTIKAN!” teriakku kencang, lalu gerakan Allen terhenti secara tidak alami. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun tidak berhasil. “Patah,” ucapku lagi sambil melihat cambuk tersebut, dan benda itu terbelah menjadi dua. Awalnya, Allen terlihat bingung, namun beberapa detik kemudian ia melihat ke arahku, tersenyum jahat.

“Semuanya, buat formasi! Kita harus mendapatkan sihirnya,” Allen memerintah keduapuluh orang anak buahnya yang ada di ruangan itu, termasuk kedua orang yang menjaga Flame tadi. Mereka semua lalu mengelilingiku dan mengucapkan sebuah mantra yang aku tidak tahu. Seketika itu, aku merasa kepalaku pusing, seperti ada orang yang mengebornya dan memukulnya di saat yang bersamaan. Hentikan, aku tidak tahan dengan yang seperti ini!

“Agh,” tiba-tiba terdengar erangan salah seorang anak buah Allen, dan kepalaku tidak sakit lagi. Orang-orang itu pun berhenti mengucapkan mantra. Saat aku membuka mataku untuk melihat apa yang terjadi, aku mendapati Flame sedang berusaha mengacaukan formasi orang-orang tersebut dengan susah payah. Ia menebaskan salah satu pedang pajangan pada orang-orang itu, namun gerakannya tidak secepat yang biasanya. Mungkin karena itu juga, ia telat bereaksi saat salah satu anak buah Allen maju menyerangnya dari belakang.

“Beku,” ucapku sambil menatap orang itu. Dan, sama seperti cambuk tadi, orang tersebut pun berhenti bergerak dan benar-benar membeku. “Pecah,” ucapku lagi pada orang tadi. Ia pun jatuh ke bawah, menyentuh lantai, dan pecah berkeping-keping. Aku tersenyum puas, kemudian menatap ke arah sisa anak buah Allen, lalu mulai membeku-pecah-kan mereka, masih dengan senyum puas itu. Salah, ini salah. Aku tidak seharusnya melakukan yang seperti ini.

‘Memang harusnya apa? Langsung menyerang inti masalah?’ aku tertegun dengan isi pikirianku. Tapi itu benar juga. Langsung serang inti masalahnya. Allen. Aku pun menatap Allen. Kali ini bukan senyum, melainkan amarah yang melandaku. Aku memunculkan sebuah pedang dengan sihirku, dan membawa pedang itu sambil berjalan ke arah Allen. Ya, kalau bukan karena orang ini, masalah tidak akan jadi serumit ini. Raja, ratu, dan orang-orang kota tidak akan menghilang. Flame juga tidak harus terluka. Aku harus menghukumnya.

“L-Lily—? Ku-Kumohon, aku tidak bermaksud—,” kalimat Allen terhenti saat ia mencapai tembok di dekat pintu ruangan. Aku langsung menggunakan kesempatan itu untuk menusukkan pedang pada kakinya, kemudian tangannya. Ia berteriak kesakitan. 

“Tidak bermaksud apa? Tidak bermaksud menghilangkan penduduk? Tidak bermaksud melukai Flame? Mustahil,” ucapku, kemudian menghunuskan pedangku lagi, kali ini tepat di atas lambungnya. Ia berteriak kesakitan, kali ini lebih keras.

“Kalau saja kau tetap menghilang—,” ucapku sambil mengangkat pedang tinggi-tinggi, berniat menusukannya pada lehernya, mengakhiri semuanya. Namun, sebelum pedangku sempat menyentuh lehernya, seseorang memelukku dari belakang dan menutup mataku dengan tangannya.

“Sudahlah,” suara Flame terdengar jelas di telingaku. “Jangan mengotori tanganmu untuk orang sepertinya,” lanjutnya. Aku pun terdiam, dan kesempatan itu dipakai Allen untuk kabur, bersama dengan beberapa anak buahnya yang tersisa. Beberapa detik kemudian, aku merasa kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam pelukan Flame. Aku tidak peduli soal itu sekarang. Yang jelas, tubuhku berat dan mataku menuntut untuk dipejamkan. Maka, aku melakukannya. Semua menjadi gelap dalam hitungan detik, dan secepat itu juga aku kehilangan kesadaranku.




Suara cicitan burung membangunkanku pagi itu. Sesaat setelah terbangun, aku langsung menyadari kalau aku ada di kamarku. Yang tidak kuketahui adalah kelanjutan dari hari itu, dan sudah berapa lama aku tertidur. Apa tidak ada orang yang bisa kutanyai?

Saat sedang berpikir begitu, sambil berusaha bangun dari posisi tidurku, aku mendapati Flame sedang tertidur di samping ranjangku dengan pulasnya. Tidak tega untuk membangunkannya, aku akhirnya hanya mengelus kepalanya, kemudian membisikkan sesuatu padanya. “Terima kasih, ya,” kemudian, aku beranjak dari kamar tidurku, menuju ke bukit itu.

Bukit itu di pagi hari ternyata sangatlah bagus. Pemandangan kota terlihat dengan sangat jelas. Yah, sepertinya kota sudah kembali seperti semula sekarang, syukurlah. Lebih baik kota yang ramai seperti itu daripada kota yang tidak memiliki penduduk, ‘kan? Lagipula—

Seseorang menutup mulutku dengan tangannya dari belakang, lalu meletakkan satu tangannya yang lain, yang sedang memegang belati, di leherku. “Jumpa lagi, Lily,” suara Allen.

“Terima kasih karena sudah menggagalkan rencanaku seminggu lalu,” ucap Allen. Seminggu? Selama itu kah aku tertidur? “Karena kau, aku jadi dimarahi olehnya. Cih, menyebalkan. Maka dari itu, aku lebih baik membawa kepalamu padanya, daripada ia harus menghukumku sore hari nanti,” lanjut Allen. Siapa ‘dia’ yang Allen bilang?

“Ada kata-kata terakhir?” tanya Allen padaku, sambil dengan hati-hati menarik tangannya yang menutupi mulutku.

“Ya, hati-hati belakangmu,” ucapku, tepat saat Flame muncul dan mengacungkan pedangnya pada Allen.

“Lepaskan dia sekarang,” kata Flame, masih mengacungkan pedangnya.

“Cih,” Allen, dengan sedikit terpaksa, melepaskanku dan mendorongku ke arah Flame, sambil mengarahkan belatinya kepada kami berdua.

Reverse flow,” ucapku, dan belati yang dipegang Allen hilang, beralih ke tanganku. “Masih mau bermain, Allen?” lanjutku. Allen, mungkin menyadari bahwa ia akan kalah, segera mengambil langkah seribu dari hadapan kami.

“Kalian akan ingat ini,” kata Allen tepat sebelum ia menghilang. Suasana pun kembali normal. Mungkin.

“Kenapa kau sudah pergi keluar, sih? Kalau ada kejadian seperti tadi ‘kan susah,” Flame berkata sambil menyarungkan kembali pedangnya.

“Tenang saja, aku cukup kuat, kok, untuk masalah seperti ini,” balasku, sambil berjalan menjauhi Flame. Hanya dua langkah, sih, kemudian berhenti dan, masih sambil memunggunginya, aku berkata, “Lagipula, setelah semua ini, memang kau masih mau dekat denganku?”

“Maksudmu?” ucap Flame, seakan tidak mengerti.

“Maksudku, aku sudah menyembunyikan banyak hal padamu. Aku sama sekali tidak bilang tentang statusku sebagai putri di Moonlit, aku juga tidak pernah bilang kalau aku bisa menggunakan sihir seperti waktu itu. Selain itu, kalau kau terus bersamaku, pasti kau akan terancam bahaya, sama seperti tadi,” jelasku panjang lebar.

“Itu, sih, aku tidak peduli,” jawabnya singkat. Aku pun berbalik menghadapnya.

“Mana bisa begi—,”ucapanku terhenti ketika ia menekankan bibirnya ke bibirku. Lembut, dan sedikit canggung. Ia melepaskan ciumannya beberapa detik kemudian.

“Aku tidak peduli dengan yang seperti itu. Aku menyukaimu, Lily Velvet. Kau, bukan orang lain,” Flame berkata, sambil menatapku serius. Aku, bingung dengan pernyataannya yang tiba-tiba, hanya menunduk dan berpikir sebentar, lalu menatapnya lagi.

“A-Aku juga menyukaimu, Flame. Kau, bukan Allen,” ucapku, awalnya dengan malu-malu, namun kuakhiri dengan senyuman. Ia lalu menciumku lagi, kali ini sedikit lebih lama.

Dan, begitulah kisahku berakhir. Mungkin masih banyak yang belum jelas disini, seperti bagaimana Allen bisa mendapatkan kawan seorang penyihir tingkat tinggi, atau apa saja yang terjadi selama aku tertidur. Tapi, aku pasti akan menyelidikinya mulai besok. Sekarang, aku hanya ingin menikmati saat ini, saat-saatku bersama dengan Flame.

No comments:

Post a Comment