Di dunia tempat tinggalku,
ada berbagai macam jenis penduduk.
Ada penyihir, manusia
serigala, vampir, peri, dan beberapa
makhluk lainnya —termasuk
manusia biasa, yang tidak mempunyai
kekuatan apapun. Di sini, penduduk
berusia 12 tahun ke atas harus bersekolah
di sekolah khusus.
Karena jenis kami yang beragam,
maka sekolah dibagi
menjadi beberapa kelas,
sesuai dengan ras kami masing-masing. Para penyihir masuk ke kelas sihir, para manusia serigala
ke kelas serigala,
para vampir ke kelas vampir,
para peri ke kelas peri, dan para manusia biasa ke kelas manusia. Namun,
ada satu kelas yang merupakan
kelas khusus, yaitu kelas bagi para darah campuran —ras-ras
istimewa yang muncul
akibat pernikahan antar ras yang
berbeda. Jumlah darah campuran dalam
lingkungan sekolah biasanya
tidak banyak, hanya sekitar sepuluh,
atau paling banyak
dua puluh orang.
Dan aku merupakan
salah satunya.
Namaku Aria Hassel. Aku merupakan salah satu dari orang-orang berdarah
campuran. Ibuku adalah
seorang penyihir, dan ayahku merupakan
seorang demon –ras lain yang ada di duniaku.
Tahun ini merupakan
tahun ketigaku di sekolah, tentunya
di kelas khusus.
Kelas khusus di tahun ajaranku
benar-benar sepi. Hanya terdapat sembilan
murid di kelas,
yang kebanyakan merupakan
campuran penyihir karena
memang jumlah penyihir
yang ada lebih besar dibandingkan
jumlah ras lain.
“Sedang memikirkan apa?” tiba-tiba terdengar
suara seseorang dari belakangku. Aku lalu membalikkan
tubuhku, dan mendapati
Ralph sedang berdiri
sekitar satu setengah
meter jauhnya dariku.
Ralph Fuentes adalah
salah satu sahabatku.
Dan, ya, dia juga merupakan
darah campuran antara
penyihir dengan vampir.
Seperti tahu aku tidak akan menjawab
apapun, ia berjalan
ke arahku dan duduk di sebelahku. “Lorainne,
ya?” ucapnya lagi, mengingatkanku pada peristiwa yang baru saja kualami. Pagi tadi, sahabat
terbaikku, Lorainne Sanders
–biasa kupanggil Ruri, menghindariku dan menyebutku pembohong.
Memang, sih, rasanya
bukan hanya kemarin
ia menghindariku. Sudah beberapa hari ini dia selalu sendiri
dan tidak pernah
menghampiriku.
“Kira-kira, kenapa
dia bersikap seperti
itu, ya?” tanyaku
beberapa saat kemudian.
Aku merasa tidak melakukan apapun
yang bisa membuatnya
marah ataupun benci padaku.
“Entahlah. Mungkin
dia menjauhimu karena
merasa diabaikan,” kata-kata
itu membuatku sedikit
kaget. Diabaikan?
“Tapi, kalau memang benar seperti itu, kenapa ia tidak memberitahuku?” ucapanku
terdengar sedikit lebih pelan daripada
biasanya. Aku tidak mengerti ada apa dengan
Lorainne Sanders yang kukenal. Setahuku,
Ruri adalah orang yang selalu
mengatakan apa yang ada di pikirannya. Tapi, kenapa kali ini ia sama sekali
tidak berkata apapun
padaku?
“Mana kutahu,
aku ‘kan tidak bisa meramal,”
Ralph berkata dengan
santai, sementara aku menatapnya tajam,
seakan berkata ‘jika kau tidak tahu, untuk apa bilang?!’.
“Akan lebih cepat jika kau bertanya langsung
padanya kan?” tambahnya.
“Bagaimana kalau dia tidak mau menjawabnya?”
aku kembali menunduk,
dan kenangan Ruri menghindariku kembali
terulang dalam pikiranku.
“Setidaknya kau sudah mencoba,
kan? Daripada tidak melakukan apapun?”
mendengarnya, aku berpikir
sebentar.
“Betul juga, ya,” ucapku
beberapa saat kemudian,
lalu bangkit berdiri.
“Kau mau bantu aku cari Ruri?” tanyaku
pada Ralph. Ia tersenyum simpel
sambil menjawab “boleh”,
lalu kami pun beranjak dari taman tempat
kami berada, menuju
ke dalam bangunan
sekolah.
-The Lost Bond-
Aku merasa
ada sesuatu yang janggal ketika
memasuki area sekolah.
Padahal sekarang seharusnya
jam istirahat, tetapi
tidak ada satu pun murid yang bermain
di koridor. Biasanya,
saat jam istirahat
hampir semua murid ada di koridor, entah untuk mengobrol,
bercanda, atau hanya sekedar lewat saja. Tapi koridor sekolah
yang biasanya ramai itu sekarang
sangat sepi sehingga
terlihat tidak wajar.
Saat aku sedang
sibuk berpikir, terlihat
seorang murid sedang
berlari ke arahku
dengan kecepatan kuda, karena memang
ia adalah manusia
kuda—Centaurus. Semakin
ia mendekat kepadaku,
semakin aku menyadari
siapa orang itu. Rambut pirang,
mata kuning menyala.
Itu—
“Will? Kenapa
tergesa-gesa sekali?” tanyaku
ketika centaurus muda itu berhenti di depanku dan Ralph.
“Aria, kau harus membantuku!
Semua makhluk di sekolah ini sudah dikendalikan,
sekarang mereka sedang
mengejarku!” Will berkata
dengan cepat, hingga
aku hampir tidak bisa menangkap
maksud dari kata-katanya
barusan.
“Dikendalikan? Oleh siapa?” ucapku
setelah mencerna baik-baik
kalimat yang diungkapkan
teman sekolahku itu.
“Itu—” terdengar
suara ledakan yang besar, cukup besar hingga
dapat menghentikan pembicaraan
kami.
“Apa—itu?” ucapku
tanpa sadar, sementara
terdengar suara ledakan
lain. Dari suaranya,
bisa kusimpulkan bahwa ledakan-ledakan itu mengarah ke koridor sekolah,
yang merupakan tempatku
berdiri sekarang ini.
“Sihir. Sepertinya
ada yang berniat
menerobos sampai ke sini,” Ralph tiba-tiba berbicara,
membuatku menoleh padanya.
“Kalau begitu,
kita tahan saja,”
aku mengusulkan dengan
cepat, namun Ralph menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Kita tidak tahu berapa
jumlah musuh. Akan lebih baik jika sekarang
kita mundur dan mengatur strategi,”
ucapnya.
“Tapi aku pasti bisa menahannya, berapa
pun jumlahnya!” kataku,
berusaha mendebat.
“Kalau mereka
yang sedang menerobos
itu seluruh makhluk
yang ada di sekolah ini, kau yakin bisa bertahan?!”
nada bicara Ralph meninggi saat mengatakan hal ini. Aku terdiam, tidak berani untuk berkata-kata lagi. Sadar sudah membuatku takut,
Ralph mendesah. “Kita hanya mundur
untuk sementara, Aria, bukan untuk lari dari sini.” Aku hanya mengangguk
pasrah, lalu berbalik
mencari Will, namun tidak menemukan
sosok centaurus itu. Kucoba
memanggilnya, tapi tidak ada jawaban
sama sekali. Hanya terdengar suara ledakan yang semakin mendekat.
“Aria?” Ralph memanggilku. Sepertinya
ia belum sadar bahwa Will menghilang.
“Will hilang.
Aku akan mencarinya
dulu,” ucapku sambil
mulai menyusuri koridor
sekolah lebih jauh. “Kau pergi duluan saja,”
lanjutku pada Ralph yang sekarang
sudah tertinggal di belakang. Dua langkah setelah
itu, tiba-tiba Ralph berteriak padaku,
“Aria, bahaya!” Merasa
dipanggil, aku pun menengok ke belakang, tepat saat sebuah
ledakan terdengar di sampingku. Untungnya,
Ralph mendorongku ke belakang sesaat
sebelum serpihan ledakan
tersebut mengenaiku.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Ralph, yang hanya kujawab
dengan anggukkan kecil.
Kami pun bangkit
berdiri, dan mendapati
sekumpulan makhluk mulai bermunculan dari lubang yang dibuat oleh ledakan tadi.
“Sepertinya kita sudah tidak bisa melarikan
diri lagi, nih,” ucapku melihat
kumpulan makhluk itu. Jumlah mereka
sepertinya cukup untuk membangun sebuah
desa baru.
“Kau benar,”
Ralph mengangkat tangannya
dan mengucapkan sebuah
mantra sihir. “Gerrida
gladio,” sebuah
pedang muncul di depannya. Bilah pedang itu terbuat dari es, sedangkan
gagangnya terbuat perunggu
yang mengkilap. Ralph mengambil pedang
itu dengan tangan
kanannya, dan bergumam,
“Selesaikan dalam lima menit.”
“Mengerti, sir!” balasku riang,
lalu mengucapkan sebuah
mantra, “Cristallum lacrima!” Muncullah
tombak-tombak kristal yang kemudian meluncur
pada makhluk-makhluk di depanku. Tombak-tombak
tersebut sukses mengenai
titik vital lawan,
walaupun ada beberapa
yang meleset dari sasaran.
“Jangan, Aria!”
tiba-tiba Ralph berteriak.
“Sihir itu membutuhkan
banyak tenaga. Jika kau menggunakannya sekarang,
tenagamu akan terkuras
habis!” jelasnya.
“Uuh, merepotkan
saja!” keluhku sambil
membatalkan sihir itu, dan mengucapkan
sihir yang lain. “Ventus uspavanka,” muncul
sebuah ular transparan
yang cukup besar.
Ular itu mengelilingi
kumpulan makhluk di depanku, dan entah bagaimana,
makhluk-makhluk tersebut mulai tertidur satu persatu.
“Lihat, aku benar-benar bisa menahan mereka
sendiri, ‘kan?” ucapku,
tiba-tiba teringat pada pertengkaran kami beberapa saat lalu.
“Dasar pendendam,”
Ralph menanggapi dengan
dingin, sambil membatalkan
sihir pedang esnya.
“Biarin,” aku membalas sambil
menjulurkan lidahku padanya.
Ralph hanya menghela
nafas.
“Aria? Ralph?
Kalian masih disini?”
tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tadi sempat
menghilang, Will.
“Will? Kau darimana saja, sih? Kami mencarimu, tahu!”
protesku pada Will saat ia berjalan mendekati
kami.
“Maaf, maaf. Tadi aku mengelilingi sekolah
dulu, mencari tahu keberadaan orang yang bisa mengendalikan makhluk-makhluk ini,” ucap Will. Ia menjelaskan
bahwa yang mengendalikan
seisi sekolah sebenarnya
adalah seorang manusia,
yang sekarang berada
di aula sekolah.
Will juga berkata
bahwa manusia itu memiliki aura yang berbeda
dengan manusia lainnya,
dan bahwa di aula juga terdapat makhluk-makluk yang dikendalikan dan jumlahnya lebih kurang dua kali lipat dari mereka
yang menerobos kemari.
“Laporan selesai,” Will mengakhiri ceritanya
dengan sedikit bercanda,
namun tidak ada satu pun dari kami yang tertawa.
“Emm.. Kalian
tidak mau berkomentar
apapun?” ucap Will berusaha mencairkan
keheningan yang terjadi
selama beberapa detik.
“Entahlah, aku tidak yakin ingin bicara
apa,” balasku jujur.
“Kupikir, sih, kita langsung saja kesana, membereskan
dalang masalah ini, dan masalah
pun selesai,” lanjutku.
“Bukannya yang seperti itu bahaya, ya?” Will mengeluarkan
pendapatnya. “Bukankah lebih baik membuat
rencana dulu? Lagipula,
tidak ada tanda-tanda
makhluk apapun di dekat sini. Jadi sekarang
saat yang tepat untuk membuat
rencana brilian.”
“Menurutku sih, sama saja. Kalau membuat
rencana dulu, bisa-bisa
manusia itu sudah menguasai setengah
negeri ini,” ucapku,
membayangkan semua makhluk
di kota berjalan
seperti zombie mengelilingiku, berusaha
menjadikanku sama seperti
mereka. Aku bergidik
ngeri. “Aku percaya
aku pasti bisa mengalahkan mereka
semua tanpa kehabisan
tenaga,” tambahku, ingin segera pergi membereskan masalah
ini.
“Tapi—,” Will berkata sambil
melirik pada Ralph.
“Katakan sesuatu, dong, Ralph!!” pintanya.
“Aria benar.
Kita harus segera
ke aula dan membereskan semua ini, sebelum
masalahnya bertambah rumit,”
Ralph mulai berbicara.
Mendengarnya, aku langsung
bergembira, sedangkan Will memasang wajah terpuruk. “Hanya
saja—,” Ralph melanjutkan
kata-katanya sambil menatapku
yang kini melihatnya
dengan bingung. “Kau harus berjanji
tidak akan menggunakan
tenagamu secara berlebihan,”
ucapnya padaku. Aku menyetujuinya dengan
mudah, dan kami pun mulai melangkahkan kaki menuju aula sekolah.
-The Lost Bond-
Lima belas menit kemudian,
kami sampai di depan pintu menuju aula sekolah. Selama
perjalanan menuju kemari,
tidak ada satu makhluk pun yang menghalangi
kami. Aneh, memang.
Tapi itu lebih baik daripada
harus menyia-nyiakan tenaga
untuk melawan mereka.
“Sudah siap?”
Will bertanya padaku
dan Ralph, yang kujawab dengan
anggukan. “Kubuka, ya,” lanjutnya. Will memegang gagang
pintu di depan kami dan pintu pun terbuka. Berbagai
macam makhluk berkumpul
di bagian kiri dan kanan aula. Anehnya,
di bagian tengah
aula hanya ada satu makhluk.
Sepertinya ialah manusia
yang merupakan akar dari semua masalah ini. Seperti kata Will, manusia
itu memiliki aura yang berbeda
dengan manusia lain yang pernah
kutemui.
“Akhirnya kalian
datang juga,”ucap manusia
itu. Ia lalu mulai berjalan
ke arah kami, sementara Ralph maju selangkah
ke depanku. Melihat
hal ini, manusia
itu tersenyum. Senyum
yang terkesan licik.
Ia berhenti berjalan
tepat di depan Ralph, kemudian
menunduk. “Namaku Levister Douglas. Kau
bisa memanggilku Levi. Salam kenal,
Aria Hassel,” ucapnya
sambil menatapku.
“Darimana kau tahu namaku?”
aku mencoba untuk terdengar wajar saat mengatakannya, padahal
sebenarnya aku cukup kaget ia tahu namaku.
“Tentu saja aku tahu. Kau satu-satunya
setengah demon yang ada di seluruh
negeri ini. Mencari
kawan yang kuat adalah hal wajib untuk menaklukan dunia,
kan?” Levi menjelaskan.
“Mencari kawan?
Menaklukan dunia?” aku mengulang kata-katanya.
“Apa yang membuatmu
berpikir aku akan bergabung denganmu?”
lanjutku. “Aku sama sekali tidak ingin mengkhianati
negeri tempat tinggalku.”
“Benarkah?” Levi lagi-lagi tersenyum
licik. “Kalau begitu,
aku harus menyingkirkanmu disini,”
ucapnya, lalu dengan
cepat bergerak ke depanku sambil
mengarahkan mata pisau –yang entah sejak kapan ia genggam—
padaku. Aku tidak bergerak untuk menghindar, karena
Ralph menghentikan serangan
itu dengan menggenggam
tangan Levi. Memang,
para vampir memiliki
refleks yang cepat dan kekuatan
yang luar biasa.
Walaupun Ralph hanya setengah vampir,
tetap saja ia memiliki refleks
dan kekuatan diatas
makhluk lain di sekolah ini.
Namun, tiba-tiba
Levi bersiul pelan,
menyebabkan sesuatu menyerang
dari belakangku. Refleks,
aku bergeser ke samping untuk menghindari serangan
itu, begitu juga dengan Ralph.
Levi mengambil kesempatan
itu untuk melepaskan
diri dari cengkeraman
Ralph, lalu mundur
kembali ke tempat
ia berdiri sebelumnya.
Di sebelahnya, terdapat
sesosok centaurus yang baru saja menyerang
kami.
“Will? Kenapa—,”
aku tidak meneruskan
kalimatku. Dilihat dari pandangan matanya
yang kosong, Will pasti sudah dikendalikan juga oleh Levi. Aku lalu menoleh pada Levi, dan menggeram marah padanya sekaligus
bersiap untuk menyerangnya.
“Kau—”
“Lawanmu bukan aku, Aria, melainkan dia,” Levi melambaikan
tangan ke belakangnya,
dan muncullah satu sosok yang sudah kukenal
dengan baik. Sosok seorang makhluk
berambut biru panjang
dan bersayap biru muda. “Dialah
lawanmu, Lorainne Sanders,”
lanjut Levi setelah
peri itu berdiri
di sampingnya.
“Ruri?” ucapku
tidak percaya. “Ruri,
kau tidak akan melawanku, kan?” aku mulai melangkah menuju
Ruri, namun Ralph menghentikan dan menahanku. “Ruri!”
aku memanggilnya sekali
lagi, namun ia sama sekali
tidak bereaksi. “Kau sahabatku, ‘kan?”
setelah aku berkata
seperti itu, Ruri menatapku tajam.
“Aku tidak pernah bersahabat
dengan pembohong,” ucapnya
dingin. “Argentum gladio,” Ruri mengucapkan sebuah
mantra dan memunculkan
sebuah pedang perak di tangannya,
lalu mulai menyerangku.
Aku menghindar dan memunculkan sebuah
perisai. “Armaria!”
“Aria!” Ralph hendak berlari
kepadaku, sebelum Will dan makhluk-makhluk yang telah dikendalikan
menyerangnya beramai-ramai. “Gerrida
gladio!” teriak
Ralph cepat, memunculkan
kembali pedang es yang sebelumnya
ia gunakan.
“Sebaiknya kau mengkhawatirkan dirimu
sendiri, Ralph Fuentes,” ucap Levi yang kini sedang
memperhatikan kami dari jauh. Ralph
menatap Levi dengan tajam,
sebelum kembali fokus pada makhluk-makhluk didepannya.
Sementara itu, Ruri masih terus menyerangku,
dan aku masih terus menahan
serangannya dengan perisaiku.
“Ruri, kenapa kau bergabung dengan
mereka? Kita sahabat,
‘kan?” ucapku mencoba
menyadarkan peri di depanku. Bukannya
berhenti, Ruri justru
menatapku tajam dan menyerang perisaiku
yang sudah mulai retak.
“Sahabat? Kau bilang kita sahabat?!” Ruri setengah teriak
saat mengatakannya. Ia menyerangku dengan
tenaga penuh, memecahkan
perisai yang tadi kubuat, lalu mendorongku dan menancapkan pedang
peraknya tepat di sebelah wajahku.
“Mana ada sahabat
yang tidak memperdulikan
orang yang ia anggap berharga!
Mana ada sahabat
yang sibuk berbicara
dengan orang lain tanpa memperdulikan
sahabatnya! Mana ada sahabat yang berbohong! Mana ada—” ucapan
Ruri terhenti sebentar.
“Akhir-akhir ini kau selalu bersama
Ralph! Padahal dulu kau bilang
kau akan selalu
bersama denganku! Kau lupa? Aku— kalau kau bersama Ralph terus, siapa yang akan ada bersamaku?!”
Ruri berhenti berbicara.
Ucapannya kini terganti
dengan air mata.
“Ruri—,” aku memanggil namanya.
“Terima kasih sudah jujur padaku.
Dan lagi, maaf, ya, aku tidak menyadari
perasaanmu. Walau begitu,
walau kau tidak menganggapku sahabatmu—,”
aku mengambil jeda sebentar. “—tapi
itu tidak akan merubah kenyataan
bahwa kaulah sahabatku
yang paling berharga.
Itu tidak akan merubah kenyataan
bahwa Lorraine Sanderslah
yang pertama menyapaku
saat aku masih menjadi murid baru di sekolah ini.” Selesai mengucapkan
kata-kata itu, aku tersenyum pada Ruri yang melihatku dengan
pandangan tertegun. Ia lalu ikut tersenyum kecil.
“Coba kau bilang seperti
itu sejak dulu,”
ucap Ruri sambil
menyandarkan kepalanya di pundakku. “Maaf ya, Aria,”
bisiknya dan gerakannya
pun berhenti, tergantikan
dengan suara nafas yang pelan dan teratur.
Tertidur, sepertinya. Aku menarik nafas lega. Akhirnya
masalahku dengan sahabat
terbaikku selesai.
“Tidak berguna,”
tiba-tiba terdengar suara Levi dari kejauhan saat aku sedang
membaringkan Ruri dan hendak berdiri.
“Padahal sudah kuberi
kesempatan untuk balas dendam,” lanjutnya.
Mendengarnya, aku langsung
menatap Levi dengan
tajam.
“Kau—,” aku menggeram padanya.
Amarahku sudah tidak terbendung, tenagaku
seperti meluap keluar
dan mataku terasa
sakit.
“Ah, mau melepas segel rupanya,” kata Levi. “Tapi kau tidak mungkin menang
melawanku, selama ada ini,” lanjutnya
sambil memamerkan sebuah
kalung berbentuk sayap yang ia pakai. Aku sama sekali
tidak memperdulikan kata-katanya
yang menurutku tidak penting, dan langsung menyerangnya.
“Cristallum lacrima!” Seperti
sebelumnya, aku memunculkan
tombak-tombak Kristal, namun kali ini lebih besar dan lebih banyak. Saat kukira serangan
itu mengenai Levi, ternyata tombak-tombak
itu malah berbalik
padaku. Aku segera
menahannya dengan perisai
yang kumunculkan dalam hitungan detik.
“Sepertinya kau tidak mendengarkan
perkataan orang lain, ya,” sindir
Levi yang sekarang
telah dikelilingi cahaya.
“Mungkin segel itu—,”
ia menunjuk mataku
yang sekarang berwarna
merah, “—mengurangi kemampuan
berpikirmu.”
“Batu demon,
ya?” ucapku dengan
nada agak menantang.
“Darimana kau dapatkan
itu?”
“Segel itu benar-benar mengurangi
kemampuan berpikirmu, ternyata,”
Levi kembali menyindirku.
“Tentu saja aku mendapatkannya dari seorang demon, kan?”
“Begitu,” ucapku
santai. “Yah, aku bisa menyelidikinya nanti,”
lanjutku, lalu mulai merapal mantra
lain sambil bergerak
ke arah Levi, “ventus—”
Levi sepertinya terlalu
serius memperhatikan mantra
apa yang akan kukeluarkan, sehingga
aku berhenti merapalkan
mantra itu, dan malah mendorongnya
hingga kalung yang dipakainya terlempar
cukup jauh. Kami berdua jatuh.
Saat itu juga, makhluk-makhluk yang tadinya dikendalikan,
satu per satu jatuh tidak sadarkan diri. Sepertinya batu demon
yang
dipakai Levilah yang membuat makhluk-makhluk itu dikendalikan. Aku melihat sekelilingku,
hanya Ralph yang masih berdiri,
walau dengan sedikit
dipaksakan. Sepertinya ia terlalu lelah.
“Jadi, sekarang
game over, ‘kan?”
tanyaku pada Levi yang masih berada di bawahku. Ekspresinya
menandakan bahwa ia terkejut dan juga marah.
“Belum. Mana mungkin aku kalah oleh setengah demon sepertimu?!
Padahal kau ditinggalkan
orangtuamu setelah kekuatan
demon-mu bangkit!”
Aku tertegun begitu
mendengarnya. Memori-memori tentang
kejadian itu tiba-tiba
mengalir dalam pikiranku.
Wajah ibu yang terlihat sedih,
suara isak tangis,
semua kembali dalam pikiranku, seakan
baru saja terjadi
beberapa saat lalu.
“Hentikan,” bisikku
pelan. Entah kenapa,
aku tidak mampu bersuara keras.
Memori-memori itu masih terus menghantuiku.
“Kenapa? Jadi teringat kalau kau tidak disayangi? Yah, memang sulit menjadi orang yang paling
kuat sekaligus paling
tidak diinginkan,” Setelah
kalimat itu selesai,
tiba-tiba kekuatanku meluap
keluar. Aku menatap
Levi marah, mengangkat
tangan kananku, lalu mengucapkan sebuah
mantra kuno yang aku sendiri
tidak tahu apa kegunaannya. Seketika
itu, muncul sebuah
bola api yang cukup besar di tangan
kananku. Tanpa pikir panjang, aku pun mengarahkan
tanganku pada Levi.
“Aria!” Gerakanku
terhenti. Bukan hanya karena seseorang
yang kukenal meneriakkan
namaku, tetapi juga karena orang itu menahan
tangan kananku. Aku sama sekali
tidak memberontak, malah terlihat seperti
orang yang terkejut
akan tindakan yang hampir saja akan dilakukannya—
dan memang begitulah
keadaanku sekarang. Orang itu, Ralph,
melepas tanganku, kemudian
merapalkan sebuah mantra
penidur sedangkan aku bangkit berdiri
dan berjalan untuk mengambil batu demon Levi yang tadi terjatuh. Suasana
menjadi hening sekarang.
“Kau pasti kaget, ya,” ucapku setelah
beberapa saat. “Dulu aku pernah
hampir membakar sebuah
desa. Kejadiannya sama seperti sekarang.
Aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku,
apalagi saat itu aku sama sekali tidak tahu bahwa aku setengah
demon. Akhirnya,
ayahku yang merupakan
demon sepenuhnya
menyegel kekuatanku dan meletakkan segel itu di mataku. Lalu, ia menyuruhku
masuk sekolah ini agar aku bisa belajar
menggunakan kekuatanku dengan
benar. Tapi, aku malah—,” aku melihat ke arah Levi yang sekarang
sedang tidak sadarkan
diri.
“Setidaknya kau dapat mengendalikan
dirimu kali ini,” Ralph berkata
sambil melangkahkan kakinya
menuju tempatku berada.
“Tapi itu karena ada kau. Kalau tadi kau tidak menghentikanku—,” lagi-lagi
aku menghentikan perkataanku,
tidak menemukan kata yang tepat untuk meneruskan
kalimat itu.
“Tanpa aku pun kau pasti dapat mengendalikan diri,”
ucap Ralph. Ia kini sudah berada tepat di depanku.
“Aria Hassel yang kukenal bukanlah
orang yang bisa melukai orang lain dengan
mudah,” lanjutnya.
“Yaah, mungkin
kau benar,” balasku
seadanya.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan
dengan itu?” Ralph berkata sambil
menunjuk batu demon yang sedang
kupegang.
“Aku akan menyelidikinya dan menemukan orang dibalik semua ini. Aku pasti akan menemukan orang itu, dan akan membuatnya
menyesal telah berurusan
denganku,” ucapku mantap.
“Kalau begitu
aku juga akan menyelidikinya,” kata-kata
Ralph membuatku sedikit
terkejut.
“Tapi— Itu mungkin saja berbahaya, lho!”
“Justru karena
itu aku ikut menyelidikinya. Kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa melindungimu?” ujar Ralph asal. Mendengarnya, aku merasa pipiku
memerah karena malu.
“Baiklah kalau kau memaksa,”
aku berkata sambil
memalingkan wajahku. “Tapi sekarang kita bereskan dulu yang ada disini,” lanjutku.
Kami lalu mulai membangunkan orang-orang
yang ada disana
satu per satu. Saat aku membangunkan Ruri, ia langsung
minta maaf padaku
dan tentu saja kumaafkan. Memang
sahabat seharusnya seperti
itu, ‘kan?
Dengan begitu,
berakhirlah satu hari yang melelahkan
ini. Memang, pertempuranku
belum selesai. Aku masih belum mengetahui siapa yang memberikan
Levi batu demon dan siapa sebenarnya yang berada dibalik
semua masalah hari ini. Namun,
hal itu bisa kuselidiki besok.
Sekarang ini yang kubutuhkan hanya satu, istirahat.
-END-
No comments:
Post a Comment